<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584</id><updated>2012-01-29T11:11:45.399-08:00</updated><category term='Targhib wa Tarhib'/><category term='Definisi'/><category term='Judge a Book'/><category term='Ilmiah'/><category term='Curhat'/><title type='text'>Catatan Harian Saja</title><subtitle type='html'>Sekedar Menulis Catatan Harian</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>54</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-2677311630347880325</id><published>2012-01-29T11:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T11:11:45.409-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Manhaju al-’I’tidal as-Su’udy (Saudi Moderation Progress)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;“Berlaku adillah wahai Rasulu ‘l-llah!”&lt;/em&gt;,protesnya ,inilah kritik seseorang yang dikenal sebagai &amp;nbsp;Dzul khuwaisiroh terhadap nabi, dan sejarah merekam peristiwa ini sebagai&amp;nbsp; &lt;em&gt;‘asbab ‘l-wurud’&lt;/em&gt; – sebab historis datangnya Hadith- terhadap hadist yang kerap digunakan tuk men’jewer’ Khawarij, :&lt;em&gt;”Dia mempunyai teman – teman yang salah seorang antara kamu akan diremehkan sholatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka.Mereka membaca al –quraan tapi tidak melebihi kerongkongan mereka, mereka terlepas dari &amp;nbsp;Islam sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya”.(HR. Bukhari 3610)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pemimpin yang lepas dari kritik,bahkan sebaik-baiknya manusia nan adil muhammad shalla ‘l-llahu alaihi wa sallam tak bebas darinya.Kritik sejatinya tidak terlepas dari 2 sifat : Subjektif dan Objektif,dalam kasus di atas terasa ke’subjektifitas’an sang pengkritik akan tidak adilnya rasulu ‘l-llah shalla ‘l-llahu alaihi wa sallam karena ia hanya menimbang dari aspek dirinya layaknya anak yang menuduh akan tidak adilnya sang ayah dalam memberi ‘sangu’ hanya karena sang kakak diberikan lebih,padahal kalau sang adik mau sedikit objektif ,ayah sudah cukup adil, mengingat sang kakak duduk di sma sedangkan sang adik masih mengenakan celana berwarna merah di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus perzinahan,pencurian, penganiyayaan, bukanlah hal yang tidak ada di negara Arab Saudi,namun kalau boleh jujur kasus perzinahan ,dan kemunkaran lainnya pun ada di zaman kepemimpinan Rasulu ‘l-llah shalla ‘l-llahu ‘alaihi wa sallam.Negara Surgawi dalam artian nihil kemunkaran &amp;nbsp;jelas tidak ada,namun keputusan Saudi Arabia dalam menggunakan Al-quran dan Sunnah sebagai dasar negara ,“Two Thumbs Up” bukannya berlebihan jika diberikan kepada Kerajaan Saudi Arabia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manhaju I’tidal Su’udy” itulah judul yang di bawakan oleh Amir Kholid Faishol yang menjabat sebagai Amir Makkah yang berlangsung di “qoah”(aula) Jami’ah Islamiyah Madinah (Islamic University of Madinah) sebulan silam. Acara yang dimulai dengan pembacaan ayat – ayat Al-quran oleh Sheikh Mishari Rashid tersebut dipenuhi oleh para masayikh dan mahasiswa, tak ayal di dalam Aula yang interiornya kurang lebih seperti bioskop ini, terlihat beberapa mahasiswa yang berdiri karena habisnya tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Manhaju I’tidal Su’udy, I’tidal dalam artian konsisten dengan sikap adil,seimbang “&lt;/em&gt; Tegas amir kholid,lalu lanjutnya &lt;em&gt;“ Dan ini merupakan tafsiran ‘amalie dari firman Allah azza wa jall : &lt;strong&gt;“ wa ja’alnaakum ummatan wasaton&lt;/strong&gt;”&lt;/em&gt; ,&lt;em&gt;yang mana Rasulu ‘l-llah Shalla ‘l-llahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “wasat” dengan “al-‘Adlu” atawa adil.Dan saya mensifati Saudi dengan “al-i’tidal” ,karena Kerajaan Saudi Arabia satu –satunya negara di dalam percaturan dunia islam yang membangun negaranya diatas syariat Allah yang termaktub di dalam “al-Kitab wa al-sunnah”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Al-Wast baina al-guluw wa at-atanatthu’&amp;nbsp; wa baina at-tafriet wa at-taqsier”&lt;/em&gt; “seimbang di antara keguluwan,sikap berlebih-lebihan dengan&amp;nbsp; “tafriet” “remeh”, lalai pula.”,&lt;em&gt; “wast baina al-injiroof&amp;nbsp; fie al madiyah wa baina al-istigroq fie ar-ruhaaniyah”&lt;/em&gt; bersikap Wast diantara kutub yang hanyut dalam materi dengan kutub yang&amp;nbsp; tenggelam dalam (kebatinan)ruhani.”, &lt;em&gt;“konsisten di tengah diantara kelompok yang menuhankan nabi,dengan kelompok yang mendustakan bahkan membunuhnya “&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;“wa baina man yusayyidu Aqlahu mutlaqon wahdah wa man yu’tilunahu”&lt;/em&gt;, “Seimbang diantara khalayak yang menuhankan akalnya secara mutlaq dengan kelompok yang memberangus akal”.begitulah&amp;nbsp; beberapa bentuk Ketawasutan,keadilan atawa keseimbangan dalam manhaj Islam yang dipaparkan oleh Amier Kholid bin Faisol yang mana hal ini terus diserap oleh&amp;nbsp; kerajaan saudi dalam kehidupan beragama dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wasat “ atawa bersikap tengah kerap kali diinterpretasikan secara rigid nan literal oleh beberapa kalangan, sehingga bermakna berdiri di tengah dalam segala hal dan kesempatan. Akibatnya tidak jarang ada yang berdiri di tengah tengah haq dan kebatilan.padahal sikap Tengah menjadi indah jika berposisi diantara dua kebatilan bukan berdiri diantara haq dan batil yang malah menimbulkan kebatilan yang baru dan mengaburkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kasus bersikap tengah baina haq wa ‘l-batil ,yaitu di masa dimana&lt;em&gt; ahlu ‘l- sunnah &lt;/em&gt;yang berusaha mempertahankan tradisi nabi dan para sahabat dalam mengistbat sifat tuhan bersinggungan dengan&lt;em&gt; mu’tazilah&lt;/em&gt; yang menafikan sifat tuhan,lantas datanglah tokoh yang mencoba berdiri di tengah tengah haq (Ahlu sunnah) dan Batil( mu’tazilah) dan hasilnya kebenaran menjadi kabur dan juga&lt;em&gt; &lt;/em&gt;menimbulkan &amp;nbsp;kelompok batil yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Wast yang diartikan secara literal gejala “Akulah Yang Wasat”,”akulah sang moderat” lebih sering terjadi.”wast” ,dalam artian melihat segala sesuatu dengan kacamata bening,yang hasilnya: &lt;em&gt;putih adalah putih dan hitam adalah hitam&lt;/em&gt; atau ”Objektif” lebih tepatnya.Nah apesnya, jika pengikraran diri “Akulah yang Wast” dilakukan oleh kubu&lt;em&gt; “mutasyaddied”(keras)&lt;/em&gt; atau yang &lt;em&gt;“Mutasahil”(bermudah mudah)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Tsaub’ putih akan tetap terlihat “biru”,meskipun berkali kali ditekankah bahwa warna ‘tsaub’ adalah putih,karena yang melihat merasa bahwa kacamatanya bening, padahal berwarna biru.ketika kaum yang kasar dalam memahami agama merasa telah memakai kacamata ketawasutan ,bening, maka yang sedari dulu berada pada porsinya akan terlihat sebagai &lt;em&gt;Mutasahil&lt;/em&gt; ,bermudah mudah dalam agama.Begitu juga sebaliknya, jika para mutasahil dalam beberapa hal dengan perasaannya “akulah sang moderat” maka akan melihat Kaum pertengahan layaknya&lt;em&gt; Mutasyaddied&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajibnya memelihara janggut,haramnya musik,isbal dalam pandangan Ulama Arab Saudi kerap dijadikan alasan oleh beberapa kalangan tuk menyematkan kata &lt;em&gt;“tasyaddud”&lt;/em&gt; kepada para Ulama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menarik,karena apa sebenarnya patokan seseorang itu keluar dari garis teritorial “keseimbangan”atau “ketawasutan”?,bukankah tawassut adalah beragama sebagaimana yang alquran dan sunnah perintahkan?,atau kalau dalam scope yang lebih kecil ,masalah hukum misalnya ,tawassut adalah mengharamkan yang diharamkan oleh Allah dan rasulnya, dan menghalalkan apa apa yang dihalalkan oleh allah dan rasulu ‘l-llah shall ‘l-llahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Haram” di pilih oleh Imam Syafi’e rahimahullah dalam masalah memangkas janggut,Isbal,dan Musik.Imam Nawawi yang&amp;nbsp; dikenal sebagai pengarang Riyadlu l-‘sholihien dalam masalah Janggut menemukan kata sepakat dengan imam madzhabnya,dalam Musik Imam Nawawi menegaskan akan haramnya alat musik seperti Mandolin,simbal.dan seruling.(Mughni al-muhtaj 4/429).Dalam masalah Isbal Imam Nawawi sedikit berbeda dengan seniornya asyafiie ,”makruh” jika tidak disertai rasa sombong menurut imam nawawi rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ubahnya Imam syafiie dan Imam Nawawi rahimahuma ‘llah, Ibnu Hajar al –‘Asqolani dalam &lt;em&gt;magnum opusnya&lt;/em&gt; : &lt;em&gt;Fath ‘l-bary&lt;/em&gt; (Syarh hadith – hadith shohih bukhari) ditemukan bahwa sang imam mewajibkan memelihara janggut,mengharamkan musik,dan isbal.Ini bisa dilihat ketika Ibnu Hajar mensyarah hadist – hadist tentang janggut,musik,dan isbal. Bahkan dalam Isbal terdapat hadist yang menjelaskan akan sombongnya pelaku ‘isbal’ yaitu &amp;nbsp;“jauihilah penjuluran Izar&amp;nbsp; sesungguhnya setiap yang menjulurkannya adalah seseorang yang sombong”, (fath ‘l-bary 13/267).riwayat ini secara tidak langsung meruntuhkan argumen akan haramnya isbal jika disertai rasa sombong saja.&lt;br /&gt;Jika mereka yang kerap menuduh pengaharaman isbal,musik dan wajibnya memelihara janggut sebagai bentuk tasyaddud dalam beragama , maka konsekuensi logisnya Imam syafiie, Imam Nawawi dan Ibnu Hajar Rahimahumu ‘llah adalah para ulama “mutasyaddidien”.Sepelik itukah? Entahlah tapi yang jelas para Imam diatas baik syafiie,nawawi maupun ibnu hajar adalah ulama yang berusaha seobjektif mungkin dalam menentukan hukum.karena tasyaddud mendapat kecaman keras dari tuhan maupun nabinya shalla ‘l-llahu alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan ini tidak lepas dari ketergesa – gesaan dalam menilai sesuatu, dan juga ketergesa-gesaan menilai diri sudah dalam posisi “wasat”. Cukuplah Sabda Rasulu ‘l-llah shalla ‘l-llahu ‘alaihi wa sallam sebagai renungan : “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.”(HR.Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, Sudah beningkah kacamata kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rizqo Kamil Ibrahim, Wihdah sakaniyah 7,Safar, 21&amp;nbsp; 1433 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al-asqolani,Fathu ‘l-bary.Riyadh : DaruToyyibah cet : 1431 H.&lt;br /&gt;‘Abdullah Ramadhan bin Musa,&amp;nbsp; &lt;em&gt;Ar-roddu ‘ala Qordhowi wa al-Jadie’&lt;/em&gt;.Riyadh : dar almoayyad&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-2677311630347880325?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/2677311630347880325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=2677311630347880325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/2677311630347880325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/2677311630347880325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2012/01/manhaju-al-itidal-as-suudy-saudi.html' title='Manhaju al-’I’tidal as-Su’udy (Saudi Moderation Progress)'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-7836240872486102813</id><published>2011-12-11T11:25:00.001-08:00</published><updated>2011-12-11T11:33:24.697-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Wahabi?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: Verdana,sans-serif; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Sebuah artikel menarik yang dimuat di Koran Harian Al-Hayat, Rabu, 5 Mei 2010. Penjelasan ttg dakwah yang diusung Muhammad bin Abdul Wahab di Arab Saudi. Menjawab tudingan orang2 yg gemar mengatakan "&lt;span class="il"&gt;wahabi&lt;/span&gt;" kepada sebagian ummat Islam hanya karena memahami Al-Qur`an dg tafsir Thobari, Ibnu Katsir, Ibnu Athiyah, Ibnu Al-'Arabi, Al-Qurthubi? Dan karena berhujjah menggunakan Kutub Sittah, Kitab Ibn Hajar Al-Asqolani utk syarh Shahih Bukhari, Imam Nawawi utk syarh Shahih Muslim? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: Verdana,sans-serif; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: verdana,helvetica,sans-serif; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Mudah2an bermanfaat, mohon maaf bagi yg telah membacanya..... &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;نحو منهج أفضل لمناقشة قضايانا:الدعوة الإصلاحية نموذجاً&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;الاربعاء, 05 مايو 2010&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;زين العابدين الركابي&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt; *&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;﻿بيننا وبين عهد الشيخ محمد بن عبدالوهاب- من حيث قيامه بدعوته الإصلاحية - نحو ثلاثة قرون تقريباً، ومع ذلك لا يزالالحديث عن الرجل ودعوته غضاً طرياً كأن عهده بالوجود أمس. ومن أسباب ذلك: قوةتأثير دعوته، ولأن دعوته ارتبطت بدولة عمرها ثلاثة قرون أيضاً - في أطوارهاالثلاثة - وهي الدولة السعودية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومنذ أيام جرت مناقشات في البلاد حول هذه الدعوة، وما أُسقط عليها - بالغصب - منتسميات وأوصاف مثل وصف «الدعوة الوهابية». واضطر الأمير سلمان بن عبدالعزيز الىالتدخل لتصحيح بعض المفاهيم غير المضبوطة في مقال له الى «الحياة»: النابضةبالحياة. فعل ذلك لأنه مهتم جداً بـ (أثر) الأفكار في الناس، أفراداً ومجتمعات،ومهتم بوجه خاص بالتدقيق في المصطلحات والمفردات. ومن ذلك مثلاً مصطلح «القرونالوسطى» الذي يؤكد دوماً أنه مصطلح يتعلق بالحضارة الغربية ولا علاقة له بالحضارةالإسلامية التي كانت - كما يقول - في قمة نهضتها التنويرية إبّان القرون الوسطىالغربية. ولأنه يؤمن بمدافعة الفكرة بفكرة مثلها أو أحسن منها، مفضلاً هذا الأسلوب- وهو حاكم إداري - على أي أسلوب آخر.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولئن تبدّت المناقشات حول دعوة الشيخ الجليل على هذا النحو، فإننا نشارك في هذهالمناقشات من خلال محاور أربعة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أولاً - محور حقيقة دعوة الشيخ: إن أدق المناهج وأصوبها في التعرف الى حقائقالدعوات: منهج إعلاء السند واستنطاق المؤسسين، فكيف عرّف الشيخ دعوته ومرجعيّته؟يقول: «عقيدتي وديني الذي أدين الله به مذهب أهل السنة والجماعة الذي عليه أئمةالمسلمين مثل الأئمة الأربعة وأتباعهم إلى يوم القيامة. وأشهد الله ومن حضرني منالملائكة وأشهدكم أني أعتقد ما اعتقده أهل السنة والجماعة من الإيمان باللهوملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره. ومن الإيمان بالله: الإيمان بماوصف به نفسه في كتابه وعلى لسان رسوله من غير تحريف ولا تعطيل بل اعتقد أن الله«ليس كمثله شيء وهو السميع البصير». وأومن بأن نبينا محمداً (صلى الله عليه وسلم)خاتم النبيين والمرسلين، ولا يصح إيمان عبد حتى يؤمن برسالته ويشهد بنبوته، وأفضلأمته أبو بكر الصديق ثم عمر الفاروق ثم عثمان ذو النورين ثم علي المرتضى ثم بقيةالعشرة المبشرين بالجنة ثم أهل بدر ثم أهل الشجرة أهل بيعة الرضوان، ثم سائرالصحابة رضوان الله عليهم. وأتولى أصحاب رسول الله وأذكر محاسنهم، وأستغفر لهم،وأكف عن مساوئهم، وأُمسك عما شجر بينهم وأعتقد فضلهم، عملاً بقوله تعالى «والذينجاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل فيقلوبنا غلاً للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم». وأن أترضى عن أمهات المؤمنينالمطهرات من كل سوء، وأن أعرف لآل البيت قدرهم ووجوب محبتهم، وأقر بكراماتالأولياء إلا أنهم لا يستحقون من حق الله شيئاً، ولا أشهد لأحد من المسلمين بجنةولا نار إلا من شهد له الرسول (صلى الله عليه وسلم)، ولكني أرجو للمحسن وأخاف علىالمسيء، ولا أكفّر أحداً من المسلمين بذنبه ولا أخرجه من دائرة الإسلام».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الشيخ محمد بن عبدالوهاب وهو يقرر هذه العقيدة إنما هو «مذكّر» بها و «مجدّد»لمعانيها وليس منشئاً لها بحال من الأحوال، ذلك أن هذه العقيدة التي بيّنها الشيخهي هي ذاتها العقيدة التي حررها الإمام الطحاوي الحنفي (في القرن الثالث الهجري)وقال في مقدمتها: «هذا ذكر بيان عقيدة أهل السنة والجماعة على مذهب فقهاء الملةأبي حنيفة النعمان ابن ثابت الكوفي، وأبي يوسف الأنصاري، وابن الحسن الشيباني»،وهي هي ذات العقيدة التي حررها أبو يزيد القيرواني المالكي في مقدمة «الرسالة».وتكاد عبارة الشيخ محمد بن عبدالوهاب - وهو يشرح عقيدته - تتطابق مع عبارة كل منالطحاوي الحنفي والقيرواني المالكي، وهذا برهان علمي قاطع على:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أ- أن العقيدة التي اعتنقها ودعا إليها الشيخ محمد هي «نقل» عن السلف الصالح،ومشيٌ في طريق من سبقه من الأئمة الثقات.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ب- أنه لا خلاف - قط - بين أهل السنة والجماعة في أمهات الإعتقاد، وأصول التوحيد.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن مقتضى هذا المحور: أن «التوحيد» الذي جهر بحقيقته الشيخ هو «دعوة مستمرة»:ليست موقتة، فعلى سبيل المثال، كافح الشيخ كفاحاً جاداً صادقاً مثابراً لتطهيرعقيدة التوحيد مما شابها من الخرافات والأوهام والسحر والكهانة والدجل. فهل كانذلك مجرد «ظرف زمني» انتهى وانطوى؟ لا يقول بذلك امرؤ عليم بالواقع الراهن، فقدتبين، من خلال دراسة علمية اجتماعية، أن العرب ينفقون خمسة بلايين دولار - كل عام- على الدجل والسحر والكهانة. وهذه بلا شك كارثة نفسية واعتقادية واجتماعية وعقليةوحضارية ومالية. كارثة تنبئ بأن الخرافة لا تزال تحبس العقل البشري في أقبيةسجنها، وتفترسه وتغتاله. والمجتمع السعودي ليس معصوماً - قطعاً - من هذه الظاهرةالموبقة، إذ انتشرت في الحقبة الأخيرة بين النساء والرجال، وبين الجهالوالمتعلمين، في المدائن والقرى، مما أدى - مثلاً - إلى تشديد العقوبة على السحرةوالكهان والعرافين والدجالين. هذه الظاهرة تتطلب «علاجاً عقدياً» قبل كل شيء.فإدارة المعركة الجادة ضد السحر والسحرة - وضحاياهم المساكين - إنما يجب أن تنصبّعلى القلب وفي العقل انصباباً يسكب فيهما مفهوم التوحيد الرائق الذي يطهرهما منزهومة الوهم والسحر. ونعلم من تاريخ النبوات، أن السحر والشعوذة والكهانة قداقترنت بالوثنية والشرك، وأن الأنبياء (صلوات الله وسلامه عليهم) كانوا هم«المحررون» للعقل والقلب البشري بـ «التوحيد» الخالص الذي محا الوثنية والشرك،فبطل - تلقائياً - السحر والكهانة والوهم والخرافة لدى المؤمنين المُوَحّدين. ومنهنا فإن مجتمعنا في حاجة إلى «نهضة عقلية اعتقادية» تطارد الخرافة والوهم والسحرفي عقول الناس وقلوبهم. وحين تنطلق هذه النهضة، فإنها ملتقية - ولا بد - بتراثالشيخ محمد بن عبدالوهاب في هذا المجال ومستفيدة منه، فهو تراث زاخر وخبير بمقاومةهذا الوباء الكريه. في ضوء هذا ليس من المعرفة الصحيحة، ولا من الدقة في التعبيرأن يقال: إن ما دعا إليه الشيخ من تصحيح الاعتقاد أمر قد تجاوزه الزمن، بدليل أن«زمننا» هذا مملوء بعاهات مثيلة أو شبيهة لتلك التي عاصرها الشيخ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا الأصل من «الثوابت» في دعوة الشيخ، وفي كل دعوة صدع بها نبي، أو صدع بها عالممسلم صالح مصلح في كل بيئة، وكل زمان. فسيدنا محمد (صلى الله عليه وآله وسلم) بدأدعوته بالتوحيد، واستمر يدعو إلى التوحيد ثلاثة وعشرين عاماً، ثم ختم حياتهبالدعوة إلى التوحيد حيث حذر وهو يتأهب للانتقال إلى الرفيق الأعلى من الشرك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثانياً - ننتقل إلى المحور الثاني وهو مناقشة مقولة أن دعوة الشيخ تحتاج إلى إصلاحبعد مرور هذا الزمن الطويل على نشوئها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا كلام يحتاج إلى تفصيل وضبط لئلا تزل قدم بعد ثبوتها، ولأن من شأن الإجمال أنيُضِلّ في مثل هذه القضايا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ما المطلوب إصلاحه؟ أهو عقيدة التوحيد؟ لا... قطعاً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فالشيخ في هذا المجال «مذكّر» بالعقيدة الصحيحة، وليس منشئاً لها. والفيصل العلميوالاعتقادي هنا هو أن العقيدة «توقيفية»، لا اجتهادية، وما لا يخضع للاجتهاد لايخضع للإصلاح - بمعنى التغيير – بداهة. نحن نعلم أن أمماً معروفة قررت عقيدتها فيمؤتمرات. وهذا نموذج منفيّ ومستحيل أن يمارس في ديننا، لأن الله قال «فاعلم أنه لاإله إلا الله». ولا كلام مع أو بعد كلام ربنا الهادي - وحده - إلى العقيدة الحق.ما المطلوب إصلاحه في دعوة الشيخ؟ أهو مبدأ الرد إلى الكتاب والسنة؟. لا قطعاً.فهذا الرد ألزمنا به القرآن - لا الشيخ محمد بن عبدالوهاب - «فإن تنازعتم في شيءفردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسنتأويلاً». هل المطلوب إصلاحه هو دعوة الشيخ إلى الحكم بما أنزل الله؟ قطعاً لا.لأن الحكم بما أنزل الله منهج توقيفي - وليس مجرد اقتراح من عند الشيخ - منهجتضافرت الأدلة على إنفاذه، ومنها «وأن احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبعأهواءهم»... «ثم جعلناك على شريعة من الأمر فاتبعها ولا تتبع أهواء الذين لايعلمون».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أم... هل المطلوب إصلاحه هو «الجانب الفقهي الاجتهادي» في دعوة الشيخ وقومته؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا كان هذا هو المطلوب، فإنا نقول: نعم، نعم. ترليون نعم: إن هذا المطلب مشروع،بل واجب ناجز يؤدى أداء، ولا يقضى قضاء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ففي الإسلام دائرتان كبيرتان: «دائرة الاعتقاد» التي لا اجتهاد فيها. أما الدائرةالثانية فهي «دائرة الفقه» التي لا توقيف فيها في القضايا الاجتهادية. وبقدر ما فيدائرة الاعتقاد من «ثبات»، بقدر ما في دائرة الفقه من «مران»، أي الفقه المستنبطمن الشريعة. ويمكن الاستشهاد في هذا المقام بدليلين يدلان على هذه الحقيقة - علىما بينهما من تفاوت في القدر والمقام -:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١- الدليل الأول: أن عقيدة الأنبياء واحدة، بيد أن شرائعهم مختلفة، لأن الشرائعمتعلقة بأحوال الناس وظروف معايشهم وتنوع أعرافهم وحاجاتهم، فلا بد أن تتنوعالشرائع.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٢- الدليل الثاني: أن أئمة المذاهب الأربعة الكبرى عقيدتهم واحدة يكاد يكون قدكتبها فرد واحد من شدة التطابق، لكن فقههم مختلف ومتنوع. وهذا هو - بالضبط - معنى«المذهب». معنى أن يذهب كل إمام في المسألة الفقهية مذهباً مختلفاً عن أخيه وندّه.كلّ بدليله، أو كلّ بفهمه الخاص للدليل الواحد المشترك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والشيخ محمد بن عبدالوهاب نفسه ينتمي إلى مدرسة فقهية تنزِع إلى التجديد والاجتهادالفقهي. ومن أساطين هذه المدرسة الإمام أحمد بن حنبل الذي يعتضد دوماً بالدليلويذم التقليد، وهذان مفتاحان عظيمان للاجتهاد الفقهي المتجدد. فالنظر الحرّ فيالدليل يثمر فقهاً سديداً جديداً، والتحرر من التقليد نافذة كبيرة إلى النظر الحرالفسيح. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن أعلام هذه المدرسة ابن تيمية الذي اعتضد منهجاً يقوم على النظر العقليوالمصلحة المعتبرة في الدليل. وانظر مثلاً إلى هذه العبارة التي تكاد تؤلف منهجاًأو تؤصل لمنهج. قال: «فهذا أصل عظيم في هذه المسائل ونوعها، لا ينبغي أن يُنظر إلىغلظ المفسدة المقتضية للحظر ولا ينظر مع ذلك إلى الحاجة الموجبة للإذن بل الموجبةللاستحباب أو الإيجاب». وعاب ابن تيمية على فقهاء الكوفة والبصرة تقصيرهم في مدخلفاء بني العباس بالفقه الجديد الذي يستعين به ولي الأمر على تصريف شؤون الناسبهدى وحكمة. وفي ظل انتمائه لهذه المدرسة الفقهية التجديدية، شدد الشيخ محمد بنعبدالوهاب النكير على التقليد والمقلدين، وانتصر للدليل والبرهان. ويلزم في هذاالمقام التوكيد على مسألتين:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أ- المسألة الأولى: أن بيننا وبين عهد الشيخ ثلاثة قرون، جدّت خلالها حوادث وقضايالا حصر لها، وهذا مدى زمني يتطلب تجديداً فقهياً بلا ريب، بل التجديد مطلوب في مدىأقصر من هذا بموجب الحديث الصحيح: «إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مئة عام منيجدد لها دينها».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ب- المسألة الثانية أن هذه الدولة تقوم على الإسلام، وهي من ثم تحتاج إلى أنهاررائقة من الفقه الجديد الذي تواجه به القضايا الجديدة على المستوى الوطني المحلي،وعلى المستوى الخارجي العلمي. وليس في دعوة الشيخ ما يمنع من ذلك، بل فيها ما يعينعليه من حيث الدعوة إلى الدليل، ونبذ التقليد والجمود.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثالثاً: المحور الثالث هو وصف دعوة الشيخ ونهضته بـ «الوهابية»، وهو وصف فيه رائحة«التعيير»، وفيه رغبة الإهاجة والتحريض ضد الدعوة والداعي، وفيه ظلم وافتئات،فالقائم بالدعوة وهو الشيخ نفسه لم يُسَمّ دعوته بهذه التسمية. وكيف يفعل ذلك وهويعلم أن هذه التسمية من اختراع خصومه المشنّعين عليه؟ وآل الشيخ أنفسهم يستنكرون«لقب» الوهابية. يقول الشيخ حسن بن عبدالله آل الشيخ - مثلاً -: إن لقب الوهابيةلم يختره الشيخ ولا أتباع الدعوة لأنفسهم، ولم يقبلوا إطلاقه عليهم، لكنه أُطلق منقِبَل خصومهم تنفيراً للناس من الدعوة، وإيهاماً للسامع بأن الشيخ جاء بمذهب خاصيخالف المذاهب الأربعة الكبرى» وهذا صحيح، فإن خصوم الدعوة اخترعوا وصفها بـ«المذهب الخامس»، على حين أن الحقيقة الموضوعية تقول إن الدعوة تقوم في الجانبالعقدي على عقيدة أهل السنة والجماعة، وتقوم في الجانب الفقهي على مذهب الإمامأحمد بن حنبل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ورسمياً نفى الملك عبدالعزيز هذه التسمية المفتراة وقال - بوضوح وحسم -: «يسموننابالوهابيين، ويسمون مذهبنا بالوهابي باعتبار أنه مذهب خاص، وهذا خطأ فاحش نشأ عنالدعايات الكاذبة التي يبثها أهل الأغراض». وهذه براءة رسمية من وصف «الوهابية»توكدها وتؤصلها الوثائق الرسمية السعودية التي خلت - بالكلية - من كل ألقابالوهابية. نعم ليس في النظام الأساس للحكم مادة تقول «والوهابية هي المذهب الرسميللدولة»، بل ينص النظام الأساس للحكم على أن الإسلام هو الدين الرسمي للدولة، وأنالدولة تقوم على الكتاب والسنة. وعلى رغم ذلك فإن الكائدين يصرون على أن السعوديين«وهابيون» بالجبر والغصب والإكراه!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لقد صك بعض المستشرقين المتحاملين مفردة «التفسير الوهابي» للإسلام. ومن الغريبجداً أن يردد المفردة نفسها عرب مسلمون! وفي حقيقة الأمر ليس هناك شيء اسمه«التفسير الوهابي» للإسلام، فالشيخ محمد بن عبدالوهاب نفسه ارتكز على فهم الأئمةالأربعة للإسلام - عقيدة وشريعة -، لا سيما الإمام أحمد بن حنبل ثم رموز مدرستهكابن تيمية وابن القيم. والتفاسير المعتمدة منذ قامت الدعوة وإلى يوم الناس هذاهي: ١- في مجال تفسير القرآن يرجع السعوديون إلى تفاسير الطبري وابن كثير وابنعطية وابن العربي والقرطبي ونظائرها وهي تفاسير يرجع إليها أهل السنة والجماعة فيالعالم كله، وأصحاب هذه التفاسير ليسوا «وهابيين».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٢- في مجال السنة أو الحديث يعتمد السعوديون الكتب الستة المشهورة، كما يفضلون شرحابن حجر العسقلاني لصحيح البخاري، وشرح النووي لصحيح مسلم، وأصحاب الكتب الستةوشرّاحها ليسوا «وهابيين». فأين «التفسير الوهابي» للإسلام والحالة هذه؟!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رابعاً - ماذا وراء الدعايات الكاذبة التي حذر منها الملك عبدالعزيز؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هنا تتبين الأهداف السياسية للهجوم على ما سمي بـ «الوهابية». ومن هذه الأهداف:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١- الهجوم غير المباشر على النظام السياسي السعودي من حيث إنه في البدء قد قام علىمبادئ دعوة الشيخ منذ تعاون مع الإمام محمد بن سعود على التمكين للإسلام ونصرته.وهناك أسباب عدة تحول دون الهجوم المباشر على النظام السياسي السعودي، لذلكاختاروا الهجوم عليه من خلال الهجوم على جذوره وأصوله ومرجعياته تحت ستار فرية«الوهابية».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٢- «تكريه» السعوديين أنفسهم في الدعوة، تمهيداً لإنشاء «رأي عام» سعودي يطالببفصل الدين عن الدولة في زمن ما.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٣- عزل دعوة الشيخ عن محيطها الإسلامي الأوسع ابتغاء محاصرتها ونبذها، والتأثير السلبي- من ثم - على السعوديين، مجتمعاً ودولة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتمام الكَلِم: أن ليس من المنهج العلمي في البحث، ولا من رشد العقل، ولا منالنزاهة الفكرية والأخلاقية، ولا من الشهادة بالحق على الواقع التاريخي، والواقعالراهن تناول هذه الدعوة العقدية الفكرية الاجتماعية الضخمة - والتي انبنت عليهادولة كبيرة عمرها ثلاثة قرون - والتي أثرت بعمق في الوطن العربي والعالم الإسلاميتأثيراً قوياً. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ليس من الإنصاف في شيء تناول هذه الدعوة بسطحية أو استخفاف أو تثاؤب فكري أوغيبوبة سياسية - عما يراد بها -، أو حصرها في مفردة مفتعلة مثل «الوهابية».﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* كاتب سعودي.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="font-family: times new roman,new york,times,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;Artikel di edisi maya dapat diperoleh di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;a href="http://www.daralhayat.com/portalarticlendah/137717" target="_blank"&gt;http://www.daralhayat.com/&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;portalarticlendah/137717&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-7836240872486102813?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/7836240872486102813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=7836240872486102813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/7836240872486102813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/7836240872486102813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/12/wahabi.html' title='Wahabi?'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-6721732692690584640</id><published>2011-12-02T11:46:00.001-08:00</published><updated>2011-12-02T11:52:04.094-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Ensiklopedi Hadits</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ensiklopedi Hadits (Mausu’ah al-Hadits al-Nabawi asy-Syarif)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-edisi ketiga-&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ensiklopedi hadis ini berisi puluhan buku dan karya terkenal berupa kitab Shahih, Sunan, dan Musnad yang dikarang oleh para imam Islam untuk melestarikan dan menjaga sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan memungkinkan penjelajahan dan pencarian. Isi dari program ini meliputi:&lt;br /&gt;- Sahih Bukhari [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sahih Muslim [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sunan Abu Dawud [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sunan al-Tirmidzi, Tahqiq: Ahmad Syakir [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sunan al-Tirmidzi, Tahqiq: Bashar Awad Ma’ruf[Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sunan an-Nasai [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sunan Ibnu Majah [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Muwatta Malik, Tahqiq: al-A’zhami [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Muwatta Malik, Tahqiq: Abd al-Baqi [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Az-Zuhd War raqaiq karya Ibnul Mubarak dan az-Zuhd karya Nua’im bin Hammad [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Al-Jami’ Fil hadits karya Ibnu Wahab [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad Abu Dawud Thayaalisi [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- As-Sunan ash-Shugra karya al-Baihaqi [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- As-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- As-Sunan al-Kubra karya an-Nasai[Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Al-Mustadrak ‘alash Shahihain karya al-Hakim [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Al-Musnad karya asy-Syasyi [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Al-Mu’jam al-Ausath karya ath-Thabarani [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabarani [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Al-Mu’jam ash-Shaghir karya ath-Thabarani [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- al-Muntaqa karya Ibnul Jarud [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sunan ad-Daraqutni [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sunan ad-Darimi[Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sunan karya Said Manshur [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Shahih Ibnu Hibban [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Shahih Ibnu Khuzaimah [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad Ibnu Abi Syaibah [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad Ibnul Ja’d [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad Imam Abu Hanifah [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad Abid Dunya [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad Ahmad [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad Ibnu Ishaq Raahawayh [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad al-Humaidi [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad ar-Ruyani [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad Imam Abdullah bin Al-Mubarak [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad al-Bazzar [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Bughyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad al-Harits [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad as-Siraj [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad asy-Syifii [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Musnad asy-Syamiyyin[Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Mushannaf Ibnu Abi Syaibah [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Mushannaf Abdur Razzaq ash-Shan’ani [Sesuai dengan versi cetak]&lt;br /&gt;- Sekumpulan kitab hadis dengan format PDF&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.islamspirit.com/click/go.php?id=2" target="_blank"&gt;Silahkan donwload di sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sumber: http://hadits.blog.com/mawsoaat-hadeeth/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-6721732692690584640?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/6721732692690584640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=6721732692690584640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6721732692690584640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6721732692690584640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/12/ensiklopedi-hadits.html' title='Ensiklopedi Hadits'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-4976856390552866228</id><published>2011-11-20T11:32:00.001-08:00</published><updated>2011-11-27T11:42:08.309-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Targhib wa Tarhib'/><title type='text'>Satu Orang Saja yang Akan Masuk Surga</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;Salah satu unsur &lt;/b&gt;yang memotivasi ibadah kita kepada Allah adalah karena pengharapan (&lt;i&gt;rojaa&lt;/i&gt;) agar dimasukkan ke dalam surga&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; khouf&lt;/i&gt; (takut) tergelincir ke nerakaNya. Meskipun ada unsur lain dalam ibadah seperti karena rasa cinta (&lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt;), merendah (&lt;i&gt;Dzul&lt;/i&gt;), tunduk (&lt;i&gt;khudhu’&lt;/i&gt;), dan doa kepada Allah swt. Yang membuat kita harus ekstra super semangat mendekatkan diri kepada Allah adalah keterangan bahwa golongan yang berharap dan takut tersebut tidaklah banyak, melainkan sangat sedikit. Tidak hanya jumlahnya yang minoritas, tetapi juga asing di tengah kehidupan dunia. Karena sedikit dan keterasingannya tersebut, bagi yang bersungguh-sungguh di jalanNya terasa lebih berat menjalaninya tetapi manis kelak hasilnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-74nf1HY_8tg/TtJ7UDi1JZI/AAAAAAAAAmg/j0qZeTxbU0Y/s1600/Persian-Star.6.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-74nf1HY_8tg/TtJ7UDi1JZI/AAAAAAAAAmg/j0qZeTxbU0Y/s320/Persian-Star.6.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Dalam sebuah riwayat Muslim dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Islam berawal ghariiban&lt;/i&gt; (asing, tak dikenal), &lt;i&gt;dan akan kembali &lt;/i&gt;gharib&lt;i&gt; sebagaimana pertama kali muncul.” &lt;/i&gt;Dan riwayat Ahmad dari Ibnu Mas’ud &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, di akhir sabda &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tersebut, &lt;i&gt;“maka beruntunglah bagi &lt;/i&gt;al-ghurabaa` (orang-orang asing).” Dan juga dikatakan di akhir riwayatnya; &lt;i&gt;“Wahai Rasulullah, siapakah &lt;/i&gt;al-ghurabaa&lt;i&gt;` itu?” &lt;/i&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: &lt;i&gt;“Orang yang terasing dari kelompok-kelompok&lt;/i&gt; (manusia).” Dalam riwayat lain dari Al-Ajuriy, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menerangkan &lt;i&gt;al-ghurabaa`: “Orang-orang shaleh di tengah-tengah rusaknya manusia.” &lt;/i&gt;Sedang di riwayat Ahmad di sebuah hadits Sa’ad bin Malik, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Maka beruntunglah pada hari itu bagi orang-orang yang shaleh, saat manusia telah rusak&lt;/i&gt; (agamanya).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sesuai dengan namanya, &lt;i&gt;al-ghurabaa`&lt;/i&gt;, adalah kelompok minoritas yang asing dan shaleh di tengah masyarakat yang telah rusak agamanya. Jika kita saksikan hari ini, telah tampak ciri-ciri yang digambarkan Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam riwayat di atas. Prilaku korupsi misalnya, menjadi bagian dari kebiasaan yang dipratekkan dalam kehidupan hari ini. Orang-orang shaleh yang menolaknya justru disingkirkan dan difitnah hingga dibunuh karakternya (&lt;i&gt;assasin character&lt;/i&gt;). Dalam pergaulan, mode, budaya, serta banyak lagi sisi kehidupan ini, kebanyakan kita telah cenderung mempertuhankan syahwat daripada norma-norma agama. Kita perhatikan pula kehidupan beragama masyarakat, berbagai macam &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt; dalam bentuk &lt;i&gt;takhayul, khurafat, bid’ah&lt;/i&gt;, telah menjadi kehidupan masyarakat muslim. Juga dalam perekenomian , hampir semua lini terjerat riba. Memurnikan hal yang telah rusak seperti ini dicap negatif sebagai “wahabi,” “fundamentalis,” “radikal,” atau “Islam garis keras.” Di ranah pemikiran Islam, paham-paham asing di luar ajaran Islam telah mengambil alih ajaran-ajaran Al-Qur`an dan As-Sunnah. Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Beruntunglah&lt;/i&gt; &lt;i&gt;bagi&lt;/i&gt; al-ghurabaa`” Kami para sahabat bertanya: &lt;i&gt;“Siapakah mereka&lt;/i&gt; al-ghurabaa`?” Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sebuah kaum shaleh yang sedikit, di tengah-tengah mayoritas manusia yang rusak. Yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikutinya.” &lt;/i&gt;(HR. Ahmad)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Yang patut kita perhatikan lagi, sebuah riwayat hadits dialog antara Allah dengan Nabi Adam &lt;i&gt;‘alaihi salam&lt;/i&gt;. Isi hadits ini membuat kita merasa cukup berat menerima kenyataan, bahwa dari seribu manusia hanya satu saja yang dipersilahkan masuk ke dalam surga Allah. Bukan kita saja yang terkejut lalu sedih, para sahabat Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sendiri sangat sedih ketika mendengar perkataan itu meluncur dari lisan Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Bahkan diceritakan ada sahabat yang hampir tidak mau memberitahu hadits ini kepada manusia lain yang bukan sahabat Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; karena takut manusia menjadi putus asa akan surga Allah. Tapi karena takut termasuk orang yang mernyembunyikan ilmu, maka sahabat tersebut memberitahukan juga kepada yang lain ketika menjelang ajal. Sebuah hadits yang banyak jalur riwayatnya, di antaranya yang diriwayatkan Tirmidzi dan Nasai:&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;…. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Itu adalah di hari Allah memanggil Adam (setelah manusia dihisab): “Wahai Adam, masukkan ahli neraka ke neraka.” Berkata Adam as: “Berapa Ya Rab?” Allah menjawab : “Dari 1000 ambillah 999 orang untuk dimasukkan ke neraka dan satu orang masuk sorga…….&lt;/i&gt;&lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Tidaklah heran tampaknya, sebagaimana yang ditulis Prof Dr Ali Mustafa Yaqub dalam sebuah artikel &lt;b&gt;“&lt;/b&gt;Manusia yang Menyukai Neraka”; ketua panitia pengajian meminta maaf kepada penceramah karena jamaah yang hadir dalam pengajian tersebut tidak banyak. Ia semula mengharapkan agar jamaah yang datang dapat mencapai ribuan orang, tetapi ternyata hanya ratusan orang. Ia khawatir apabila penceramah kecewa dengan jumlah yang sedikit itu.&amp;nbsp; Apa komentar penceramah tersebut? Ia justru bersyukur dan tidak merasa kecewa. Katanya, ”Memang calon penghuni surga itu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan calon penghuni neraka.”Ia pernah membaca koran bahwa di Ancol diadakan pagelaran maksiat. Yang hadir dalam pesta kemungkaran itu mencapai 700 ribu orang. Kendati pesta itu dimulai jam delapan malam, pengunjung sudah mulai datang sejak jam satu siang.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Penceramah kemudian bertanya kepada para hadirin, ”Apakah ada pengajian yang dihadiri oleh 700 ribu orang?” Hadirin pun serentak menjawab, ”Tidak ada.” Ia kemudian bertanya lagi, ”Apakah ada pengajian yang dimulai jam delapan malam, tetapi jamaahnya sudah datang jam satu siang?” Hadirin kembali serentak menjawab, ”Tidak ada.” Penceramah kemudian berkata, ”Itulah maksiat, dan inilah pengajian. Kalau ada pengajian dihadiri oleh ratusan ribu orang, boleh jadi pengajian itu bermasalah.” &lt;i&gt;Wallahu’alam bi-sh-showwab&lt;/i&gt;.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;[Dammam, 5 Jum. Ula 1431, edited &amp;nbsp;6 Jum. Ula 1432]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-4976856390552866228?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/4976856390552866228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=4976856390552866228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4976856390552866228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4976856390552866228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/11/satu-orang-saja-yang-akan-masuk-surga.html' title='Satu Orang Saja yang Akan Masuk Surga'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-74nf1HY_8tg/TtJ7UDi1JZI/AAAAAAAAAmg/j0qZeTxbU0Y/s72-c/Persian-Star.6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-3001373978922461560</id><published>2011-10-25T03:52:00.000-07:00</published><updated>2011-10-25T03:53:31.470-07:00</updated><title type='text'>Ciri Orang Cerdas Menghadapi Dzulhijjah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div dir="LTR" id="yui_3_2_0_1_1319531175805373" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Termasuk tingkat kejeniusan yang sangat tinggi adalah mengenal kesempatan-kesempatan emas, waktu-waktu berharga, keadaan-keadaan penting yang disebutkan di dalam syariat Islam berdasarkan Al Quran dan hadits shahih, dan tidak membiarkan kesempatan, waktu dan keadaan tersebut terbuang percuma tanpa diisi dengan amal shalih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Termasuk di dalamnya KESEMPATAN EMAS DI BULAN DZULHIJJAH!!!&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibnu Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhum&lt;/i&gt; berkata: "Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tiada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini". yakni 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, mereka (para shahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya)?", beliau bersabda: "Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya), kecuali seseorang yang berjuang dengan dirinya dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan apapun".&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; HR. Bukhari dan Muslim. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibnu Umar &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhuma&lt;/i&gt; berkata:&lt;i&gt; "&lt;/i&gt;Nabi Muhammad&lt;i&gt; shallallahu 'alaihi wasallam &lt;/i&gt;bersabda: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: &lt;i&gt;"Tiada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan yang lebih ia cintai untuk beramal di dalamnya daripada 10 hari ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya”&lt;/i&gt;. HR. Ahmad dan di shahihkan oleh Al Mundziry dan Ahmad Syakir tetapi dilemahkan oleh Al Albani di dalam kitab Dha’ih At Targhib wa At Tarhib, 744.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Abu Qatadah Al Anshari &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; berkata: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». رواه مسلم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: Bahwa Rasulullah ditanya tentang puasa Hari Arafah: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Menghapuskan (dosa-dosa) setahun lalu dan setahun yang akan datang"&lt;/i&gt;. &lt;/b&gt;HR. Muslim.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dari Hadits-hadits di atas dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, seperti; Menunaikan haji dan umrah, berpuasa, berkurban, bertakbir, bertahmid dan bertasbih serta bertahlil, serta amal shalih lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Kenapa dianggap cerdas orang yang menggunakan kesempatan emas ini?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Karena mungkin ini adalah ibadah terakhir dan ini pertanda baik dari Allah Ta’ala.&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ ». فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ ».&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “&lt;b&gt;&lt;i&gt;Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan memakainya”,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; beliau ditanya: “Bagaimana Allah akan memakainya, wahai Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt;?”, beliau menjawab: &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalaih sebelum meninggal”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab shahih Al Jami’, no. 304.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Karena mungkin kesempatan ini tidak akan kembali lagi.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;3)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Karena mungkin jika kesempatan ini kembali kita tidak dalam keadaan sehat dan mampu beramal shalih.&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ: " اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلُكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ "&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menasehatinya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Gunakanlah dengan baik lima perkara sebelum datang lima (yang lain): MASA MUDAMU SEBELUM DATANG MASA TUAMU, SEHATMU SEBELUM DATANG SAKITMU, KAYAMU SEBELUM DATANG FAKIRMU, WAKTU LUANGMU SEBELUM DATANG WAKTU SIBUKMU DAN HIDUPMU SEBELUM DATANG MATIMU”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; HR. Al Hakim, Al Baihaqi dan di shahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1077. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: “Abdullah bin Umar senantiasa mengucapkan: &lt;b&gt;“Jika kamu masuk waktu sore maka janganlah menunggu waktu pagi dan jika kamu masuk waktu pagi maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”.&lt;/b&gt; HR. Bukhari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;4)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Karena sifat malas adalah sifatnya munafik.&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;{إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا }&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; QS. An NIsa: 142.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;{وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ }&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan”. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;QS. At Taubah:54.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mari perhatikan perkataan yang sangat luar biasa ini …terutama bagi pemalas beribadah…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berkata Syeikh Al Mufassir Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;والكسل لا يكون إلا من فقد الرغبة من قلوبهم، فلولا أن قلوبهم فارغة من الرغبة إلى الله وإلى ما عنده، عادمة للإيمان، لم يصدر منهم الكسل تفسير السعدي (ص: 210)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" id="yui_3_2_0_1_1319531175805381" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artinya: &lt;b id="yui_3_2_0_1_1319531175805382"&gt;“Sikap malas tidak akan ada kecuali bagi siapa yang telah kehilangan keinginan (terhadap kebaikan) dari hati-hati mereka, maka kalau seandainya hati-hati mereka tidak terlepas dari keinginan kepada Allah dan (keinginan) kepada apa yang ada di sisi-Nya (yang disediakan-Nya berupa nikmat) dan hilangnya iman, maka tidak akan keluar dari mereka sikap malas”.&lt;/b&gt; Lihat tafsir As Sa’diy, hal. 210.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-3001373978922461560?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/3001373978922461560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=3001373978922461560' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3001373978922461560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3001373978922461560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/10/termasuk-tingkat-kejeniusan-yang-sangat.html' title='Ciri Orang Cerdas Menghadapi Dzulhijjah'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-8830487276529652938</id><published>2011-10-24T20:34:00.000-07:00</published><updated>2011-11-27T11:42:30.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi'/><title type='text'>Sukses Itu...</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: center;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;"طريقة السلف أسلم وطريقة الخلف أعلم وأحكم"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 115%;"&gt;يقول شيخالاسلام ابن التيمية رحمه الله: "هذه قالها بعض الأغبياء"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Thoriqothus SalafAslam wa Thoriqothul Kholaf 'Alam wa Ahkam"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah &lt;i&gt;rahimahullahu&lt;/i&gt;berkata: &lt;b&gt;"Ini adalah perkataan sebagian orang bodoh."&lt;/b&gt; Benar,memang benar yang mengatakan demikian adalah orang yang bodoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kalimat di atas tidak lebihdari kebohongan yang paling bohong, bagaimana bisa ada yang lebih tahu dan berhikmahtetapi yang lainnya lebih selamat?! Padahal tidak ada keselamatan tanpa ilmudan hikmah!! Maka orang yang tidak tahu sebuah jalan, tidaklah akan selamat,karena tidak ada padanya ilmu. Kalau memang berilmu dan berhikmah makadipastikan akan selamat, tidak ada keselamatan kecuali dengan ilmu dan hikmah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jika Anda katakan: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnyajalannya para salaf (orang2 yang terdahulu) lebih selamat,"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; makaharus juga kau katakan:&lt;b&gt; &lt;i&gt;"mereka lebih mengetahui dengan ilmu danhikmah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Jika tidak demikian, maka perkataan Anda bertentangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jadi, tata cara ibadah yangbenar adalah tata cara para salafus shalih yang lebih selamat dan mengetahuidengan ilmu dan hikmah, inilah yang maklum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Membaca kitab &lt;b&gt;"&lt;i&gt;Al-AqidahAl-Washithiyah&lt;/i&gt;"&lt;/b&gt; mengingatkan saya ke masa sekolah dulu di sebuahkampung terpencil di sebuah kota kecil di pulau Jawa. Sekolah tersebut menjadi sangatterkenal saat lulusannya "sukses" di pelbagai lapangan kehidupan. Mungkin,saya di antara alumni sekolah tersebut yang tidak atau belum "sukses."Tetapi memang, perlu diperjelas standar "sukses" ini; apakah diukurkeberhasilan meraih materi yang banyak, terkenal, menjadi tokoh masyarakat,politisi, atau parameter lain yang kasat mata? "Orang yang besar (sukses)adalah yang mau mengajar meskipun di surau kecil." Begitu wasiat yangsangat terkenal dari salah satu pendiri sekolah tersebut. Lagi-lagi,barangkali, saya tidak atau belum termasuk kategori tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sementara arti kata"sukses" jika dirujuk ke &lt;b&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)&lt;/b&gt;artinya berhasil, beruntung. Dalam bahasa Arab ada tiga kata yang semaknadengan kata sukses dalam arti berhasil atau beruntung, yaitu&lt;i&gt; &lt;b&gt;falah, fauz,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan&lt;i&gt; &lt;b&gt;najah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Ketiga termainilah yang sering diulang-ulang dalam Al Qur`an. Bedanya, sukses menurutAl-Qur`an tidaklah bebas makna, tetapi terikat dengan prasyarat yang harusdilakukan seseorang untuk dapat meraihnya. Hal ini seperti yang terekam padasurah Al-Baqarah ayat 2-5. Di rangkaian ayat tersebut, ternyata orang-orangyang beruntung (&lt;b&gt;&lt;i&gt;muflih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dari kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;falah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;), adalahyang diberi petunjuk dengan mengimani Al-Qur`an dan kitab-kitab sebelumnyatanpa ada keraguan, mendirikan shalat, menafkahkan rezki, dan beriman kepadakehidupan akhirat. Sepadan dengan orang yang &lt;b&gt;&lt;i&gt;muflih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp; (beruntung) di ayat lain disebutkan, adalahorang yang selalu mengajak kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma'ruf danmencegah dari yang munkar (QS. Ali Imran: 104). Kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;muflihun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang berarti jamak (orang-orang yang beruntung) juga disebut di surahAl-Mujadilah ayat 22. Bahkan melengkapi dan menjelaskan balasan orang-orangyang beruntung menurut kriteria Al-Quran ini. Berikut arti ayatnya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"&lt;span class="gen"&gt;Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hariakhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah danRasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atausaudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telahmenanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yangmengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridhaterhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah ituadalah golongan yang beruntung.&lt;/span&gt;"&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata kedua dalam bahasa Arab,sukses adalah &lt;b&gt;&lt;i&gt;fauz&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Ayat yang merekam orang yang &lt;b&gt;&lt;i&gt;fauz&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;ini adalah surah An-Nuur ayat 52: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"&lt;span class="gen"&gt;Dan barang siapayang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwakepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Tidak hanya sukses (&lt;b&gt;&lt;i&gt;fauz&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;)biasa, tetapi juga di ayat 70-71 di surah Al-Ahzab, Allah berfirman: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"&lt;span class="gen"&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dankatakanlah perkataan yang benar. niscaya Allah memperbaiki bagimuamalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaatiAllah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yangbesar."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class="gen"&gt;&amp;nbsp;Ada juga kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;faizun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;(dari kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;fauz&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;) untuk kelompokyang beruntung dengan balasan surga dan kekal di dalamnya terdapat dalam surahAl-Hasyr ayat 20 dan Al-Fath ayat 5. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dari ayat-ayat yang disebutdi atas, jelas bahwa kesuksesan seseorang itu ukurannya bukan (hanya) duniawi,tetapi justru setelah hidup di dunia ini. Dan menjadi "sukses"dilandasari prasyarat iman, yang muaranya kepada tauhid. Firman Allah: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"&lt;span class="gen"&gt;Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman merekadengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalahorang-orang yang mendapat petunjuk&lt;/span&gt;."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp; (QS. Al-An'am: 83). Dalam hadits ShahihBukhari, diceritakan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat merasa sedihbukan kepalang, karena mereka merasa belum terbebas sama sekali darikezhaliman. Maka Nabi &lt;i&gt;shallallahu&lt;/i&gt; &lt;i&gt;'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjelaskanbahwa kezhaliman di sini bukanlah sembarang kezhaliman, namun maksudnya adalahkezhaliman terbesar alias syirik, sebagaimana perkataan Luqman Al-Hakim taktalamenasehati anaknya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"&lt;span class="gen"&gt;Dan (ingatlah) ketika Luqmanberkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Haianakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class="gen"&gt;&amp;nbsp;(QS. Luqman: 13). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tauhid adalah derivasi darikata &lt;i&gt;wahhada-yuwahhidu-tauhidan&lt;/i&gt;, yang artinya menyatukan. Secara istilah&lt;i&gt;syar'i&lt;/i&gt;, tauhid adalah &lt;b&gt;mengesakan Allah dalam apa saja yang menjadikekhususanNya&lt;/b&gt;. Ulama &lt;i&gt;salaf shalihin&lt;/i&gt; membagi tauhid mejad tiga; &lt;b&gt;&lt;i&gt;tauhidrububiyah, asma` wa sifat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;uluhuiyah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;Tauhidrububiyah&lt;/i&gt; adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan Allah, seperti:menciptakan, mengatur alam, menghidupkan, mematikan, memberikan rizqi danlain-lainnya yang merupakan kekhushushan-kekhushushan Allah. Yang kedua, tauhid&lt;i&gt;asma` wa sifat&lt;/i&gt; mencakup penetapan nama-nama dan sifat-sifat yang telahditetapkan oleh Allah untuk diriNya sendiri di dalam al Quran, dan telahdisampaikan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tanpamenyerupakanNya dengan makhluk, atau mem-bagaimana-kannya, serta meniadakan apayang Allah tiadakan untuk diriNya dan ditiadakan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shalllallahu'alaihi&amp;nbsp; wa sallam&lt;/i&gt; dalam haditsnyatanpa merubah (&lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt;), dan meniadakannya (&lt;i&gt;ta'thil&lt;/i&gt;). Dan yangketiga, tauhid &lt;i&gt;uluhiyah&lt;/i&gt; , merupakan tauhid ibadah, yaitu mengesakan Allah dalamseluruh amalan ibadah yang Allah perintahkan seperti berdoa, &lt;i&gt;khouf&lt;/i&gt;(takut), &lt;i&gt;raja’&lt;/i&gt; (harap), &lt;i&gt;tawakkal, raghbah&lt;/i&gt; (berkeinginan), &lt;i&gt;rahbah&lt;/i&gt;(takut), &lt;i&gt;k&lt;/i&gt;&lt;i&gt;husyu’, &lt;/i&gt;&lt;i&gt;k&lt;/i&gt;&lt;i&gt;hasyah&lt;/i&gt; (takut disertai pengagungan), &lt;i&gt;taubat&lt;/i&gt;,minta pertolongan, menyembelih, &lt;i&gt;nazar&lt;/i&gt; dan ibadah yanglainnya yang diperintahkanNya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: small;"&gt;Begitulah ajaran tauhid untuk meraih"&lt;b&gt;sukses&lt;/b&gt;" yang hakiki dari para generasi salaf shalihin. Merekabukan yang paling "&lt;i&gt;aslam&lt;/i&gt;" tanpa ilmu, tetapi dengan ilmu danhikmah dipastikan "&lt;i&gt;aslam&lt;/i&gt;." Terima kasih Gontor, telah memberibekal untuk membaca &lt;b&gt;"&lt;i&gt;Al-Aqidah Al-Washithiyah&lt;/i&gt;"&lt;/b&gt;lebih detail dan (mencoba) untuk diamalkan. &lt;i&gt;Wallahu 'alam.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-8830487276529652938?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/8830487276529652938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=8830487276529652938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/8830487276529652938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/8830487276529652938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/10/sukses-itu.html' title='Sukses Itu...'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-3195844752075159113</id><published>2011-09-28T20:42:00.000-07:00</published><updated>2011-11-27T11:39:01.804-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="5" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td height="10"&gt;&lt;div align="center" dir="rtl"&gt;&lt;span style="color: blue; font-size: large;"&gt;{ولهن مثل الذي  عليهن بالمعروف..}!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td height="10"&gt;&lt;div align="left" dir="rtl"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="center"&gt;&lt;td height="10"&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;&lt;span style="color: maroon; font-size: medium;"&gt;خالد عبداللطيف&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td dir="rtl" height="10"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;      &lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="color: red; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;كثيرة هي النصوص التي تشدد على حق الزوج على امرأته وتصفه بأوصاف عظيمة؛ حتى  قال النبي صلى الله عليه وسلم: "لو أمرت أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن  تسجد لزوجها" (رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني). بل حث نبي الهدى صلى الله  عليه وسلم المرأة - وإنْ ظلمت! - أن تصبر ولا تذوق نوما حتى يرضى زوجها؛ ويذهب  ما في نفسه..!&lt;br /&gt;&amp;nbsp;ولم تكن هذه التضحيات الكبيرة من المرأة الصالحة لتذهب سدى، بل وعدت في مقابلها  بما تتصاغر أمامه هذه التضحيات، وعدت بالجنة، منتهى الآمال ومحط الرّحال! &lt;br /&gt; فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إذا صلت المرأة خمسها، وصامت شهرها وحفظت  فرجها وأطاعت بعلها دخلت من أي أبواب الجنة شاءت" (رواه أحمد وغيره، وصححه  الألباني). &lt;br /&gt; وقال صلى الله عليه وسلم : "ألا أخبركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الودود الولود  العئود التي إذا ظلمت قالت: هذه يدي في يدك لا أذوق غمضا حتى ترضى" (رواه  الدارقطني، وحسّنه الألباني). &lt;br /&gt; لكن الذين يؤمنون بالكتاب كله، ويتبعون هَدْي محمد صلى الله عليه وسلم، يجدون  في شواهد السنة والسيرة ما يهب للنساء مثل ذلك من الحقوق والمراعاة والاهتمام..  تروي لنا طرفا من ذلك أم المؤمنين عائشة – رضي الله عنها – فتقول: "لما كانت  ليلتي التي كان النبي فيها عندي، وظن أني قد رقدت، فخرج، فانطلقت على أثره)  ظنتْ أنه ذهب إلى إحدى نسائه) حتى جاء البقيع، ثم انحرف فانحرفت، فأسرع فأسرعت،  فهرول فهرولت، فسبقته.. فدخل فقال: مالك يا عائش حشياً رابية؟َ! (أي يخفق صدرك  كثيراً) فأخبرته.. قال :أظننت أن يحيف الله عليك ورسوله؟!" ( رواه مسلم(. &lt;br /&gt; فلم يعنفها أو يؤنبها، بل أعلمها - صلى الله عليه وسلم - بأنه لم ولن يظلمها..  مطيّبا خاطرها ومرخما اسمها (يا عائش).. في عبارات ملؤها الرفق والمودة  والحنان!&lt;br /&gt; إن عظم حق الرجل على امرأته لا يعني سلب حقها المماثل في حسن العشرة والمعاملة،  أو منحه الصلاحيات المطلقة عليها دون مراعاة لجانبها بمثل ما أمرت به تجاهه من  البذل والتواضع.. وقد جمع ذلك في قوله تعالى: {وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي  عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ}؛ حتى قال ابن عباس - رضي الله عنهما - في تفسيرها:  "إني لأتزين للمرأة كما أحب أن تتزين لي". وفسّر الإمام الطبري "الدرجة" في  قوله تعالى بعدها: {وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ} بمزيد من الأعباء  المطلوبة من الرجل!&lt;br /&gt; إنه ميزان العدل الذي تستقيم به شراكة الحياة؛ يأمر به القرآن، وتنطق به السنة،  وتشهد له السيرة؛ فحريٌّ بمن يؤمنون بالكتاب كله، ويتبعون خير الهدي، أن  يستلهموا منه نورا يضيء جنبات بيوتهم!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-3195844752075159113?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/3195844752075159113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=3195844752075159113' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3195844752075159113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3195844752075159113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/09/blog-post.html' title=''/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-3375686059038954609</id><published>2011-09-24T21:14:00.000-07:00</published><updated>2011-11-27T11:43:39.149-08:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Pak Ustadz</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div dir="LTR" id="yui_3_2_0_1_1315594572499186" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Dikisahan:&lt;/b&gt; pada suatu hari Abdullah bin Ahmad al-Khasyab berniat membeli buku-buku penting seharga lima ratus &amp;nbsp;dinar, akan tetapi berhubung saat itu kantong dia lagi kempes, maka dia-pun minta kepada si pemilik toko buku agar memberikan jeda waktu selama tiga hari. Lantas al-Khasyab pulang sambil berpikir bagaimana caranya membayar buku-buku yang dia ingini. Hingga akhirnya dia menemukan suatu ide yang cukup “cemerlang”: &amp;nbsp;melelang satu-satunya rumah yang dia miliki!. Singkat cerita terjuallah rumahnya seharga lima ratus dinar, lantas dia-pun bergegas membayarkan uang tersebut dan membawa pulang buku-buku idamannya[1].&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" id="yui_3_2_0_1_1315594572499186" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Demikianlah kecintaan para ulama kita terhadap kitab-kitab ilmu, meskipun harus rela mengorbankan rumah tempat tinggal satu-satunya.&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kita yang hidup di zaman modern; segala ada dan mudah didapat, ditambah karunia &lt;i&gt;mukafa’ah&lt;/i&gt; tiap bulan (yang barangkali lebih besar dari gaji seorang pak kades) seharusnya lebih menaruh perhatian yang ekstra dalam mengumpulkan buku-buku yang bermanfaat. Apalagi kita juga bukanlah model Imam Syafi’i &lt;i&gt;–rahimahullah-&lt;/i&gt; yang memiliki kemampuan menghapal luar biasa; ilmu kita lebih banyak berada di atas kertas dari pada di dalam otak. Nah, jika ilmu yang di otak kita amat minimal, lantas ditambah tidak punya referensi yang memadai, apa yang akan kita jadikan bekal dalam mengarungi medan dakwah di masyarakat tanah air kita yang terdiri dari berbagai corak dan warna?. Yakinlah bahwa mereka tidak akan hanya bertanya kepada kita tentang pelajaran-pelajaran yang kita dapati di fakultas masing-masing saja, tapi mereka juga akan bertanya tentang hal-hal yang diajarkan di fakultas-fakultas lain, yang itu tidak kita dapatkan di fakultas yang kita duduki. Kalau kita tidak memiliki referensi di tiap bidang ilmu, bagaimana kita bisa “melayani” kebutuhan masyarakat?.&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Di sisi lain, ada suatu fenomena yang sangat memprihatinkan; tatkala sebagian mahasiswa lebih memilih ber”foya-foya” dengan &lt;i&gt;mukafa’ah&lt;/i&gt; yang diraup, daripada memanfaatkannya di jalan yang diridhai oleh Allah I (baca: antara lain membeli buku-buku yang bermanfaat).&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Ma’radh kitab&lt;/i&gt; yang kita nanti-nantikan semoga sebentar lagi tiba. Aneka ragam sikap para mahasiswa dalam menyambutnya; ada yang sibuk nyari &lt;i&gt;musa’adah&lt;/i&gt;, ada yang menghitung-hitung uang simpanan yang telah dia kumpulkan dari awal tahun, ada yang mencukupkan diri dengan &lt;i&gt;badal kutub&lt;/i&gt; yang diterima, ada juga yang &lt;i&gt;adem ayem&lt;/i&gt; cuek, dan ada pula yang bingung tanya kesana-kemari; buku apa yang seharusnya dibeli?, &lt;i&gt;tahqiq&lt;/i&gt;nya siapa yang bagus, cetakan mana yang &lt;i&gt;mu’tamad&lt;/i&gt;? dll.&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Beranjak dari keinginan berbagi pengalaman, serta keprihatinan penulis tatkala melihat sebagian teman-teman lebih cenderung mengoleksi buku-buku yang kurang bermanfaat sebelum memiliki &lt;i&gt;ummahaatul kutub&lt;/i&gt; di tiap bidang ilmu, kami berusaha menyusun tulisan ini. Di sini penulis berusaha menyebutkan buku-buku terpenting dalam setiap bidang studi ilmu, dan tidak bermaksud untuk menyebutkan semua buku yang penting; karena selain waktu yang terbatas, juga kalau demikian halnya, daftar ini akan membengkak menjadi berpuluh-puluh halaman. Semoga di lain kesempatan, hal tersebut bisa direalisasikan, &lt;i&gt;amien.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Mungkin juga ada yang berkomentar, “Ngapain beli buku, khan sudah ada cd &lt;i&gt;Maktabah Syamilah&lt;/i&gt;?!”. Jawabannya, “Cd gunanya adalah untuk membantu saja, dan tidak mungkin menggantikan posisi buku. Karena: Pertama: sering terjadi kesalahan tulis dalam cd. Kedua: Cd tidak bisa dipakai di mana-mana, karena untuk membukanya membutuhkan komputer, (kalaupun ada komputer di rumah, khan listrik mahal juga di negeri kita, sekarang kita enak di jami’ah gratis pakai listrik). Ketiga: Beda antara membaca layar komputer dengan membaca buku, jelas lebih mengasyikkan yang kedua, karena yang pertama mata kita lebih cepat cape. Keempat: Tidak semua buku yang kita butuhkan ada dalam cd, apalagi buku-buku kontemporer, seperti tesis dan disertasi yang tentunya amat kita butuhkan dalam mengarungi medan dakwah.&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Daftar buku-buku ini dikumpulkan dari berbagai referensi, antara lain: &lt;i&gt;‘Audah ila as-Sunnah&lt;/i&gt; karya Syeikh Ali bin Hasan al-Atsari, &lt;i&gt;Al-Manhajiyah Fi Thalab al-’Ilm &lt;/i&gt;&amp;nbsp;oleh Syeikh Shalih Alu Syaikh, &lt;i&gt;Kaifa Yabni Thalibu al-’Ilmi Maktabatahu &lt;/i&gt;&amp;nbsp;oleh Syeikh Abdul Karim Khudhair,&lt;i&gt; Barnamaj ‘Ilmi Muqtarah&lt;/i&gt; karya Usamah bin ‘Athaya, dll. Adapun &lt;i&gt;tahqiq&lt;/i&gt; yang tersebut di dalamnya, itu berdasarkan &lt;i&gt;ijtihad&lt;/i&gt; penulis semampunya. &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt; tulisan ini juga sempat di koreksi oleh beberapa &lt;i&gt;masyayikh.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Jika para pembaca yang budiman mendapatkan kekurangpasan data di dalam daftar ini, &lt;i&gt;insyaAllah&lt;/i&gt; dengan senang hati kami akan menerima koreksian itu.&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Anggaplah tulisan ini bagaikan setitik air di lautan padang pasir, yang semoga bisa membawa manfaat bagi para pembaca budiman. &lt;i&gt;Wallahua’lam bish shawab…&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="LTR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" dir="RTL"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/div&gt;&lt;div align="center" dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;من الكتب المهمة لطالب العلم &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" dir="RTL"&gt;(الإندونيسي)&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;1- العقيدة&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق والناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح الأصول الثلاثة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فهد بن ناصر – دار الثريا&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح كشف الشبهات (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فهد بن ناصر – دار الثريا&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فتح المجيد شرح كتاب التوحيد (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الرحمن بن حسن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الوليد آل فريان – دار الصميعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التنبيهات السنية على العقيدة الواسطية (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد العزيز الرشيد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الرشد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح العقيدة الطحاوية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن أبي العز&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني – المكتب الإسلامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عقيدة السلف أصحاب الحديث (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أبو عثمان الصابوني الشافعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الله الجديع – دار العاصمة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إرشاد الساري في شرح السنة للبربهاري (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحمد بن يحيى النجمي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الفرقان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;8&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الإبانة عن أصول الديانة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أبو الحسن الأشعري الشافعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;بشير محمد عيون – مكتبة المؤيد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;9&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;منهج أهل السنة ومنهج الأشاعرة (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;خالد بن عبد اللطيف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الغرباء (سابقا)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;موقف ابن تيمية من الأشاعرة (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الرحمن المحمود&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الرشد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;11&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;منهج الإمام الشافعي في إثبات العقيدة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد بن عبد الوهاب عقيل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أضواء السلف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;12&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;جهود الشافعية في تقرير توحيد العبادة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الله العنقري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار التوحيد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;13&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المجلى في شرح القواعد المثلى للعثيمين (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;كاملة الكواري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن حزم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;14&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تجريد التوحيد المفيد (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المقريزي الشافعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي العمران – دار عالم الفوائد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;15&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح أصول اعتقاد أهل السنة (5)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;اللالكائي الشافعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحمد حمدان – دار طيبة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;16&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;كتاب التوحيد (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن خزيمة الشافعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد العزيز الشهوان – مكتبة الرشد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;17&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;كتاب الشريعة (6)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الآجري الشافعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الله الدميجي – دار الوطن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;18&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الإبانة الكبرى (9)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن بطة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مجموعة من المحققين – دار الراية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;19&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مختصر الصواعق المرسلة (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الحسن العلوي – أضواء السلف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;2- التفسير&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تيسير الكريم الرحمن (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السعدي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سعد بن فواز الصميل – دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تفسير القرآن العظيم (8)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن كثير&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سامي السلامة – دار طيبة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;جامع البيان لتأويل آي القرآن (26)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الطبري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الله التركي – دار هجر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجامع لأحكام القرآن (12)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;القرطبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الكتب المصرية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فتح القدير (6)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الشوكاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الوفاء&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن (7)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد أمين الشنقيطي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار عالم الفوائد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التفسير الصحيح (5)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حكمت بشير&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار المآثر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;3- علوم القرآن&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مباحث في علوم القرآن (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مناع القطان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة المعارف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;البرهان في علوم القرآن (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الزركشي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد أبو الفضل إبراهيم – دار التراث&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;أسباب النـزول&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الاستيعاب في بيان الأسباب (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سليم الهلالي وموسى نصر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الصحيح المسند من أسباب النـزول (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مقبل بن هادي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أسباب النـزول (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الواحدي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;د. ماهر الفحل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;القراءات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حجة القراءات (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن زنجلة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سعيد الأفغاني – مؤسسة الرسالة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المغني في توجيه القراءات العشر المتواترة (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد سالم محيسين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;فهرس القرآن&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المعجم المفهرس لألفاظ القرآن (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد عبد الباقي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;التجويد&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التجويد الميسر (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد العزيز القاري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجامعة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;هداة القاري إلى تجويد كلام الباري (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الفتاح المرصفي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة طيبة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;مفردات القرآن&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مفردات ألفاظ القرآن (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الراغب الأصفهاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;صفوان عدنان – دار القلم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;إعراب القرآن&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إعراب القرآن وبيانه (10)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الدرويش&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن كثير&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجدول في إعراب القرآن (13)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمود صافي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الرشيد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;آداب حملة القرآن&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التبيان في آداب حملة القرآن (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;النووي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد القادر الأرنؤوط&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الأحكام الفقهية الخاصة بالقرآن (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد العزيز الحجيلان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;علم الناسخ والمنسوخ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الناسخ والمنسوخ في كتاب الله (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;النحاس&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سليمان اللاحم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;أصول التفسير&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح مقدمة أصول التفسير لابن تيمية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار مدار الوطن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;قواعد التفسير جمعاً ودراسة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;خالد السبت&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن عفان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;فضائل القرآن&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;موسوعة فضائل سور وآيات القرآن (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الطرهوني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;4- الحديث وشروحه&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;جامع العلوم والحكم (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن رجب&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;طارق عوض الله – دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح رياض الصالحين (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;توضيح الأحكام من بلوغ المرام (7)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الله البسام&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الميمان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فتح الباري شرح صحيح البخاري (18)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن حجر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أبو قتيبة الفريابي – دار طيبة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج (10)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;النووي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار المعرفة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عون المعبود شرح سنن أبي داود (10)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العظيم آبادي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سيصدر بتحقيق مشهور بن حسن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تحفة الأحوذي شرح جامع الترمذي (10)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المباركفوري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سيصدر بتحقيق مشهور بن حسن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;8&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سنن النسائي مع شرح السندي (5)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;النسائي والسندي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار المعرفة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;9&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سنن ابن ماجه (6)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن ماجه&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;بشار عواد – دار الجيل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تحفة الأخيار بترتيب شرح مشكل الآثار (10)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الطحاوي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أبو الحسن الرباط – دار بلنسية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;11&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;موسوعة شروح الموطأ: التمهيد والاستذكار والقبس (25)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن عبد البر وابن العربي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الله التركي – دارهجر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;12&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="243"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المسند (50)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="137"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحمد بن حنبل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شعيب الأرنؤوط – مؤسسة الرسالة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;5&lt;/b&gt;&lt;b&gt;- التخريج وعلمه&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سلسلة الأحاديث الصحيحة (11)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة المعارف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إرواء الغليل (9)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتب الإسلامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المدخل إلى علم التخريج (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الصمد عابد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التأصيل لأصول التخريج … (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;بكر أبو زيد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار العاصمة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;6- &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;مصطلح الحديث &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التعليقات الأثرية على المنظومة البيقونية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي بن حسن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;نزهة النظر بشرح نخبة الفكر (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن حجر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ضيف الله الرحيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تيسير مصطلح الحديث (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمود الطحان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة المعارف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تدوين السنة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الزهراني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الخضيري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;من أراد التوسع في علم مصطلح الحديث فليشتر الكتب التالية:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دراسات في الحديث النبوي (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الأعظمي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتب الإسلامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الباعث الحثيث (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحمد شاكر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي بن حسن الحلبي – دار العاصمة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تدريب الراوي (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السيوطي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;طارق عوض الله&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;8&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فتح المغيث (5)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="108"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السخاوي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="263"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الكريم الخضير – دار المنهاج&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;7- الرجال &amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="231"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تقريب التهذيب (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن حجر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="231"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أبو الأشبال – دار العاصمة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سير أعلام النبلاء (28)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الذهبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="231"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شعيب الأرنؤوط – مؤسسة الرسالة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علم الرجال نشأته وتطوره (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الزهراني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: justify;" valign="top" width="231"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الخضيري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;8&lt;/b&gt;&lt;b&gt;- غريب الحديث &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="231"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;النهاية في غريب الحديث (5)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن الأثير&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="231"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمود الطناحي – المكتبة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;9- الفقـه &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;الفقه المختصر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الملخص الفقهي (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;صالح الفوزان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار العاصمة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;منهج السالكين وتوضيح الفقه في الدين (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السعدي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أشرف بن عبد المقصود&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد العظيم بن بدوي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن رجب&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التعليقات الرضية على الروضة الندية (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني وصديق حسن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي بن حسن الحلبي – دار ابن عفان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;الفقه المقارن&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;بداية المجتهد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن رشد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المغني (15)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن قدامة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الله التركي – دار عالم الكتب&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المجموع شرح المهذب (23)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;النووي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الإرشاد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المحلى (10)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن حزم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحمد شاكر – دار الفكر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;نيل الأوطار (12)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الشوكاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;طارق عوض الله – دار ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الشرح الممتع (12)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;الفقه الشافعي&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;موسوعة الإمام الشافعي (الأم والرسالة وغيرهما) (10)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الشافعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;رفعت فوزي – دار الوفاء&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مغني المحتاج في شرح المنهاج (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الخطيب الشربيني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار المعرفة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;كفاية الأخيار شرح متن أبي شجاع (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تقي الدين الدمشقي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار المعرفة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;الفقه الموضوعي&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;صفة صلاة النبي r (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة المعارف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;صفة وضوء النبي r (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فهد الشويب&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة ابن تيمية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;صفة صوم النبي r (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي بن حسن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;صفة حجة النبي r (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتب الإسلامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحكام الجنائز (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة المعارف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحكام التصوير في الفقه الإسلامي (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد بن أحمد واصل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار طيبة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;فقه النوازل&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فقه النوازل دراسة تأصيلية تطبيقية (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الجيزاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;10- أصول الفقه &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الواضح في أصول الفقه (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد سليمان الأشقر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الدار السلفية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح الأصول من علم الأصول (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار البصيرة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التحقيقات والتنقيحات السلفيات على متن الورقات للجويني (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مشهور بن حسن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الإمام مالك&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مذكرة أصول الفقه (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الأمين الشنقيطي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار عالم الفوائد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;معالم أصول الفقه عند أهل السنة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الجيزاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;من أراد التوسع في أصول الفقه فليشتر الكتب التالية:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المستصفى (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الغزالي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الأشقر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;روضة الناظر وجنة المناظر (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن قدامة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الكريم النملة – مكتبة الرشد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;8&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الموافقات (6)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الشاطبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مشهور بن حسن – دار ابن عفان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;9&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إعلام الموقعين (7)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مشهور بن حسن – دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح الكوكب المنير (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن النجار الفتوحي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الزحيلي – مكتبة العبيكان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;11- القواعد الفقهية &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;القواعد والأصول الجامعة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السعدي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;خالد المشيقيح – دار الوطن&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;منظومة أصول الفقه وقواعده (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الفوائد الجنية حاشية المواهب السنية (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الفاداني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار البشائر الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;12- مقاصد الشريعة&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مذكرة المقاصد (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سعد الشثري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="44"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مقاصد الشريعة الإسلامية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد اليوبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الهجرة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;13- &lt;b&gt;الفرائض &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الهدية في شرح الرحبية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;رشيد القيسي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار العاصمة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الفوائد الجلية في المباحث الفرضية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن باز&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الفرائض (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الصمد الكاتب&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجامعة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التحقيقات المرضية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;صالح الفوزان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="230"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة المعارف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;14- النحو والصرف &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;النحو المستطاب (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد العزيز الأهدل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار طيبة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;جامع الدروس العربية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مصطفى الغلاييني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة العصرية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الحلل الذهبية على التحفة السنية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد بن قائد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الآثار&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح شذور الذهب (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن هشام&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد محيي الدين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح ابن عقيل (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن عقيل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد محيي الدين – دار التراث&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;15&lt;/b&gt;&lt;b&gt;- مفردات اللغة &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مختار الصحاح (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الرازي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المعجم الوسيط (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مجمع اللغة العربية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الدعوة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;لسان العرب (18)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن منظور&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أمين محمد – دار احياء التراث&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التعريفات (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجرجاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;النـزعة النصرانية في قاموس المنجد (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إبراهيم عوض&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الفاروق&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;16&lt;/b&gt;&lt;b&gt;- البلاغة &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علوم البلاغة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحمد مصطفى المراغي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الكتب العلمية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دلائل الإعجاز (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد القاهر الجرجاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة العصرية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شرح كتاب البلاغة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار غراس&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;17- الأدب&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="255"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="255"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أدب الكاتب (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن قتيبة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الدالي – مؤسسة الرسالة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="255"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تاريخ الأدب العربي (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحمد حسن الزيات&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار نهضة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="255"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تحت راية القرآن المعركة بين القديم والحديث (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مصطفى صادق الرافعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الكتاب العربي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;من أراد التوسع فليشتر هذه الكتب:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="255"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;البيان والتبيين (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجاحظ&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8738417815475296584" name="_ftnref2" rel="nofollow" title=""&gt;&lt;/a&gt;[2]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد السلام هارون – مكتبة الخانجي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="255"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الانحراف العقدي في أدب الحداثة وفكرها (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="142"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سعيد بن ناصر الغامدي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الأندلس الخضراء&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;18- قواعد الإملاء&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="252"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="252"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;معجم قواعد الإملاء&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أميل يعقوب&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="252"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;التعليقات الضياء على رسالة الإملاء (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="156"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار غراس&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;19- السيرة &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left; width: 655px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الرحيق المختوم (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;صفي الرحمن المباركفوري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فقه السيرة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد الغزالي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تخريج الألباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السيرة النبوية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الذهبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حسام الدين القدسي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مختصر الشمائل المحمدية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السيرة النبوية في ضوء المصادر الأصيلة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مهدي رزق الله&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مركز الملك فيصل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;زاد المعاد (6)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شعيب الأرنؤوط&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الروض الأنف في تفسير سيرة ابن هشام (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السهيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;طه عبد الرؤوف&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;20&lt;b&gt;- التاريخ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الشماريخ في علم التاريخ (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السيوطي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد بن إبراهيم الشيباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دول الإسلام (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الذهبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حسن إسماعيل – دار صادر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المختصر في علم التاريخ (1)&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8738417815475296584" name="_ftnref3" rel="nofollow" title=""&gt;&lt;/a&gt;[3]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الكافيجي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حقبة من التاريخ (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عثمان بن محمد الخميس&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن الجوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;البدابة والنهاية (21)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن كثير&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الله التركي – دار هجر&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;من أراد التوسع فليشتر:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تاريخ الإسلام (18)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الذهبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;بشار عواد – دار الغرب الإسلامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;21- الأخلاق والسلوك &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الأخلاق والسير في مداواة النفوس (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن حزم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الحق التركماني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الإخلاص (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حسين العوايشة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الفوائد (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سليم الهلالي – مكتبة الرشد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الوابل الصيب (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الرحمن بن قائد – دار عالم الفوائد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مختصر منهاج القاصدين (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن قدامة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي بن حسن الحلبي – دار عمار&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فقه الأخلاق والمعاملات (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مصطفى العدوي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ماجد عسيري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;من أراد التوسع فليشتر:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مدارج السالكين (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد العزيز الجليل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;8&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الآداب الشرعية (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن مفلح&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;شعيب الأرنؤوط – مؤسسة الرسالة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;9&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مجموع رسائل ابن رجب (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن رجب&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أبو مصعب الحلواني – الفاروق الحديثة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;22- الأدعية والأذكار &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عجالة الراغب المتمني في تخريج عمل اليوم والليلة لابن سني (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سليم الهلالي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن حزم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;نيل الأوطار بتخريج أحاديث كتاب الأذكار للنووي (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="141"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سليم الهلالي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="236"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن حزم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;23- فقه الدعوة &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;منهج الأنبياء في الدعوة إلى الله (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ربيع بن هادي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الفرقان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الدعوة إلى الله بين التجمع الحزبي والتعاون الشرعي (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي بن حسن الحلبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الصحابة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أضواء على طريق الدعوة إلى الإسلام (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد أمان الجامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتب الإسلامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أسس منهج السلف في الدعوة إلى الله (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فواز السحيمي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن عفان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مدارك النظر في السياسة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الملك رمضاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الفرقان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;لماذا اخترت المنهج السلفي (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سليم الهلالي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار ابن القيم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إرشاد البرية إلى شرعية الانتساب للسلفية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حسن الريمي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار لآثار (الطبعة الثانية)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;8&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="291"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ست درر من أصول أهل الأثر (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="164"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد الملك رمضاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="155"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الأصالة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;24- دفاع عن السنة &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;منـزلة السنة في الإسلام&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الألباني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;منـزلة السنة في التشريع الإسلامي (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد أمان الجامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجامعة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مفتاح الجنة في الاعتصام بالسنة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السيوطي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;بدر البدر – مؤسسة الريان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السنة ومكانتها في التشريع الإسلامي (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مصطفى السباعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتب الإسلامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المدخل إلى توثيق السنة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;جيهان رفعت فوزي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العقلانيون أفراخ المعتزلة العصروين (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي بن حسن الحلبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة الغرباء&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;25- البدع &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;البدعة وأثرها السيء في الأمة (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سليم الهلالي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;السنن والمبتدعات (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد عبد السلام الشقيري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;-&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الإبداع في مضار الابتداع (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي محفوظ&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سعيد بن ناصر – مكتبة الرشد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علم أصول البدع (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علي بن حسن الحلبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الراية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الحوادث والبدع (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الطرطوشي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد المجيد تركي – دار الغرب الإسلامي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الاعتصام (4)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الشاطبي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مشهور بن حسن – مكتبة التوحيد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حقيقة البدعة وأحكامها (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سعيد الغامدي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العلوم والحكم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;8&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;موقف أهل السنة من أهل الأهواء (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إبراهيم الرحيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العلوم والحكم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;9&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;بدعة التعصب المذهبي (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد عيد عباسي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة الإسلامية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;26- الملل والنحل&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الفرق بين الفرق (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;عبد القاهر البغدادي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد محيى الدين – دار المعرفة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مقالات الاسلاميين (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أبو الحسن الأشعري&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد محيي الدين – المكتبة العصرية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجماعات الإسلامية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;سليم الهلالي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار البصيرة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الموسوعة الميسرة في الأديان والمذاهب (2)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إشراف مانع الجهني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الندوة العالمية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الجواب الصحيح لمن بدل دين المسيح (7)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن تيمية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مجموعة من المحققين – دار العاصمة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="4" valign="top" width="655"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;من أراد التوسع فليشتر:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الفصل في الملل والأهواء والنحل (5)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن حزم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;محمد إبراهيم نصر – دار الجيل&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="233"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فرق معاصرة (3)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="165"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;غالب العواجي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="213"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;المكتبة العصرية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;27- الفتاوى&lt;/b&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8738417815475296584" name="_ftnref4" rel="nofollow" title=""&gt;&lt;/a&gt;[4]&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مجموع فتاوى شيخ الإسلام (24)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن تيمية&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العبيكان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مجموع فتاوى ورسائل العثيمين (24)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العثيمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الثريا&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مجموع فتاوى ومقالات متنوعة (27)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;ابن باز&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار القاسم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;فتاوى اللجنة الدائمة للإفتاء (26)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;اللجنة الدائمة للإفتاء&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار المؤيد&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الفتاوى الشرعية في المسائل العصرية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;علماء الحرمين&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;إعداد خالد الجريسي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مجموع فتاوى الوادعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مقبل بن هادي الوادعي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;جمع صادق البيضاني&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;28- التربية&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="157"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أصول التربية الإسلامية (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="157"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;خالد الحازمي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="216"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار الزمان&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;29- مبادىء هدامة&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" id="yui_3_2_0_1_1315594572499224" style="text-align: right;"&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" dir="rtl" id="yui_3_2_0_1_1315594572499223" style="margin-left: auto; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;الرقم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;عنوان الكتاب وعدد المجلدات&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المؤلف&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;المحقق أو الناشر&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الصهيونية وموقف الإسلام منها(1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حمود الرحيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العلوم والحكم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الماسونية وموقف الإسلام منها (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حمود الرحيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العلوم والحكم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الرأسمالية وموقف الإسلام منها (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حمود الرحيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العلوم والحكم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;4&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;الشيوعية وموقف الإسلام منها(1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حمود الرحيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العلوم والحكم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;العلمانية وموقف الإسلام منها (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;حمود الرحيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العلوم والحكم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;6&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;موقف الإسلام من نظرية ماركس (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;أحمد العوايشة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;دار مكة&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="239"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;تحصين المجتمع المسلم ضد الغزو الفكري (1)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="169"&gt;&lt;div dir="RTL" id="yui_3_2_0_1_1315594572499219"&gt;حمود الرحيلي&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="219"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;مكتبة العلوم والحكم&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" id="yui_3_2_0_1_1315594572499206" style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" id="yui_3_2_0_1_1315594572499203" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" id="yui_3_2_0_1_1315594572499203" style="text-align: right;"&gt;وفي الختام أوصي نفسي وأحبتي طلاب العلم باقتناء كتب شيخ الإسلام ابن تيمية وتلميذه ابن القيم كلها بلا استثناء, لما فيها من التحقيقات النفيسة في كثير من المسائل الشرعية. وأسأل الله لي التيسير في وضع جدول مستقل -لاحقاً- أذكر فيه أفضل طبعات تلك الكتب, مع بيان أسماء كتب شيخ الإسلام التي طبعت مفردة وهي موجودة في مجموع الفتاوى, وأسماء كتب شيخ الإسلام التي لا توجد ضمن مجموع الفتاوى.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;وفق الله الجميع لما يحبه ويرضاه, وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" id="yui_3_2_0_1_1315594572499200" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" id="yui_3_2_0_1_1315594572499200" style="text-align: right;"&gt;المدينة النبوية, 9 ربيع الثاني 1427 هـ&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;أبو عبد الرحمن الإندونيسي&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="yui_3_2_0_1_1315594572499194"&gt;&lt;hr align="right" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="yiv1953753026ftn1"&gt;&lt;div dir="LTR"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8738417815475296584" name="_ftn1" rel="nofollow" title=""&gt;&lt;/a&gt;[1] Adz-Dzail ‘Ala Thabaqat al-Hanabilah (1/319).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="yiv1953753026ftn2" style="text-align: right;"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8738417815475296584" name="_ftn2" rel="nofollow" title=""&gt;&lt;/a&gt;[2] قال الشيخ علي بن حسن: وهو معتزلي المذهب, فينبغي الحذر من بدعته, مع الانتفاع ببراعته في الأدب.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="yiv1953753026ftn3" style="text-align: right;"&gt;&lt;div dir="RTL"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8738417815475296584" name="_ftn3" rel="nofollow" title=""&gt;&lt;/a&gt;[3] وهو مطبوع ضمن كتاب ((علم التاريخ عند المسلمين)) تأليف فرانز روزنثال, ترجمة صالح أحمد العلي, نشر مؤسسة الرسالة.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="yiv1953753026ftn4"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="RTL" id="yui_3_2_0_1_1315594572499193" style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8738417815475296584" name="_ftn4" rel="nofollow" title=""&gt;&lt;/a&gt;[4] أغلب هذه الفتاوى توزع مجانا من قبل ((الوزارة)) أو ((دار الإفتاء)) بالرياض لخريجي الجامعة الإسلامية, إلا فتاوى الشيخ العثيمين ومجموع فتاوى الوادعي والفتاوى الشرعية في المساءل العصرية.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-3375686059038954609?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/3375686059038954609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=3375686059038954609' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3375686059038954609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3375686059038954609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/09/perpustakaan-pak-ustadz.html' title='Perpustakaan Pak Ustadz'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>2nd Industrial, KSA</georss:featurename><georss:point>26.3926665 49.9777136</georss:point><georss:box>25.937948000000002 49.3459996 26.847385 50.609427600000004</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-5968004180399255809</id><published>2011-04-15T11:52:00.000-07:00</published><updated>2011-11-27T11:41:51.616-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Citamu dan Citaku</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;  mso-para-margin:0mm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;Sejauh mata memandang dan cakrawala melenyap&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;Setinggi langit ketujuh dan seribu batas nuansa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;Ku menatapa citaku yang melampaui semua&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;Ia yang Maha Sempurna, Ya, Hanya Ia Yang Maha Sempurna&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 216pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dalam salah satu magnus opusnya, &lt;i&gt;"The Art of Love",&lt;/i&gt; Eric Fromn menjelaskan beda dua buah keadaan jiwa manusia; &lt;i&gt;being &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;becoming&lt;/i&gt;. Terjemahan secara tepat kedua istilah ini ke dalam peristilahan Indonesia secara akurat sangat sulit.&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Modus &lt;i&gt;being &lt;/i&gt;merupakan satu keadaan dimana seseorang &lt;i&gt;telah merasa &lt;/i&gt;menjadi sesuatu. Misalnya, saya &lt;i&gt;telah menjadi &lt;/i&gt;santri Gontor, saya &lt;i&gt;telah menjadi &lt;/i&gt;anggota Pasukan Khusus Pramuka, saya &lt;i&gt;telah menjadi &lt;/i&gt;suami Andi Nita, saya &lt;i&gt;telah menjadi &lt;/i&gt;orang dengan status sosial yang cukup, dan lain-lain.&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Modus &lt;i&gt;becoming &lt;/i&gt;merupakan suatu keadaan di mana seseorang &lt;i&gt;ingin menjadi &lt;/i&gt;sesuatu. Misalnya, saya &lt;i&gt;ingin menjadi &lt;/i&gt;Ketua OSIS, saya &lt;i&gt;ingin menjadi &lt;/i&gt;presiden, saya &lt;i&gt;ingin menjadi &lt;/i&gt;orang yang shaleh, saya &lt;i&gt;ingin menjadi &lt;/i&gt;istri Andi Nita, dan lain-lain. Maka &lt;i&gt;being &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;becoming &lt;/i&gt;dapat diartikan secara ringkas sebagai &lt;i&gt;memiliki &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;menjadi&lt;/i&gt;.&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Jika seseorang berada dalam modus &lt;i&gt;being&lt;/i&gt;, maka terhadap sesuatu yang telah dimiliknya akan timbul suatu perasaan hambar dan bosan. Sedang jika ia berada dalam modus &lt;i&gt;becoming&lt;/i&gt;, maka terhadap sesuatu yang belum dimilikinya, akan timbul suatu gairah yang berbanding lurus dengan kuatnya keinginannya untuk memiliki hal itu. Sebagai contoh, betapa besar dan indahnya seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Manakala wanita itu masih belum benar-benar menjadi istrinya, gairahnya menyala-nyala, sikapnya demikian lembut dan penuh kasih sayang. Segalanya menjadi indah di mata laki-laki. Bahkan cacat-cacat kecilnya pun bisa menjadi tampak sebagai hiasan. Ini merupakan modus &lt;i&gt;becoming &lt;/i&gt;dari proses hubungan antara laki-laki dan wanita. Namun begitu wanita tersebut menjadi istrinya, dan laki-laki itu merasa memiliki istrinya secara penuh, sering terjadi bahwa lambat laun sikap maupun gairahnya terhadap istrinya turun dan seperti yang kita lihat begitu banyak pasangan yang seolah-polah pada modus &lt;i&gt;becoming&lt;/i&gt;-nya amat ideal dan serasi, ternyata sering kandas pada modus &lt;i&gt;being&lt;/i&gt;-nya.&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Modus &lt;i&gt;becoming &lt;/i&gt;adalah memberikan dinamika dan kemajuan terus tiada henti. Hal ini karena pelaku modus ini selalu merasa kurang, merasa miskin terhadap apa yang hendak dicapainya, Dalam artian positifnya, ini akan menghasilkan suatu ikhtiar tiada henti yang menghasilkan banyak intuisi, kreativitas, dan berbagai kemampuan lain. Dalam istilah keagamaan, di hadapan Allah, manusia merasa dirinya mahamiskin, mahafakir, tiada memiliki kekuatan, dan kemampuan apapun yang perlu dibanggakan. Ini adalah pengewenjantahan sifat rendah sejati.&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Modus &lt;i&gt;being &lt;/i&gt;adalah kejumudan, kemandegan atau stagnasi. Hal itu karena pelaku modus ini sudah merasa memiliki sesuatu, merasa punya, merasa mempunyai kualitas-kualitas unggul tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Ini akan menghasilkan keadaan mandeg tanpa ikhtiar untuk memperbaiki diri, dan merupakan gunung hambatan yang amat dahsyat yang mengahalangi perkembangan seluru potensi sifat kemanusiaan kita. Dalam istilah keagamaan, ini mencerminkan suatu sifat sombong dan takabur, yang merupakan sifat-sifat yang dimurkai Allah.&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;*)Dirubah redaksi seperlunya dari Dimitri Mahayana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-5968004180399255809?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/5968004180399255809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=5968004180399255809' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5968004180399255809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5968004180399255809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/04/citamu-dan-citaku.html' title='Citamu dan Citaku'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-3944123793320425137</id><published>2011-04-09T23:28:00.000-07:00</published><updated>2011-04-09T23:30:03.377-07:00</updated><title type='text'>Ummi Dengarkan Dongengku....</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0mm;  mso-para-margin-right:0mm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0mm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Umi, Fakhri punya cerita untukmu. Maukah Ummi mendengar ceritaku kali ini? Malam ini saja, Ummi mendengarkan ceritaku. Besok dan lusa malam Ummi boleh mendongeng lagi seperti biasanya...... &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Ummiku sayang,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Di sebuah pagi, ada dua orang penjual peuyeum memanggul barang dagangannya untuk dijual di kota. Mereka berdua adalah saudara kembar, Ahmad dan Hamad. Seperti hari-hari biasanya, mereka berjalan, dari rumahnya di desa untuk mencapai pangkalan angkodes. Jalan setapak, jalan kampung, melewati pematang sawah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Ummi tau apa yang terjadi? Saat mereka berdua menyusuri punggung sawah, Ahmad tergelincir. Dua bakul yang dipikul dipundaknya terpelanting ke sawah nan becek. Isinya, peuyeum siap jual berhamburan, bercampur basah tanah sawah. Hati Ahmad sedih. Hari iin dia tidak jadi mendapatkan rezki, dagangannya tidak laik jual. Tapi dia bersabar,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Hamad merasa iba. Tapi dia harus tetap melanjutkan perjalanan. Ditinggalnya Ahmad kembali ke rumah, Hamad meneruskan berdagang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Begitu ramai tampaknya hari ini. Ankutan Pedesaan berpintu belakang sedikit menyembul, beberapa tongkat panggul bakul tersembul. Hamad berdoa di dalam hati dan duduk bersama orang-orang desa lainnya hendak ke pasar kota.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Angkodes laju jalannya. Meliuk-liuk menari mengikuti jalan berbukit, menurun berkelok. Si sopir telah cukup berpengalaman. Kadang direndahkan lajunya sejenak oleh rombongan ana-anak sekolah atau kerbau yang dicocok empunya hendak ke sawah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Siapa sangka Ummi,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Saat angkodes akan berbelok ke kiri, sopir lalai. Remnya tak kuat menahan laju kendaraan yang terlanjur cepat. Angkodes tak terkendali, batas pinggir jalan penutup jurang terlalui. Bersama isinya, angkodes terperosok ke dalam jurang. Diperkirakan tidak ada yang selamat, termasuk Hamad, saudara kembar Ahmad yang batal berangkat bersamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt; ****&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(QS. Al-Mulk: 2)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-3944123793320425137?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/3944123793320425137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=3944123793320425137' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3944123793320425137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3944123793320425137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/04/ummi-dengarkan-dongengku.html' title='Ummi Dengarkan Dongengku....'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-6842728737053869529</id><published>2011-04-02T10:42:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T10:43:17.028-07:00</updated><title type='text'>Jangan Pakai Kaca Mata Kuda</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0mm;  mso-para-margin-right:0mm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0mm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekedar berbagi cerita dan nasehat dalam kebaikan dan kesabaran&lt;/span&gt;. Ditujukan untuk kita semua yang selalu haus nasehat dari manapun datangnya nasehat itu, semoga bermanfaat, mohon maaf bagi yang telah merasa paling benar sendiri &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kaca mata kuda? Bagi yang belum pernah tahu, besar kemungkinan belum pernah naik kuda delman. Kaca mata ini sifatnya menutup pandangan mata kuda ke lain arah selain pandangan yang hanya di depan hidungnya. Sifat ini bisa diibaratkan untuk manusia yang hanya melihat sesuatu secara dangkal, berpikiran pendek, karena melihat sesuatu dengan kasat mata belaka, di depan hidungnya saja. Padahal, banyak peristiwa yang kita saksikan sehari-hari di dunia ini yang membutuhkan pendalaman sebelum kita jatuhkan vonis.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Menggunakan kaca mata kuda juga dapat diidentikkan kepada seseorang yang gemar mengeneralisir satu kasus untuk keumuman orang. Misalnya, jika seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja di seorang majikan orang Arab yang kurang taat beragama, tidak pernah terlihat shalat berjama'ah ke masjid, kurang manusiawi terhadap pembantu dan dirinya sebagai sopir. Lantas apakah benar sopir tersebut menyimpulkan, "Dasar orang Arab, semuanya brengsek!" Ini kesimpulan tergesa-gesa, satu kasus majikannya, dipukulkan rata untuk seluruh orang Arab. Di wilayah kerajaan Arab Saudi saja, orang Arab lebih dari 20 juta kepala, belum lagi bangsa Arab yang tinggal dari Libanon, Irak, Uni Emirat, hingga di benua Afrika seperti Mesir, Sudan, Al-Jazair, bisa ratusan juta bangsa Arab ini. Masa iya, satu majikan brengsek mewakili semua orang Arab tersebut?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Cerita menarik juga dalam penggunaan teknologi. Tahun lalu, ada sebuah kelompok diskusi di sebuah pondok pesantren terkenal di Jawa Timur yang mengeluarkan "fatwa" bahwa Face Book (FB) hukumnya haram. Dari kaca mata mereka, FB ini tidak boleh digunakan oleh seorang muslim karena di dalamnya ada unsur maksiat. Contohnya, FB digunakan untuk sarana pacaran, saling tukar foto, chating dengan lawan jenis, dan indikasi-indikasi lain yang dilarang agama. Mereka yang mencoba mengkaji secara ilmiah inipun persis seperti keluhan seorang ibu rumah tangga yang tidak setuju dengan internet, bukan hanya FB saja! Kenapa? usut punya usut si ibu ini sering memergoki teman-temannya bermesra-mesraan dengan seseorang di internet padahal telah berkeluarga. Si ibu ini sampai mengatakan bahwa internetan ini termasuk perbuatan zina! Nah, apakah karena contoh kasus tersebut FB jadi haram, bahkan internet pun menjadi dosa bagi yang memanfaatkannya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ya, tentu, tidak bisa dihukumi demikian cepat. Karena kalau kelompok diskusi atau si ibu di atas tadi mau melihat secara komprehensif, mengkaji lebih dalam, dan paham betul manfaat dari internet atau FB ini, pasti tidak akan tergesa-gesa atau emosional mengatakan ini haram, ini maksiat, ini zina. Jangankan internet atau FB, khamr yang jelas hukumnya haram menurut Al-Qur`an saja masih ada manfaat yang bisa diambil dari barang memabukkan itu, apalagi internet ataupun FB, terlalu banyak manfaatnya daripada madharatnya. Makanya, dalam menilai sesuatu kita hendaknya jangan memakai kaca mata kuda, agar tidak salah membuat kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kaca mata kuda lain juga sering digunakan manusia dalam menyikapi sebuah laporan berita. Suatu saat kita membaca sebuah artikel berita dimuat di internet, isinya sangat menarik, sesuatu yang belum didengar sebelumnya. Kira-kira, kita yang membaca berita tersebut langsung percaya? Kalau kita langsung percaya, bisa jadi saat itu kita menggunakan kaca mata kuda beneran. Kenapa? Karena telah hilang nalar kritis kita dan tidak paham seluk beluk dunia internet.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Bagi yang telah berpengalaman berselancar di dunia maya, pasti dapat memilah dan memilih mana sampah, mana kotoran , dan mana yang dapat dikonsumsi. Dunia maya ini bak ruangan terbuka tanpa batas yang di dalamnya satu sama lain tidak dapat saling mengenal. Jikapun ada yang mencantumkan identitas, belum tentu itu adalah profilnya yang hakiki. Terlalu banyak kita dapati orang menggunakan alamat email pribadinya saja bukan nama sesungguhnya, juga seperti indentitas atau user name di akun Face Book, Twiter, atau situs jejaring sosial lainnya. Jadi, kalau kemudian ada berita; "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendukung Usamah bin Laden dalam aksi terorisme", misalnya, jangan seperti kerbau yang dicokok hidungnya (tuturut munding, kata orang Sunda), ditelan begitu saja dan percaya berita yang demikian. Baiknya, lihat dulu di mana berita tersebut dimuat, siapa penulisnya, latar belakangnya, adakah media atau website lain yang terpercaya juga memberitakan yang sama? Contoh-contoh kecil untuk pembuktian berita seperti ini sangat membantu kita agar tidak mudah dibohongi, diprovokasi hingga akhirnya kita laiknya orang yang tidak punya pendirian dan mudah terombang-ambing di dunia internet.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Akhirnya, Anda yang membaca ini jangan menggunakan kaca mata kuda juga. Silahkan gunakan akal –sebagai anugerah terhebat yang Allah berikan kepada manusia– untuk memastikan kebenaran tulisan saya ini. Tentunya, untuk menakar sesuatu harus dengan ilmu yang benar, cara (metode) yang benar, sehingga menghasilkan kesimpulan yang benar pula. Di sinilah kita semestinya mengingat pesan untuk terus menuntut ilmu tiada henti, dari buaian hingga liang lahat, agar tidak menjadi manusia yang sering menggunakan kaca mata kuda dalam menyikapi segala sesuatu dalam hidup kita yang singkat ini.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam&lt;/span&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[Darul Maharat, 11 Jum. Ula 1431, 6.15 pm]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-6842728737053869529?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/6842728737053869529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=6842728737053869529' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6842728737053869529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6842728737053869529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/04/jangan-pakai-kaca-mata-kuda.html' title='Jangan Pakai Kaca Mata Kuda'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-3810621262033468022</id><published>2011-03-26T07:46:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T07:50:58.441-07:00</updated><title type='text'>Jika Datang Hari Kamis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika datang hari Kamis&lt;/span&gt;, ada suasana berbeda yang aku rasakan. Sebagaimana maklum, di negeri Islam seperti Arab Saudi ini, Kamis dan Jum'at adalah hari libur untuk pegawai negeri. Beberapa kantor swasta pun menerapkan 5 hari kerja perminggu. Tapi kantorku tetap buka hingga 3/4 hari, alias tutup waktu adzan Isya, jika di hari biasanya hingga pukul 9.00 pm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berbeda di hari Kamis, akupun tidak begitu mengerti apa nama perasaannya. Gambarannya seperti ini; hati terasa hampa, serasa ada yang aku rindukan. Tapi keduanya sangat abstrak, sulit kuterjemahkan dengan kata-kata. Tetapi juga, sering terbesit kerinduan kepada anakku, Muhammad Fakhri Al-Ilmi. Kerinduan untuk berkumpul bersama. Juga rindu kepada seseorang sebagai tempat berlabuh berbagi rasa, cinta, dan kasih.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari Kamis juga, kadang suasana Tanah Air yang jauh berbeda dengan di sini cukup kurindukan. Rindang pohon dan hijaunya daunnya, ramainya penjual kaki lima, mobil dan motor yang bising nan berasap, lalu lintas anak-anak sekolah pergi atau pulang sekolah, suara tukang bakso atau es mengetuk kentongan atau mangkoknya, hingga penjual rokok dan air kemasan di perempatan jalan raya. Semua yang tak kutemukan di sini terasa ingin melihatnya. Meskipun, aku pikir, kalau sudah melihat ruwet dan kumuhnya lingkungan di Indonesia, aku merasa tidak tega dengan kondisi rakyat kebanyakan di negara kaya raya alamnya nan indah seperti Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari Kamis akhir pekan menjelang libur satu hari mingguan di hari Jum'at, aku juga selalu ingin menyempatkan puasa sunnah meneladani Rasulullah saw. Selain shaum Senin-Kamis, shaum tiga hari di tengah bulan (Hijriyah) adalah keinginanku selalu saat tiba waktunya. Betapa nikmat dan puas dahaga rohani ini jika berhasil melakukan rutinitas ibadah tersebut. Hanya sayangnya, di musim panas, niatku itu selalu gagal terlaksana. Musim panas di sini, waktu siang jauh lebih lama dari malam hari. Bayangkan, adzan shalat Shubuh, seperti saat ini, adalah jam 3 am. Sementara bedug maghrib jatuh pada jam 6 sore lebih sedikit. Waktu siang sebenarnya bisa aku tahan perut untuk puasa dan puasa lainnya, tapi bangun untuk sahur sebelum jam 3 dini hari cukup berat bagiku mengingat runitas kantorku yang baru bisa beranjak ke ranjang tidur rat-rata tengah malam. Tapi, apabila tiba musim dingin, alhamdulillah, selain waktu siang cukup pendek, lapar dahaga pun tidak berasa kecuali sangat sedikit sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari Kamis juga, biasanya aku sempatkan bermain silaturrahmi ke teman orang Indonesia yang ada merantau di kota ini. Untuk itu, aku kadang rela menyisihkan riyal guna ongkos taksi atau makan-makan bersama. Dua nilai yang aku ingin dapatkan dengan acara seperti itu; ibadah silaturrahmi dan salah satu sarana refreshing dari rutinitas kantor setelah seminggu penuh. "Zur gibban tazdad hubban," kata Rasul saw, "kunjungi saudaramu jarang-jarang maka niscaya bertambah kecintaan." Refreshing sebagai waktu istirahat pun hakikatnya tidak nihil dari satu pekerjaan sama sekali, karena hakikat istirahat dalam kamusku adalah "tabaddulul 'amal," pergantian pekerjaan. Jadi, saat berkunjung di tempat orang Indonesia tadi, bukan sama sekali diisi senda gurai semata, karena aku sempatkan pula untuk membagikan buletin dan diskusi berita-berita aktual, agama atau kejadian di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari Kamis, aku juga selalu berpikir, merenung, menghayati hidup; mengevaluasi yang telah lalu dan merancang masa yang akan datang. Libur satu hari seminggu bagiku, sebagai starting point untuk memperbaiki diri mingguan. Kualitas ibadah, penjagaan lisan, amal perbuatan dan semuanya yang akan dimintai tanggung jawabnya kelak di akhirat, harus terus aku perbaiki. Meski, iman ini kadang turun melemah terkadang naik menguat. Melemah karena maksiat dan menguat disebabkan taat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hari Kamis kemudian Jum'at kembali Sabtu dan rutinitas kita berdaur ulang terus menerus hingga ajal yang pasti datang menjemput kita, entah kapan, entah saat di mana. Ya Rabbi, kumpulkan aku bersama orang2 yang kucintai di surgaMu kelak..... Ya Allah, Ya Tuhanku, aku tidak layak ke surgaMu tapi aku tidak akan tahan siksa nerakaMu. Dosaku laksana pasir, terimalah tobatku dan ampuni dosaku. Jika bukan Kau yang mengampuni, kepada siapa lagi selainMu.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka  wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa  shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi,  faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta [Ya Allah! Engkau  adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau.  Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada  perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari  kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku  mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang  mengampuni dosa kecuali Engkau].”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari no. 6306)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semua itu akan diminta pertanggungjawabanNya." &lt;/span&gt;(QS. Al-Isra: 36)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir." &lt;/span&gt;(QS. Qaf: 18)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-3810621262033468022?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/3810621262033468022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=3810621262033468022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3810621262033468022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3810621262033468022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/03/jika-datang-hari-kamis.html' title='Jika Datang Hari Kamis'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-6106674892918164852</id><published>2011-03-24T08:24:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T08:25:38.655-07:00</updated><title type='text'>Yang Membuatku Bertahan</title><content type='html'>Sekedar berbagi cerita keseharianku di Arab, mohon maaf jika kurang berkenan.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tanpa henti air mata mengalir, aku selalu berusaha menikmati hidup ini. Pun, kesedihan maupun kebahagiaan hidup sangat terbatas waktunya, karena kita pasti akan menutup usia, entah satu detik lagi, satu menit kemudian, satu jam nanti, hitungan bulan atau tahun. Kullu nafsin dzaaiqatul maut, tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, begitu ingat Al-Qur`an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Arab nan jauh dari sanak saudara, banyak hal yang membuatku survive. Di antara kenikmatan hidup di negeri yang berlandaskan Qur`an dan Sunnah ini adalah alokasi waktu yang mendukung pelaksanaan ibadah secara maksimal. Aku merasa sirkulasi hidup di sini berdasar kumandang adzan. Adzan pertama shalat Fajar (Shubuh) di pagi buta adalah yang paling berat godaannya. Di siang hari, adzan kedua shalat Dzuhur, pertanda kantor kami tutup untuk kemudian aku kembali ke flat; makan dan istirahat siang. Pada adzan ketiga Ashar, berarti aku harus bersiap diri ke kantor lagi. Begitu adzan keempat dan kelima, shalat Maghrib dan Isya, berarti jeda waktu guna refreshing dari jenuhnya aktivitas di dalam kantor, yang banyak dihabiskan di depan layar monitor komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang musim panas seperti saat ini, shalat Fajar semakin cepat tibanya. Oleh karena itu, godaan untuk tetap merebah di atas ranjang lebih kuat dari pada bangkit untuk mengambil air wudhu. Bayangkan saja, tidur malamku rata-rata jam 00.00, lantas harus sudah bangun kembali pukul 03.30 am bahkan lebih cepat, saat kumadang adzan Shubuh. Jika memang kondisi badan sedang lelah, suara adzan dari masjid sebelah flatpun tak terdengar sama sekali. Tapi alhamdulillah, jika diabsen, maka kealpaanku dari shalat berjama'ah Shubuh di masjid dapat dihitung jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat break siang tepat adzan Dzuhur, aku selalu menyempatkan shalat di masjid yang berlokasi di pertengahan jalan kembali dari kantor ke flat. Pertimbanganku, setelah berjalan cukup panas di siang hari dari kantor, aku bisa berteduh sejenak ke dalam masjid untuk alasan shalat Dzuhur berjama'ah. Maklum, tidak ada masjid di Arab Saudi kecuali berfasilitas AC, karpet tebal, serta fasilitas mewah lain bak hotel berbintang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama dengan shalat Dzuhur, saat Ashar, aku berangkat 1 jam lebih awal dari jam buka kantor. Setelah cukup hangat berjalan ke tujuan kantor di sore hari jam 3.00 pm, aku berhenti masuk ke dalam sebuah masjid di pinggir jalan yang aku lewati. Masjid yang biasa kushalati untuk shalat Ashar berbeda dari masjid untuk Dzuhur sebelumnya, meski jaraknya tidak jauh. Inilah kelebihan Kerajaan Saudi, di setiap blok jalan pasti ada menara masjid menjulang, alhamdulillah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu Maghrib dan Isya, ada dua opsi sebagai tempat berjama'ah; masjid di belakang kantor atau yang di seberang jalan. Kadang, jika aku bosan yang di belakang kantor, aku pergi ke masjid yang di seberang jalan belakang mini market. Keduanya punya ciri khas tersendiri. Yang paling aku suka di antara tempat-tempat berjama'ah shalat adalah yang bacaan imamnya paling merdu. Alhamdulillah, hampir semua masjid yang pernah aku singgahi imamnya hafidz dan indah bacaan Qur`annya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhamdulillah, nikmatnya shalat berjama'ah inilah yang sering membuatku bertahan berputar mengikuti hari demi hari. Tak terasa sudah, hampir genap satu tahun aku bermukim di negeri Petro Dollar ini. Jika aku menghitung waktu, selalu saja teringat kegagalan hidupku di masa lalu dan takut menanggung beratnya tanggung jawab atas amal perbuatannku di hadapan Sang Khalik kelak. Belum lagi, si kecil yang ndut, Fakhri, yang selalu dan mudah membuat pipiku banjir air mata tak terbendung. Aku jadi seperti anak kecil yang cengeng minta dibelikan permen atau coklat jika mengingat anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb, sesungguhnya Kau tidak akan pernah membebani hambaMu di luar kemampuan. Aku mohon Kau sucikan dosa-dosa dan Kau angkat kesalahan yang ada pada diriku dengan sedih, gelisah dan gundah gulanaku ini. Sesungguhnya kami adalah milikMu sepenuhnya dan hanya KepadaMu kami akan kembali. Kumpulkan aku dengan orang-orang yang aku cintai di surgaMu kelak Ya Mustajaba-s-sailin......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dammam, 26 Jum. Ula 1431&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-6106674892918164852?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/6106674892918164852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=6106674892918164852' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6106674892918164852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6106674892918164852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/03/yang-membuatku-bertahan.html' title='Yang Membuatku Bertahan'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-6612654097377950213</id><published>2011-03-24T07:26:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T07:32:02.962-07:00</updated><title type='text'>Iman dan Bagiannya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-MwdYTLI0-lI/TYtVbsTF4aI/AAAAAAAAAGE/vd6HR7pGZ00/s1600/iman.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-MwdYTLI0-lI/TYtVbsTF4aI/AAAAAAAAAGE/vd6HR7pGZ00/s320/iman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587653696919298466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-6612654097377950213?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/6612654097377950213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=6612654097377950213' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6612654097377950213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6612654097377950213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/03/iman-dan-bagiannya.html' title='Iman dan Bagiannya'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-MwdYTLI0-lI/TYtVbsTF4aI/AAAAAAAAAGE/vd6HR7pGZ00/s72-c/iman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-688440402815797436</id><published>2011-03-24T05:14:00.001-07:00</published><updated>2011-03-24T05:14:49.379-07:00</updated><title type='text'>Musim Dingin</title><content type='html'>Apa pendapat Anda tentang musim dingin yang tiba pada bulan-bulan di setiap penghujung tahun? Bukan sekedar penghematan listrik karena tidak menyalakan AC seperti di musim panas, atau menyiapkan baju tebal penghangat tubuh, tapi juga terkandung manfaat yang besar untuk ibadah. Perubahan musim panas ke musim dingin tidak begitu terasa di daerah tropis seperti di Indonesia, tetapi sangat berbeda bagi kita yang tinggal seperti di Arab Saudi. Berikut beberapa perkataan mulia terkait tibanya musim dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu a'alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;الصوم في الشتاء الغنيمة الباردة – رواه أحمد &lt;br /&gt;"Berpuasa di musim dingin bagaikan mendapat harta rampasan perang yang diperoleh tanpa melalui pertempuran." (HR. Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli ilmu menjelaskan bahwa hadits di atas merupakan gambaran betapa nikmat dan mudahnya menjalankan ibadah puasa di musim dingin. Kenikmatan dan kemudahan tersebut karena tidak banyak merasakan kepayahan sebagaimana saat musim panas; tidak terasa haus dan lapar yang sangat serta waktu siang yang lebih singkat. Dalam kitab Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar, disebutkan "ghanimah" karena puasa mendatangkan "ajr wa tsawab" atau pahala ganjaran dari Allah ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:&lt;br /&gt;الشتاء غنيمة العابدين. رواه نعيم بإسناد صحيح &lt;br /&gt;"Musim dingin adalah harta rampasan perang hamba-hamba Allah" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: &lt;br /&gt;إنما كان الشتاء ربيع المؤمن لأنه يرتع فيه في بساتين الطاعات و يسرح في ميادين العبادات و ينزه قلبه في رياض الأعمال الميسرة &lt;br /&gt;"Sesungguhnya musim dingin laksana musim semi orang yang beriman karena seorang mukmin menikmatinya dalam taman-taman ketaatan, merumput ke lapangan-lapangan ibadah, mensucikan hatinya dalam taman amal ibadah yang mudah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مرحبا بالشتاء تنزل فيه البركة، ويطول فيه الليل للقيام، ويقصر فيه النهار للصيام&lt;br /&gt;"Selamat datang musim dingin, kau datang dengan penuh berkah, panjang malam di dalamnya untuk mendirikan shalat, dan pendek waktu siang untuk berpuasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri mengatakan: &lt;br /&gt;نعم زمان المؤمن الشتاء, ليله طويل يقومه ونهاره قصير يصومه &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebaik-baiknya waktu orang yang beriman adalah musim dingin, dia mendirikan shalat di malam yang panjang dan berpuasa di siang hari yang pendek." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari Ubaid bin Umair bin Qatadah Al-Laitsi Al-Jundit Al-Makkiy, jiak tiba musim dingin, dia mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا أهل القرآن طال ليلكم لقرآتكم فاقرؤوا, وقصر النهار لصيامكم فصوموا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai ahlu Quran, panjang waktu malam kalian sebagai waktu membaca Al-Quran, maka bacalah Al-Quran, dan pendek waktu siang hari untuk puasa kalian, maka berpuasalah."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-688440402815797436?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/688440402815797436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=688440402815797436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/688440402815797436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/688440402815797436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2011/03/musim-dingin.html' title='Musim Dingin'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-604802345803122500</id><published>2010-05-27T00:51:00.001-07:00</published><updated>2010-05-27T00:51:52.416-07:00</updated><title type='text'>Panadul – Obat Dosa</title><content type='html'>Obat Mujarab Untuk Penyembuhan Semua Dosa, Gelisah, Sedih dan Sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreatif juga para ulama di Arab Saudi ini. Dikemas seperti bentuk asli bungkus Panadol (obat sakit kepala yang terkenal itu), dibuatlah Panadul, obat khusus dosa, gelisah, sedih dan sakit. Sempat diulas di sebuah koran harian di Timur Tengah, kini saya dapatkan dari seorang teman. Saya coba terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tips dan nasehat untuk saya pribadi dan bagi siapa saja yang menghajatkannya. Semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk siapa saja yang membutuhkan obat dosa-dosa.... Bagi setiap orang yang tenggelam dalam maksiat dan dosa.... Untuk orang-orang yang terbebani berbagai macam musibah dan bencana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk setiap jiwa yang terbebani kegelisahan dan kesedihan... Bagi jiwa  yang merasa sempit di dunia yang luas ini...  Dan untuk setiap orang yang merasa kecil jiwanya... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pencari kebahagiaan sejati yang belum menemukannya... Untuk yang merasa tidak lapang rezkinya... Bagi siapa saja yang mengharapkan anak tetapi diberikan... Untuk orang yang menderita sakit berkepanjangan... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukmu sebuah solusi... Bagimu obat setiap dari semua itu... ialah obat dosa-dosa: Panadul (memohon ampun dosa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt bersabda: "maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS. Nuh: 10-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa membanyakkan istighfar, Allah menjadikan baginya dari setiap kegelisahan kelonggaran, dan setiap kesempitan diberikan jalan keluar dan diberi rezki oleh Allah dari arah yang tidak diduga-duga." (HR. Imam Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz dan bentuk kata-kata Istighfar &lt;br /&gt;1. أستغفر الله&lt;br /&gt;Astaghfirullah&lt;br /&gt;2. اللهم اغفر لى&lt;br /&gt;Allahummaghfirlii &lt;br /&gt;3. رب اغفرلى وتب علي إنك أنت التواب الرحيم&lt;br /&gt;Robighfirlii wa tub alayya innaka anta-t-tawwabu-r-rahiim (HR. Abu Daud &amp; Ibnu Majah) &lt;br /&gt;4. استغفر الله الذى لا اله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه &lt;br /&gt;Astaghfirullah aladzi laa ilaaha illa huwa-l-hayyu-l-qayyum wa atuubu ilaihi (HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;5. سبحان الله وبحمده أستقفر الله وأتوب إليه&lt;br /&gt;Subhanallah wa bihamdihi astaghfirullah wa atuubu ilaihi (HR. Muslim)&lt;br /&gt;6. سيد الاستغفار وهو أفضلها: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ &lt;br /&gt;Sayidu-l-istighfar dan ini yang lebih utama: "Allahumma anta rabbii laa ilaaha ilaa anta, khalaqtanii wa anaa 'abduka wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika ma-s-tatha'tu, 'audzubika min syarri maa shana'tu, abu`u laka bini'matika 'alayya wa abu`u bidzanbii faghfi-r-lii, fa innahu la yaghfiru-dz-dzunuuba illa anta." (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah bentuk dan lafadz-lafadz yang dicontohkan Nabi saw dalam hadits-haditsnya yang shahih. Diperbolehkan pula membaca bentuk dan lafadz istighfar yang lain yang inti maknanya sama dengan di atas, akan tetapi lebih diutamakan mengikuti contoh yang telah dipratekkan Nabi saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan &amp; Tempat yang Tepat Untuk Istighfar&lt;br /&gt;1. Setelah selesai mendirikan shalat, saat itu dengan berlama-lama atau singkat. Allah swt berfirman: "Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Al-Baqarah: 199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Beristighfar Saat Menjelang Shubuh; Allah memuliakan hambaNya yang memohon ampun kepadaNya di waktu yang penuh barakah ini, sebagaimana firmanNya: "(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (QS. Ali Imran: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Di Akhir Suatu Majlis Pertemuan; dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang duduk di sebuah pertemuan kemudian di dalamnya banyak percakapan (ilmu) kemudian sebelum membubarkan diri mengucapkan Subhanakallahumma wa bihamdika asyahadu anlaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika, maka pasti diampuni orang-orang yang berada di majlis tersebut." (HR. Tirmidzi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memohon Ampunan bagi Orang yang Telah Meninggal; Dari Ustman bin ‘Affan ra berkata:` Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda:` mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya` (HR Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Buah dan Faidah Istighfar&lt;br /&gt;1. Istighfar sebagai salah amal menjalankan perintah Allah&lt;br /&gt;2. Istighfar salah satu cara agar dilimpahkan rezki&lt;br /&gt;3. Istighfar penyebab masuk ke surga&lt;br /&gt;4. Istighfar sebab diampuninya dosa-dosa dan dihapuskannya kesalahan-kesalahan&lt;br /&gt;5. Istighfar merupakan sebab diangkatnya derajat setelah mati&lt;br /&gt;6. Istighfar dapat menolak siksa dan adzab sebelum benar-benar terjadi&lt;br /&gt;7. Istighfar dapat membersihkan hati&lt;br /&gt;8. Istighfar dapat menjadikan anak shaleh&lt;br /&gt;9. Istighfar penyebab nikmatnya kesehatan dan kekuatan, dan lain-lainnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Orang Shaleh Terdahulu Tentang Istighfar&lt;br /&gt;Dari 'Aisyah –radhiallahu 'anha– dia berkata: "Beruntunglah bagi orang yang di lembaran hidupnya penuh dengan istighfar." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Luqman –'alahi salam–, sesungguhya dia berkata kepada anaknya: "Wahai anakku sesungguhnya Allah memiliki waktu yang banyak dan tidaklah Dia akan menolak di waktu-waktu tersebut orang yang meminta, maka perbanyaklah istighfar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Musa –radhiallahu 'anhu– berkata: "Telah ada pada kami dua penyelamat dari adzab, telah pergi salah satunya yaitu keberadaan Nabi saw bagi kami, dan yang tersisa bersama kami adalah sitighfar. Apabila istighfar ini juga tiada pada kami maka binasalah kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Al-Bashri berkata: "Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian, saat menghadapi hidangan di atas meja, saat kalian berada di perjalanan, saat kalian di dalam pasar, ketika kalian di perkumpulan, sesungguhnya kalian tidak tahu kapan ampunan itu akan turun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qatadhah –rahimahullah– berkata: "Sesungguhnya inilah Al-Quran yang menunjukkan kalian kepada penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa dan obat untuk kalian adalah istighfar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah Orang yang Beristighfar&lt;br /&gt;Kisah Pertama&lt;br /&gt;Disebutkan dalam sebuah kisah di sebuah acara radio Al-Quranul Karim (di negara Kuwait), seorang ibu, Ummu Yusuf bercerita; Dia telah terlambat memiliki anak sekitar sepuluh hingga lima belas tahun. Selama waktu itu pula dia telah pergi ke banyak dokter, baik itu dokter di dalam negeri Kuwsait, maupun di luar negeri hingga Eropa dan belahan benua lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai waktu yang cukup lama tersebut, dia belum dikaruniai anak. Dan pada suatu hari, dia pergi ke salah satu pengajian agama, di sana dia mendengar seorang ustadzah berceramah tentang keutamaan istighfar dan faedah-faedah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui tentang istighfar tersebut, Ummu Yusuf banyak menghabiskan waktunya dengan istighfar. Belum genap enam bulan selama rajin beristighfar, ternyata dia hamil, lantas lahirlah Yusuf dan dia sekarang telah berumur enam tahun –maa syaa Allah..... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Kedua&lt;br /&gt;Seorang wanita bercerita; telah meninggal suamiku dan aku berusia 30 tahun serta mempunyai lima orang anak, laki-laki dan perempuan. Dunia ini terasa gelap di depan mataku dan aku selalu menangis hingga berkurang penglihatannku. Aku selalu meratapi nasibku, aku putus asa, kekuatan fisikku melemah. Sementara anak-anakku masih kecil dan tidak ada uang pemasukan bagi kami untuk mencukupi kehidpan kami, kecuali harta sisa peninggalan suamiku aku gunakan sehemat mungkin. Dan suatu ketika saat aku di dalam kamar, aku mendengarkan siaran radio tentang Al-Qur`anul Karim. Di acara tersebut seorang Syaikh berkata: Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa memperbanyak istighfar, Allah menjadikan baginya dari setiap kegelisahan kelonggaran, dan setiap kesempitan diberikan jalan keluar dan diberi rezki oleh Allah dari arah yang tidak diduga-duga." Maka setelah itu aku perbanyak membaca istighfar dan aku perintahkan anak-anakku juga melakukan sepertiku. Kemudian berjalan waktu selama enam bulan berlalu, hingga tiba ada orang yang ingin menyewa sebidang tanah milk kami yang dulu, maka aku sewakan dengan harga mencapai jutaan riyal. Anakku kemudian menjadi penghafal Qur`an dan dijadikan lokasi tersebut tempat sosial. Dan kini rumah kami disinari kebaikan dan hidup kami menjadi lebih bahagia, alhamdulillah. Allah telah memperbaiki bagiku dan semua anak-anakku; telah pergi dariku kegelisahan, kesedihan dan kegundahan selama ini dan aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia di sisi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai hambaKu......&lt;br /&gt;Dari sebuah hadits qudsi, dari Nabi salallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan dari Allah tabaraka wa ta'ala, sesungguhnya Dia berfirman: "... Hai hambaku! Sesungguhnya kalian berbuat kesalahan di malam hari dan di siang hari, dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Maka memintalah ampun kepadaKu niscaya Aku ampuni kalian....." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ini adalah pekerjaan yang menakjubkan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah setelah ini semua..... Kamu tidak beristighfar (memohon ampun)????[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-604802345803122500?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/604802345803122500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=604802345803122500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/604802345803122500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/604802345803122500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/05/panadul-obat-dosa.html' title='Panadul – Obat Dosa'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-4103509062958552315</id><published>2010-05-27T00:47:00.000-07:00</published><updated>2011-11-27T11:46:17.045-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Tauhid Beres, Hidup Sukses</title><content type='html'>Ukuran sukses hidup seseorang sebenarnya bisa sangat relatif. Bagi orang yang tidak percaya Tuhan dan hidup setelah kematian, standar sukses hanya diukur di dunia; harta, tahta, atau wanita. Tapi sebagai orang beriman, standar hidup sukses tidak terlepas dari keyakinan terhadap ajaran agama. Ajaran agama Islam berpedoman Al-Qur`an dan Sunnah. Bagaimana sukses menurut Al-Qur`an dan Sunnah? Berikut oleh-oleh dari pengajian yang saya ikuti di kota Jubail, hari Jum'at (7 Mei 2010) kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid adalah derivasi dari kata &lt;i&gt;wahhada-yuwahhidu-tauhidan&lt;/i&gt;, yang artinya menyatukan. Secara istilah syar'i, tauhid adalah mengesakan Allah dalam apa saja yang menjadi kekhususanNya. Ulama salaf shalihin membagi tauhid mejad dua; &lt;i&gt;tauhid rububiyah &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;asma` wa sifat&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Tauhid rububiyah&lt;/i&gt; adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan Allah, seperti: menciptakan, mengatur alam, menghidupkan, mematikan, memberikan rizqi dan lain-lainnya yang merupakan kekhushushan-kekhushushan Allah. Dan yang kedua, &lt;i&gt;tauhid asma` wa sifat &lt;/i&gt;mencakup penetapan nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya sendiri di dalam al Quran, dan telah disampaikan oleh Rasulullah saw tanpa menyerupakannya dengan makhluq, atau membagaimanakannya, serta meniadakan apa yang Allah tiadakan untuk diri-Nya dan ditiadakan oleh Rasulullah saw  dalam haditsnya tanpa merubah (&lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt;), dan meniadakannya (&lt;i&gt;Ta'thil&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara arti kata "sukses" jika dirujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya berhasil, beruntung. Dalam bahasa Arab ada tiga kata yang semakna dengan kata sukses dalam arti berhasil atau beruntung, yaitu &lt;i&gt;falah, fauz, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;najah&lt;/i&gt;. Ketiga terma inilah yang sering diulang-ulang dalam Al Qur`an. Bedanya, sukses menurut Al-Qur`an tidaklah bebas makna, tetapi terikat dengan prasyarat yang harus dilakukan seseorang untuk dapat meraihnya. Hal ini seperti yang terekam pada surah Al-Baqarah ayat 2-5. Di rangkaian ayat tersebut, ternyata orang-orang yang beruntung (&lt;i&gt;muflih &lt;/i&gt;dari kata &lt;i&gt;falah&lt;/i&gt;), adalah yang diberi petunjuk dengan mengimani Al-Qur`an dan kitab-kitab sebelumnya tanpa ada keraguan, mendirikan shalat, menafkahkan rezki, dan beriman kepada kehidupan akhirat. Sepadan dengan orang yang &lt;i&gt;muflih &lt;/i&gt; (beruntung) di ayat lain disebutkan, adalah orang yang selalu mengajak kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar (QS. Ali Imran: 104). Kata &lt;i&gt;muflihun&lt;/i&gt; yang berarti jamak (orang-orang yang beruntung) juga disebut di surah Al-Mujadilah ayat 22. Bahkan melengkapi dan menjelaskan balasan orang-orang yang beruntung menurut kriteria Al-Quran ini. Berikut arti ayatnya: &lt;i&gt;"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." &lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kedua dalam bahasa Arab sukses adalah &lt;i&gt;fauz&lt;/i&gt;. Ayat yang merekam orang yang &lt;i&gt;fauz &lt;/i&gt;ini adalah surah An-Nuur ayat 52: &lt;i&gt;"Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan." &lt;/i&gt; Tidak hanya sukses (&lt;i&gt;fauz&lt;/i&gt;) biasa, tetapi juga di ayat 70-71 di surah Al-Ahzab, Allah swt berfirman: &lt;i&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." &lt;/i&gt; Ada juga kata &lt;i&gt;faizun &lt;/i&gt; (dari kata &lt;i&gt;fauz&lt;/i&gt;) untuk kelompok yang beruntung dengan balasan surga dan kekal di dalamnya terdapat dalam surah Al-Hasyr ayat 20 dan Al-Fath ayat 5. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat-ayat yang disebut di atas, jelas bahwa kesuksesan seseorang itu ukurannya tidak hanya duniawi, tetapi justru setelah hidup di dunia ini. Di sinilah pentingnya kita memahami tauhid agar tergolong dalam kelompok yang dijanjikan oleh Allah swt dalam ayat-ayat Al-Qur`an di atas. Prasyarat seperti iman, bermuara kepada tauhid. Firman Allah swt: &lt;i&gt;"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." &lt;/i&gt; (QS. Al-An'am: 83). Dalam hadits Shahih Bukhari, diceritakan bawha ketika ayat ini turun, para sahabat merasa sedih bukan kepalang, akrena mereka merasa belum terbebas sama sekali dari kezhaliman. Maka Nabi saw menjelaskan bahwa kezhaliman di sini bukanlah sembarang kezhaliman, namun maksudnya adalah kezhaliman terbesar alias syirik, sebagaimana perkataan Luqman Al-Hakim taktala menasehati anaknya: &lt;i&gt;"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." &lt;/i&gt; (QS. Luqman: 13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengaruh Tauhid yang Benar di Dunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di antara pengaruh tauhid yang benar dalam kehidupan di dunia tergambar dari ayat 96 Surah Al-'Araf: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." Ayat ini sangat jelas menginformasikan dua akibat orang yang beriman dan bertakwa serta kebalikannya. Syarat iman dan takwa sebagaimana ayat 13 di surah Luqman sebelumnya, harus bersih dari kedzaliman yang besar, yaitu syirik, yang berarti harus bertauhid dengan benar. Dalam tataran kehidupan masyarakat dapat kita saksikan, ada dua perbedaan di antara masyarakat yang berdiri di atas undang-undang tauhid dan yang syirik. Keduanya persis seperti yang dikatakan Allah di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah menarik tentang indahnya tauhid yang dapat merubah kehidupan, adalah kehidupan bangsa Arab saat sebelum dan sesudah diutusnya Nabi Muhammad saw. Dalam kisah dialog Kisra dengan Mughirah ra., Kisra bertanya tentang bangsa Arab. Mughirah ra., menjelaskan: &lt;i&gt;"kami adalah orang-orang Arab yang dahulu amat celaka. Kami menghisap dan mengemut biji kurma karena sangat kelaparan. Pakaian kami terbuat dari bulu onta dan domba (sangat kasar), dan kami menyembah pohon serta bebatuan. Ketika kami dalam keadaan demikian, Penguasa langit dan bumi menutus kepada kami seorang nabi dari kami yang kami kenal keuda orang tuanya. Nabi kami lantas memerintahkan kami agar memerangi kalian sampai kalian beribadah kepada Allah saja, atau kalian membayar jizyah. Nabi kami juga mengabarkan berdasarkan wahyu dari Allah bahwa siapa yang terbunuh dari kami makan akan masuk surga denga  berabgai kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, sedangkan yang tetap hidup akan menguasai kalian." &lt;/i&gt; (HR. Bukhari 2989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan Mughirah ra., memberi tanggapan atas penjelasan Kisra tentang orang Arab: &lt;i&gt;"Demi Allah, gambaran kalian tentang  sifar-sifat kami tidak keliru sedikitipun. Dahulu kami memang orang yang paling  terpencil pemukimannya, paling kelaparan, paling celaka dan paling jauh dari seluruh kebaikan; sampai Allah mengutus seorang Rasul dari golongan kami, menjadikan bagi kami kemenangan dan di dunia dan akhirat...." &lt;/i&gt; (HR. Ibnu Hibban No. 4756) &lt;i&gt;Wallahu'alam.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-4103509062958552315?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/4103509062958552315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=4103509062958552315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4103509062958552315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4103509062958552315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/05/tauhid-beres-hidup-sukses.html' title='Tauhid Beres, Hidup Sukses'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-4879338311944088789</id><published>2010-04-20T11:42:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T11:44:42.107-07:00</updated><title type='text'>Tentang Rezki</title><content type='html'>&lt;b&gt;Hiruk pikuk manusia di dunia ini &lt;/b&gt;selalu berkaitan dengan rezeki, rezki, atau rejeki orang Jawa bilang dan &lt;i&gt;"rizqun"&lt;/i&gt; asli kata bahasa Arabnya. Karena rezki ini pula, manusia bisa menjadi raja tega, berbuat dan menghalalkan segala cara. Karena putus asa meraih rezki juga, hingga muncul ungkapan "yang haram saja sulit dicari, apalagi yang halal," &lt;i&gt;na'udzubillah&lt;/i&gt;. Sebanyak apa harta rezki kita di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dunia selalu diindentikkan dengan melimpahruahnya harta kekayaan. Umumnya manusia, setelah puas tercukupi materinya, hasratnya ingin pula berkuasa. Sifat manusia yang tidak pernah puas inilah yang sering menjerumuskan ke jurang kehinaan. Sejatinya, manusia telah ditentukan amal, mati, rezki, penderitaan atau bahagianya, semenjak masih di dalam kandungan ibunya. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah saw: &lt;i&gt;"Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhgah (daging) selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya dengan empat kalimat: ditentukan amal, mati, rezki, penderitaan atau bahagianya. Setelah itu ditiupkan ruh ke dalamnya. Dan demi tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya masing-masing kalian akan melakukan perbuatan amal ahli surga hingga jarak antara dia dengan surga tinggal sehasta, akan tetapi telah ditetapkan baginya kemudian berbuat amalan ahli neraka, maka masuklah dia ke neraka. Dan sesungguhnya masing-masing kalian akan melakukan perbuatan amal ahli neraka hingga jarak antara antara dia dengan neraka tinggal sehasta, akan tetapi telah ditetapkan baginya kemudian berbuat amalan ahli surga, maka masuklah dia ke surga." &lt;/i&gt; (HR. Mutafaqun 'alaihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, setiap makluk ciptaanNya ada ukurannya. Sekali-kali Allah tidak akan pernah menciptakan sesuatu kemudian memberi kelebihan atau beban yang berlebih hingga makluk tidak mampu menyandangnya.  Dalam hal rezki demikian pula, bahwa Allah Maha Mengetahui kebutuhan makhlukNya. Firman Allah swt: &lt;i&gt;"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." &lt;/i&gt; (QS. Huud: 6). Maha besar Allah yang tiada satupun menandingiNya, ayat ini membuktikan bahwa tidak akan pernah luput setiap makhluk yang bernyawa kecuali Allah memberikan rezki kepadanya. Yang perlu kita sadari bahwa kadar rezki yang Allah limpahkan pasti sesuai dengan takaran yang telah Allah tentukan, sesuai untuk setiap makhlukNya, tidak berlebih dan tidak kurang, karena Allah Maha Tahu apa yang dibutuhkan makhlukNya. Hanya sering kali kita kurang bersyukur dengan apa yang telah diterima dan selalu merasa kekurangan. Kita diberi Allah apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, begitu kata nasehat bijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, kita tidak dilarang untuk berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan dengan materi kekayaan. Dalam salah satu bab Fikih Prioritas, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menyimpulkan bahwa menjadi orang kaya yang bersyukur lebih utama daripada miskin yang sabar. Karena manfaat orang kaya yang bersyukur dapat dirasakan dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebagai anjuran agar diluaskan rezki, Rasulullah saw menasehatkan:  &lt;i&gt;"Barangsiapa yang mengingikan dipanjangkan umur dan diluaskan rezkinya, maka sambunglah tali silaturrahmi." &lt;/i&gt; (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur`an, banyak ayat yang menginformasikan siapa saja yang diluaskan rezkinya oleh Allah swt. Di antaranya ayat 36 surah Saba': &lt;i&gt;"Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." &lt;/i&gt;  Al-Qur`an juga menjelaskan perbedaan rezki orang yang kafir dan beriman, firman Allah swt: &lt;i&gt;"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas."&lt;/i&gt; (QS. Al-Baqarah: 212). Masih ada puluhan ayat lain di Al-Qur`an memberi penekanan bahwa Allah akan terus menambah rezki bagi orang yang bertakwa. &lt;i&gt;"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." &lt;/i&gt; (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Inilah janji Allah, sikap takwa dan tawakal seseorang berbanding lurus dengan rezki yang didapat. Sebuah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda: &lt;i&gt;"Jika kau bertawakal kepada Allah sebenar-benarnya tawakal, Allah pasti memberikan rezki kepadamu sebagaimana seekor burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dengan perut kenyang." &lt;/i&gt; Semoga kita selalu meningkatkan takwa dan bertawakal kepada Allah swt.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-4879338311944088789?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/4879338311944088789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=4879338311944088789' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4879338311944088789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4879338311944088789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/04/tentang-rezki.html' title='Tentang Rezki'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-1164987918047571797</id><published>2010-04-20T04:21:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T04:25:07.673-07:00</updated><title type='text'>Bermaksiat Tapi Bahagia</title><content type='html'>Di antara kita mungkin pernah menyaksikan prilaku orang yang selalu bermaksiat, baik maksiat dengan kemaluannya, mata, mulut, dan anggota badan lainnya, tetapi terlihat bahagia dan dicukupkan kehidupannya di dunia oleh Allah swt. Sementara yang rajin ibadah dan taat agama, kadangkala menjalani hidup di dunia dengan penuh cobaan dan ujian. Jika disuruh memilih, kita pasti akan memilih menjadi orang yang taat beragama sekaligus hidup bahagia dan dicukupkan segalanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, kita sering kali salah prasangka terhadap kehendak Allah. Mari kita perhatikan sabda Rasulullah saw: &lt;i&gt;"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hambaNya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." &lt;/i&gt; (HR. At-Tirmidziy no.2396) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hambaNya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah: &lt;i&gt; "Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepadaMu." &lt;/i&gt; (HR. Muslim no.771). Dan Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah, sehingga jadilah kejelekan itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman tentang diriNya: &lt;i&gt;"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." &lt;/i&gt; (Huud:107)  Dan juga Dia berfirman: &lt;i&gt;"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." &lt;/i&gt; (Al-Hajj:18). Dari ayat tersebut jelas, bahwa semua perkara itu di tangan Allah. Dan seseorang tidak akan lepas dari salah atau keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban. Jika Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka Allah segerakan baginya balasan dari perbuatan dosanya di dunia. Bentuk balasan tersebut, baik diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (&lt;i&gt;mukaffirat dzunub&lt;/i&gt;). Kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki, agar terhapus dosa-dosa tersebut. Hingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena adzab dunia itu lebih ringan dari pada adzab akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika Allah menginginkan kejelekan kepada hambaNya maka Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya. Allah juga hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya. &lt;br /&gt;Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa, lalu di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika kita melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta diberikan kepadanya berbagai kenikmatan, sesungguhnya Allah menginginkan kejelekan kepadanya. Hal ini karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat.  Rasulullah saw juga bersabda: &lt;i&gt;"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah)." &lt;/i&gt; (HR. At-Tirmidziy no.2396).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini terdapat anjuran, motivasi, sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah yang menimpanya sehingga ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah swt. Bahkan, pada tingkatan yang lebih tinggi, adanya musibah adalah untuk disyukuri, dengan harapan sebagai penghapus dosa-dosa kita selama di dunia ini. &lt;i&gt;Wallaahul Muwaffiq&lt;/i&gt;. (Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-1164987918047571797?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/1164987918047571797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=1164987918047571797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/1164987918047571797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/1164987918047571797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/04/bermaksiat-tapi-bahagia.html' title='Bermaksiat Tapi Bahagia'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-4879144121867821621</id><published>2010-03-29T13:41:00.000-07:00</published><updated>2011-11-27T11:45:11.239-08:00</updated><title type='text'>S U R G A  (Bagian Kedua – Habis)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Di berbagai riwayat hadits, disebutkan bahwa surga memiliki banyak pintu masuk untuk calon penduduknya. Setiap pintu mempunyai keistimewaan masing-masing memanggil calon penghuninya sesuai dengan amalannya. Apakah kita di antara yang akan dipanggil ke pintu surga untuk masuk ke dalamnya? Di pintu yang mana kita akan akan dipanggil? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku "Sifat al-Jannah" karya Syaikh Dhiyaauddin Abi Abdillah, Sahal bin Sa'ad menjelaskan bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Surga memiliki delapan pintu, satu pintu di antaranya bernama ar-Rayyan. Tidak masuk melalui pintu tersebut kecuali orang yang berpuasa."  (HR. Mutafaqun 'alahi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara manusia lain yang dijanjikan ke surga sesuai dengan amalan perbuatannya sebagaimana yang diperinci dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra., bersabda Rasulullah saw: "Barangsiapa yang menafkahi kedua istrinya dari hartanya di jalan Allah dia dipanggil dari pintu-pintu surga, dan surga mempunya banyak pintu. Maka barangsiapa yang gemar shalat dipanggil dari pintu shalat, barangsiapa yang gemar bersedekah dipanggil dari pintu sedekah, barangsiapa orang yang berjihad dipanggil dari pintu jihad, barangsiapa gemar berpuasa dipanggil dari pintu Ar-Rayyan." Maka berkata Abu Bakar ra.: "Demi Allah wahai Rasulullah! Apakah sebegitu perlukah seseorang dipanggil demikian? Apakah ada seseorang yang kelak dipanggil dari semua pintu ya Rasulullah?"  Rasulullah saw menjawab: "Ya, dan aku berharap kau akan menjadi bagian dari mereka yang demikian ini."  (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain amalan di atas, masih banyak amal shalih yang menjadikan kita masuk ke pintu surga. Kemudahan berbuat amal kebaikan sebagai bekal ke surga berbanding lurus dengan kemudahan kita celaka hingga terperosok ke dalam neraka. Hal inilah yang diingatkan Rasulullah saw dalam sebuah hadits: "Tidak seorang jua pun di antara kamu melainkan tempatnya telah ditentukan Allah di surga atau di neraka."  Maka bertanya seorang sahabat, "Ya Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak lebih baik kita diam saja menunggu suratan taqdir nasib kita tanpa beramal." Jawab beliau, "Orang yang telah ditetapkan Allah menjadi orang bahagia, adalah karena ia beramal dengan amalan orang yang berbahagia, dan orang yang telah ditetapkan Allah menjadi orang yang celaka adalah karena ia beramal dengan amalan orang celaka. Karena itu beramallah! Semua sarana telah disediakan. Ada pun orang-orang bahagia, mereka dimudahkan untuk mengamalkan amalan-amalan orang berbahagia. Dan orang-orang celaka, mereka dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang celaka"; kemudian beliau saw membaca ayat: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar  [QS. 92:5-10]" (HR.Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Allah swt Maha Adil dan Bijaksana. Ada dua jalan yang terbentang selama hidup di dunia ini, jalan kebaikan dan keburukan. Masing-masing berdampak kepada balasan yang kita terima sesuai dengan jalan mana yang kita pilih. Ibnu Katsir yang menukil dari At-Thabari, menafsirkan ayat ke-10 dari surah Al-Balad: "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan", bahwa dua jalan itulah yang dimaksud kebaikan dan keburukkan. At-Thabari mengutip sebuah hadits Rasulullah saw: "Wahai manusia, sesunggunya terdapat dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Maka jangalah kalian jadikan jalan keburukan lebih kalian cintai dari pada jalan kebaikan." Tidak ada paksaan dalam agama, apakah kita hendak menjadi hambaNya yang beriman ataupun ingkar, Allah swt tidak memaksa. Kita telah diingatkan oleh Allah swt: "Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek."  (QS. Al-Kahfi: 29). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga taufiq dan hidayahNya selalu tercurah untuk kita semua, sehingga kita termasuk bagian dari ahlu jannah yang dijanjikan, amiin ya Rabbal 'Alamin. [dammam city, 10 Shafar 1431]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-4879144121867821621?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/4879144121867821621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=4879144121867821621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4879144121867821621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4879144121867821621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/03/s-u-r-g-bagian-kedua-habis.html' title='S U R G A  (Bagian Kedua – Habis)'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-7260991284664936089</id><published>2010-03-29T13:38:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T13:41:01.438-07:00</updated><title type='text'>S U R G A</title><content type='html'>Beribadah kepada Allah swt harus dilandasi beberapa hal, di antaranya seperti rasa cinta (hubb), takut (khouf), harap (raja), merendah (Dzul), tunduk (khudhu’), doa,  kepada Allah swt. Tidak dibenarkan kita beribadah hanya mengambil satu sisi saja seperti karena cinta (hubb) kepada Allah, sebagaimana beberapa kelompok melakukannya. Karena, di antara yang sangat kita cita-citakan dari hidup ini adalah menjadi penghuni surga (ahlu jannah). Bagaimana dan seperti apa surga yang kita inginkan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terminal akhir hidup kita di dunia ini adalah akhirat. Di alam tersebut, kita akan terbagi menjadi dua kelompok besar, sebagai ahlu jannah atau ahlu naar. Amalan kita selama di dunia saat inilah yang menentukan di mana tempat kembali kita kelak. Keadaan dua penghuni dua tempat tersebut sangat jauh berbeda, sebagaimana firman Allah swt: "Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung."  (QS. Al-Hasyr: 20) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas, Allah menggolongkan ahlu jannah sebagai orang yang beruntung. Sebagai umat Islam yang bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya, berarti kita juga harus mengimani apa yang datang dari Allah dan rasulNya. Di antara yang dikabarkan Allah dan rasulNya adalah kabar berita perkara ghaib, sesuatu yang hanya bisa kita dengar keterangannya dari firman Allah di ayat-ayat Al-Quran dan hadits dari rasulullah saw (sam'iyat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji Allah swt kepada penghuni surga berupa keberuntungan tidak terkira besarnya. Beberapa kenikmatan surga yang terekam di ayat-ayat Al-Qur`an maupun hadits, sejatinya, kita tidak akan mampu membandingkannya dengan yang ada di dunia. Akal pun tidak pernah dapat mengira-ngira hakikat nikmat surga yang Allah rahasiakan dan pernah Rasulullah saw saksikan. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah saw bersabda: berfirman Allah swt: "Telah Aku siapkan untuk hambaKu yang shalih (surga yang kenikmatannya –pent) tidak pernah mata melihat, telinga mendengar, dan terbetik di dalam hati manusia." Maka bacalah sebisa kalian "Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan"  (QS. As-Sajdah: 17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits shahih riwayat Bukhari yang termuat dalam kitab Fathul Bari tersebut benar-benar ingin meyakinkan kita, betapa luar biasanya kenikmatan di dalam surga kelak. Tidak satupun nikmat yang paling hebat di dunia ini yang pernah dirasakan manusia menandingi kenikmatan surga Allah. Bagaimana mungkin? Jika mata tidak pernah melihatnya, telinga juga tidak pernah mendengar, apalagi tidak dapat terbesit sedikitpun dalam hati manusia, sungguh tak terkira luar biasa nan rahasianya segala di dalam surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa saja mengkhayal, tapi setinggi apapun imajinasi manusia, tidak akan pernah sampai kepada hakikat kenikmatan surga. Sebuah riwayat dari As-Sya'biy, beliau mendengar Al-Mughirah bin Syu'bah ra., berkata di atas mimbar bersumber dari Rasululullah saw: Nabi Musa bertanya kepada Rabbnya, "Bagaimana keadaan penduduk surga yang paling rendah?" Allah berfirman: "seorang laki-laki datang ke surga setelah semua penduduknya dimasukkan ke dalam surga." Kemudian dikatakan kepadanya: "masuklah surga!" Maka bertanya laki-laki tersebut: "Bagaimana Tuhanku? Bagaimana aku masuk surga sedangkan semua manusia telah mengambil tempatnya masing-masing?" Maka dikatakan kepadanya: "Apakah kau ridha  (di dalam surga –pent) menjadi seorang raja seperti raja-raja dunia?" Maka dia menjawab: "Aku ridha Tuhanku." Maka berfirman Allah: "untukmu itu, dan seperti itu dan seperti dan seperti itu dan seperti itu" Dia menjawab saat disebut yang kelima: "aku ridha Tuhanku." Kemudian Allah berfirman: "Inilah untukmu dan sepuluh kali lipat sepertinya, dan bagimu apa saja yang disenangi oleh dirimu dan nikmat dipandang matamu." Maka dia laki-laki menjawab: "Aku ridha Tuhanku." Nabi Musa bertanya: "Tuhanku! Lantas bagaimana keadaan mereka yang paling tinggi di surga?" Allah berfirman: "Mereka itulah yang Aku kehendaki, Aku tanamkan kemulian mereka dengan tanganKu dan Aku rahasiakan (kenikmatan mereka –pent) darimu, maka tidak pernah ada mata yang telah melihatnya, telinga yang mendengar, dan terbesit di dalam hati seorang manusia." Berkata Al-Mughirah: Dan telah dibenarkan dalam Kitab Allah azza wa jalla: "Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan."  (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, maha suci Allah. Seperti itulah Allah memuliakan penghuni surga. Hingga 50 kali kenikmatan seorang raja yang paling berkuasa dan paling segalanya di dunia ini. Ini adalah kedudukan ahlu jannah yang paling rendah, sedangkan yang paling mulia kedudukannya di surga, Allah kehendaki dengan sifat iradahNya dan tidak ada seorang pun mampu memimpikan betapa luar biasa besar kenikmatannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam'iyat tentang surga di atas tidak bermaksud membawa kita berkhayal kosong. Karena kabar gembira inilah yang dapat memotivasi kita agar semakin giat beribadah dan beramal shalih. Karena dengan keduanya, kita dijanjikan segala kenikmatan tiada tara dari dunia yang fana ini.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-7260991284664936089?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/7260991284664936089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=7260991284664936089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/7260991284664936089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/7260991284664936089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/03/s-u-r-g.html' title='S U R G A'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-4772333534085218558</id><published>2010-03-29T13:32:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T13:36:08.442-07:00</updated><title type='text'>Tentang Rezki</title><content type='html'>&lt;b&gt;Hiruk pikuk manusia di dunia ini &lt;/b&gt;selalu berkaitan dengan rezeki, rezki, atau rejeki orang Jawa bilang dan &lt;i&gt;"rizqun"&lt;/i&gt; asli kata bahasa Arabnya. Karena rezki ini pula, manusia bisa menjadi raja tega, berbuat dan menghalalkan segala cara. Karena putus asa meraih rezki juga, hingga muncul ungkapan "yang haram saja sulit dicari, apalagi yang halal," &lt;i&gt;na'udzubillah&lt;/i&gt;. Sebanyak apa harta rezki kita di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dunia selalu diindentikkan dengan melimpahruahnya harta kekayaan. Umumnya manusia, setelah puas tercukupi materinya, hasratnya ingin pula berkuasa. Sifat manusia yang tidak pernah puas inilah yang sering menjerumuskan ke jurang kehinaan. Sejatinya, manusia telah ditentukan amal, mati, rezki, penderitaan atau bahagianya, semenjak masih di dalam kandungan ibunya. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah saw: &lt;i&gt;"Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhgah (daging) selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya dengan empat kalimat: ditentukan amal, mati, rezki, penderitaan atau bahagianya. Setelah itu ditiupkan ruh ke dalamnya. Dan demi tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya masing-masing kalian akan melakukan perbuatan amal ahli surga hingga jarak antara dia dengan surga tinggal sehasta, akan tetapi telah ditetapkan baginya kemudian berbuat amalan ahli neraka, maka masuklah dia ke neraka. Dan sesungguhnya masing-masing kalian akan melakukan perbuatan amal ahli neraka hingga jarak antara antara dia dengan neraka tinggal sehasta, akan tetapi telah ditetapkan baginya kemudian berbuat amalan ahli surga, maka masuklah dia ke surga." &lt;/i&gt; (HR. Mutafaqun 'alaihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, setiap makluk ciptaanNya ada ukurannya. Sekali-kali Allah tidak akan pernah menciptakan sesuatu kemudian memberi kelebihan atau beban yang berlebih hingga makluk tidak mampu menyandangnya.  Dalam hal rezki demikian pula, bahwa Allah Maha Mengetahui kebutuhan makhlukNya. Firman Allah swt: &lt;i&gt;"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." &lt;/i&gt; (QS. Huud: 6). Maha besar Allah yang tiada satupun menandingiNya, ayat ini membuktikan bahwa tidak akan pernah luput setiap makhluk yang bernyawa kecuali Allah memberikan rezki kepadanya. Yang perlu kita sadari bahwa kadar rezki yang Allah limpahkan pasti sesuai dengan takaran yang telah Allah tentukan, sesuai untuk setiap makhlukNya, tidak berlebih dan tidak kurang, karena Allah Maha Tahu apa yang dibutuhkan makhlukNya. Hanya sering kali kita kurang bersyukur dengan apa yang telah diterima dan selalu merasa kekurangan. Kita diberi Allah apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, begitu kata nasehat bijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, kita tidak dilarang untuk berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan dengan materi kekayaan. Dalam salah satu bab Fikih Prioritas, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menyimpulkan bahwa menjadi orang kaya yang bersyukur lebih utama daripada miskin yang sabar. Karena manfaat orang kaya yang bersyukur dapat dirasakan dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebagai anjuran agar diluaskan rezki, Rasulullah saw menasehatkan:  &lt;i&gt;"Barangsiapa yang mengingikan dipanjangkan umur dan diluaskan rezkinya, maka sambunglah tali silaturrahmi." &lt;/i&gt; (HR. Muslim). &lt;br /&gt;Dalam Al-Qur`an, banyak ayat yang menginformasikan siapa saja yang diluaskan rezkinya oleh Allah swt. Di antaranya ayat 36 surah Saba': &lt;i&gt;"Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." &lt;/i&gt;  Al-Qur`an juga menjelaskan perbedaan rezki orang yang kafir dan beriman, firman Allah swt: &lt;i&gt;"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas."&lt;/i&gt; (QS. Al-Baqarah: 212). Masih ada puluhan ayat lain di Al-Qur`an memberi penekanan bahwa Allah akan terus menambah rezki bagi orang yang bertakwa. &lt;i&gt;"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." &lt;/i&gt; (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Inilah janji Allah, sikap takwa dan tawakal seseorang berbanding lurus dengan rezki yang didapat. Sebuah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda: &lt;i&gt;"Jika kau bertawakal kepada Allah sebenar-benarnya tawakal, Allah pasti memberikan rezki kepadamu sebagaimana seekor burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dengan perut kenyang." &lt;/i&gt; Semoga kita selalu meningkatkan takwa dan bertawakal kepada Allah swt.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-4772333534085218558?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/4772333534085218558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=4772333534085218558' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4772333534085218558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4772333534085218558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/03/tentang-rezki.html' title='Tentang Rezki'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-4196779697003708057</id><published>2010-03-25T23:56:00.001-07:00</published><updated>2010-03-25T23:56:21.917-07:00</updated><title type='text'>Presiden SBY dan Wapres Boediono di Arab</title><content type='html'>Hari Senin biasanya di flat saya bangun satu jam sebelum shalat Fajr (Shubuh) karena sahur terlebih dahulu untuk shaum. Tapi hari ini bangun tepat waktu shalat dan bergegas ke masjid setelah mengepak barang-barang untuk dibawa kembali ke Dammam. Ya, hari ini jadwal kembali ke Dammam, setelah 3 hari dua malam dihabiskan di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi ke masjid untuk shalat shubuh di Arab Saudi adalah waktu yang paling saya senangi, meski kadang ditemani dengan rasa kantuk yang berat. Ini karena pada waktulah satu-satunya waktu yang paling sejuk di antara waktu lain, serasa di Tanah Air. Dan masjid di sini jauh berbeda dengan masjid-masjid di Indonesia; berkarpet tebal, ada pendingin udara, buku dan Al-Qur`an disediakan untuk dibaca, yang lebih spesial lagi, imam yang memimpin shalat dijamin hafidz Qur`an dan bacaannya indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat shubuh terakhir saya di Riyadh dilaksanakan di masjid persis samping Sekolah Indonesia Riyadh (SIR). Sekolah ini diperuntukkan anak-anak diplomat, staf lokal kedutaan, serta para pendatang dari Indonesia di pelbagai lapangan pekerjaan. Guru-gurunya berstatus PNS dikirim oleh Diknas (Departemen Pendidikan Nasional). Tentunya, mereka ini terpilih melalui seleksi dan bermukim bersama keluarganya di Saudi. Waktu shubuh itu, saya dapat mengujungi SIR, karena seorang keponakan dari senior alumni Gontor yang akan mengantar saya ke stasiun kereta api sekalian menjemput beberapa siswa SIR di beberapa titik lokasi kota Dammam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk ke dalam kampus SIR, saya temui berbagai tulisan di dinding, papan pengumuman, plus majalah dinding siswa berbahasa Indonesia. Lebih masuk ke dalam, saya melihat-lihat kantor kepala sekolah dan ruang guru. Semua ruangan serasa padat dengan berbagai peralatan kantor dan ajar. Barang-barang kelengkapan kantor umumnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di kantor-kantor sekolahan, yang paling menarik perhatian saya adalah foto Pak Presiden SBY dan wakil presiden Boediono. Saya yakin kedua foto kepala negara dan wakilnya tersebut dibawa langsung dari Indonesia bersama figuranya. Kalau mencarinya di toko buku atau pasar, rasa-rasanya 100% saya percaya tidak akan ditemukan. Diunduh dari internet pun rasanya akan merepotkan ya.... Yang pasti, suatu yang asing di mata melihat foto 2 pria berkopeah tersebut setelah sekian lama mata terbiasa memandang foto-foto Raja beserta keluarganya dengan kerudung, hidung dan kumisnya yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa cerita menarik tentang SIR ini. Meskipun berada jauh ribuan kilometer dari Indonesia, sekolah ini menggunakan kurikulum Diknas murni. Jadi, di tengah-tenah masyarakat membaca dan menulis Arab, para siswa SIR mendaras buku PpKn, fisika, biologi, matematika versi Indonesia. Menurut kabar, hanya ada 12 sekolah Indonesia model demikian di seluruh dunia. Yang lebih heboh lagi, siswa putra dan putri bercampur layaknya SMP dan SMA di Tanah Air. Untuk mengingatkan, di Arab Saudi, aturan Islam diterapkan; sekolah dikhususkan untuk pria atau perempuan saja, tidak dicampur. Tidak hanya di sekolah, hijab, pembatas antara dua lawan jenis manusia juga banyak diterapkan di ruang makan restoran, ruang tunggu di stasiun, dan di tempat umum lainnya. Nah ini, SIR bercita rasa Indonesia "ashli dengan shod". (perjalanan kereta api Riyadh ke Dammam).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-4196779697003708057?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/4196779697003708057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=4196779697003708057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4196779697003708057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4196779697003708057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/03/presiden-sby-dan-wapres-boediono-di.html' title='Presiden SBY dan Wapres Boediono di Arab'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-2692821834666075553</id><published>2010-03-25T23:54:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T23:55:17.268-07:00</updated><title type='text'>Satu Hari di Tanah Air</title><content type='html'>Menginjakkan kaki di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh, ibu kota Kerajaan Arab Saudi, serasa kembali ke Tanah Air. Bagaimana tidak? Di mana-mana di lingkungan kantor KBRI bertemu orang Indonesia dan berbicara bahasa Indonesia. Bahkan, menu makan yang lama menghilang di atas meja makan, hadir kembali dengan banyak pilihan; dari pecel, bakso, sop kikil, tempe bacem, mi bihun dan kawan-kawannya. Alhamdulillah, Allah masih memberi nikmat kesehatan hingga dapat merasakan nikmatnya makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena sehari-hari rutininas saya mejemukan antara kantor dan flat, serta jalanan yang saya lewati itu-itu saja, begitu tiba di kantor KBRI, serasa terbang jauh 9 jam ke Indonesia. Pagi-pagi jam 8, sudah ramai orang beraktivitas. Meski tetap terlihat satu-dua-tiga orang berpakaian "top" ala Saudi atau serba hitam untuk wanita, tapi orang-orang berkulit sawo dan hidung pesek lebih mendominasi yang tampak di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, entah mengapa, saling sapa dan bercengkeramah lebih cepat cair seakan-akan lama kenal. Saya termasuk orang yang terbilang baru di dunia Arab, makanya tidak segan-segan saya bertanya tentang apa saja agar dapat menuntaskan tugas dari kantor di KBRI ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca di Riyadh hari ini tidak begitu panas tetapi agak dingin karena hembusan angin seperti bercampur freon, sedingin mobil yang ber-ac. Makanya, ketika selesai wudhu untuk shalat Dzuhur, kulit yang dihempas angin jadi terasa lebih dingin. Menariknya, suasana shalat seperti di Tanah Air kembali terasa saat berjama'ah dengan sesama muslim Indonesia. Terutama, saat selesai salam, makmum kanan-kiri mengulurkan tangan memohon berjabat tangan, sebuah tradisi non-Arabi. Jika merujuk ke buku fikih yang dianut ulama bermanhaj Salaf Shalihin, sesungguhnya tidak ada contoh Rasulullah saw berjabat tangan usai salam di tahiyyatul akhir shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang tidak terlewatkan selepas shalat Dzuhur adalah makan siang. Lagi-lagi, saya serasa ada di kampung halaman. Selain menu makannya, teve yang dipasang hidup di pojok kantin menayangkan acara hari minggu SCTV. Hmmm…. Penyanyi rock band berambut gondrong dieluk-elukan penonton pria dan wanita yang berbaur tanpa sekat. Pembawa acara yang tampil seksi dilatari dekor panggung di tempat terbuka hijau khas kesejukan hawa Indonesia. Dan seterusnya…. Antara rindu dan takut; bahwa lama tak menyaksikkannya dan ruh religius Islam tidak bernyawa…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sebelum adzan Ashar berkumandang, saya telah dapat merampungkan segala urusan kantor di Dammam. Jadi, waktunya kembali. Tapi tampaknya malam ini saya putuskan tidak kembali langsung ke Dammam, satu malam lagi untuk menikmati ibu kota Saudi ini, meski hanya melihat dari kaca mobil fortuner milik senior saya; Faishaliyyat dan Kingdom building, two icons belong to Riyadh City. (Hayy Umm Al-Hammam, tengah malam, 15 R. Awwal 1431)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-2692821834666075553?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/2692821834666075553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=2692821834666075553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/2692821834666075553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/2692821834666075553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/03/satu-hari-di-tanah-air.html' title='Satu Hari di Tanah Air'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-2181155643597866057</id><published>2010-03-25T23:53:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T23:54:08.266-07:00</updated><title type='text'>Ummul Hammam di Riyadh</title><content type='html'>Layaknya pelancong yang baru pertama kali menginjakkan kaki di daerah baru, saya juga tidak hafal kemana jalan keluar (makhraj dalam bahasa Arab atau exit di bahasa Inggris) stasiun setelah turun dari kereta api. Cara yang mudah agar tidak tersesat; ikuti ke arah mana mayoritas orang-orang berjalan begitu tiba di stasiun, ke situlah mereka menuju pintu keluar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tujuan berikutnya adalah tempat menginap. Sebenarnya bos di kantor membekali uang yang cukup untuk sewa kamar tidur di hotel. Tapi saya sudah janjian dengan senior alumni Gontor untuk bersilaturrahmi. Lagi pula, Riyadh kota asing bagi saya, perlu ada orang yang dikenal dan dipercaya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah saling berbalas dengan pesan singkat dan sedikit menit berbicara via telepon genggam, saya naik taksi ke tempat yang dituju; kediaman salah seorang alumni Gontor di Hayy Ummul Hammam, Syari' al-'Arbain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Arab biasa menyebut taksi dengan limuzin, atau cukup dengan taxi saja. Bagi kita orang Indonesia, limusin atau limuzin menurut lidah orang Saudi, mobil sedan panjang super mewah yang biasanya dipakai selebritis atau pejabat penting. Seperti taxi, yang aslinya dari bahasa Inggris, telah terserap menjadi bahasa Arab. Jadi, sama seperti bahasa kita, bahasa Arabpun banyak memasukkan istilah asing sebagai bahasanya. Kalau menurut bahasa Arab yang fushah, taxi adalah "sayyaratul ajr".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya dari stasiun ke tempat tujuan di atas, sopir taksi meminta ongkos 50 riyal. Wah, ini jangan-jangan kemahalan, saya ragu, meskipun tidak tahu jauh-dekatnya lokasi yang akan saya capai. Ternyata benar, senior saya, alumni Gontor, mengiformasikan cukup 25 riyal saja untuk ongkos taksi. Tidak mau ditawar, saya coba cari taksi lain. Karena suka dengan tren mobil, saya tidak mau naik sembarang taksi. Pertama, saya cari mobil yang bagus atau terbaru; kedua, tawar ongkos hingga harga terendah. Bersyukur malam pertama di Riyadh tersebut saya dapatkan mobil taksi Nissan Altima keluaran terbaru plus harga 25 riyal, sesuai tarif yang diinginkan. O ya, taksi di Saudi kualitas mobilnya tidak kalah dengan mobil pribadi, dari Toyota keluaran 80-an hingga Camry sekelas pegawai bank di Indonesia, selain merek-merek lain keluaran anyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, sopir taksi yang berkebangsaan Arab, ternyata senang sekali berbicara banyak hal. Dia bilang, taksi di Riyadh wajib ngebut dan harus pintar curi jalan kosong untuk menyerobot. Kalau tidak begitu, bisa berjam-jam bawa satu penumpang ke tempat tujuan. Jalanan di kota Riyadh, menurutnya, padat dengan kendaraan. Hmm…. Saya kira gak aneh kok komentar si sopir, di negara sih ibu kota negara tidak padat? Apalagi di Jakarta, ibumacet sedunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si sopir berhenti berbicara, saya coba tanya-tanya saja, gak ada salahnya. "Kenapa tempat yang akan kita tuju ini disebut Ummul Hammam?" Tanya saya iseng. Dengan mudah dia jawab, "Dulu, di daerah ini pusat berkumpulnya hammam. Ma'lum hammam?" Tanya dia juga "Tahu hammam?" A ha, saya ngerti, hammam kalau bahasa kita adalah merpati. Tapi menurutnya sekarang sudah tidak ada lagi merpati berkumpul, mungkin karena perubahan pembangunan kota dan kuantitas penduduk yang bertambah. Di mana-mana, hampir seperti itu, hutan jadi kota, sawah jadi perumahan, laut diuruk jadi daratan, ulah tangan manusia memang merubah ekosistem alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu pasti jawaban sopir di atas apakah berdasarkan ilmu atau sekedar "qola wa qila" (mulut ke mulut). Tapi yang pasti, bahwa kata "ummu" yang berarti "ibu" menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap pusat, asal, paling umum, dan sejenisnya selalu menggunakan kata "ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa malam hari saya habiskan di kediaman salah seorang alumni Gontor yang bekerja di KBRI Riyadh sebagai local staff. Beberapa hal saya sampaikan dan diskusikan malam menjelang istirahat dan sebelum ke KBRI esok harinya. Tentunya, banyak hal dari pembicaraan tersebut terkait tugas kantor yang saya emban dan hobi saya belajar; belajar agama, tradisi arab, pekerjaan, dst. (Kantor KBRI Riyadh, ba'da Ashar, 15 R. Awwal 1431)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-2181155643597866057?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/2181155643597866057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=2181155643597866057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/2181155643597866057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/2181155643597866057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/03/ummul-hammam-di-riyadh.html' title='Ummul Hammam di Riyadh'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-4811591297547946610</id><published>2010-03-25T23:51:00.001-07:00</published><updated>2010-03-25T23:51:38.433-07:00</updated><title type='text'>Yang Allah Kehendaki Atas Diri Kita (Sebuah Hikmah)</title><content type='html'>Di antara kita mungkin pernah menyaksikan prilaku orang yang selalu bermaksiat, baik maksiat dengan kemaluannya, mata, mulut, dan anggota badan lainnya, tetapi terlihat bahagia dan dicukupkan kehidupannya di dunia oleh Allah swt. Sementara yang rajin ibadah dan taat agama, kadangkala menjalani hidup di dunia dengan penuh cobaan dan ujian. Jika disuruh memilih, kita pasti akan memilih menjadi orang yang taat beragama sekaligus hidup bahagia yang dicukupkan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, kita sering kali salah prasangka terhadap kehendak Allah. Mari kita perhatikan sabda Rasulullah saw: "Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hambaNya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidziy no.2396)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hambaNya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah: "Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepadaMu." (HR. Muslim no.771) Dan Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah, sehingga jadilah kejelekan itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman tentang diriNya: "Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (Huud:107) Dan juga Dia berfirman: "Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj:18). Dari ayat tersebut jelas, bahwa semua perkara itu di tangan Allah. Dan seseorang tidak akan lepas dari salah atau keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban. Jika Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka Allah segerakan baginya balasan dari perbuatan dosanya di dunia. Bentuk balasan tersebut, baik diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (mukaffirat dzunub). Kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki, agar terhapus dosa-dosa tersebut. Hingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena adzab dunia itu lebih ringan dari pada adzab akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika Allah menginginkan kejelekan kepada hambaNya maka Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya. Allah juga hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya.&lt;br /&gt;Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa, lalu di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika kita melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta diberikan kepadanya berbagai kenikmatan, sesungguhnya Allah menginginkan kejelekan kepadanya. Hal ini karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat. Rasulullah saw juga bersabda: "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah)." (HR. At-Tirmidziy no.2396).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini terdapat anjuran, motivasi, sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah yang menimpanya sehingga ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah swt. Bahkan, pada tingkatan yang lebih tinggi, adanya musibah adalah untuk disyukuri, dengan harapan sebagai penghapus dosa-dosa kita selama di dunia ini. Wallaahul Muwaffiq. (Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. Inaallaha ma'anaa........ Muhammad Fakhri Al-'Ilmi.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-4811591297547946610?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/4811591297547946610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=4811591297547946610' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4811591297547946610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/4811591297547946610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/03/yang-allah-kehendaki-atas-diri-kita.html' title='Yang Allah Kehendaki Atas Diri Kita (Sebuah Hikmah)'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-3721891738464704185</id><published>2010-03-25T23:47:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T23:50:48.134-07:00</updated><title type='text'>Untuk Sebuah Pengalaman</title><content type='html'>Perjalanan ke Riyadh, ibu kota Kerajaan Arab Saudi, bukanlah perjalanan keluar kota untuk yang pertama kali. Tetapi, mengkhususkan ke kota Riyadh, apalagi dengan tujuan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), adalah kali pertama. Mengemban misi tugas kantor, saya juga ingin bersilaturrahmi dengan senior alumni Gontor yang selama ini hanya kenal dan berkomunikasi via internet. Tulisan ini sekedar menuangkan isi hati, ide, dan gagasan, campur aduk seperti pecel yang saya lahap untuk sarapan pagi hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja saya pesan tiket kereta api (KA) hari Sabtu sore. Pertama, saya ingin mencari pengalaman merasakan gerbong KA di Saudi, dan kedua, lokasi stasiun di kota Dammam tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Rencana sebelumnya, saya akan berangkat Kamis sore dan menghabiskan weekend di Riyadh dan bertandang ke KBRI di hari Sabtu. Tetapi kemudian batal, setelah mendapat telepon dari salah satu staf lokal KBRI, bahwa Sabtu yang biasanya sebagai hari awal aktivitas kantor di Saudi, diliburkan karena Maulid Nabi saw. Ya, lucu juga sih, di negeri Raja Abdullah ini, para ulamanya mengharamkan perayaan Mauludan, karena termasuk bid'ah, perkara ibadah yang tidak ada landasan hukumnya dari Al-Qur`an maupun sunnah Rasululullah. Tetapi tampaknya KBRI mengikuti kalender yang berlaku di Tanah Air, memerahkan tanggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam sebelum keberangkatan, saya telah tiba di Mahattah Sikkatul Hadid alias stasiun KA kota Dammam. Tidak seperti di Tanah Air, tempat-tempat publik seperti stasiun di negeri ini bersih dan sepi. Selain dua hal tersebut, pemanfaatan teknologi juga terasa dari semenjak pembelian tiket dengan sistem e-ticketing meski kelas ekonomi hingga "hotspot area" bagi pecandu internet. Tapi, tentang pelayanan dan keramahan pegawai pemerintah atau untuk kereta ini Saudi Railway Organization, hampir sama rata di seluruh Saudi: mati senyum dan nihil keramahan. Seperti yang kita tahu, karakter orang Arab yang keras, kasar, dan sifat-sifat lain peninggalan jaman Jahiliyah masih ada yang mewarisi oleh warga Saudi, khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dipastikan tiket yang kita beli dengan scan dan menunjukkan identitas semacam KTP, kita dipersilahkan menuju gerbong kereta api. Mungkin karena kelas ekonomi, tidak ada penentuan nomor duduk kecuali gerbongnya saja nomor 7, persis cara PT. KA di Indonesia. Penentuan gerbong di Saudi sangat penting, karena jika kita salah masuk gerbong, bisa-bisa diusir karena setiap gerbong dibedakan; khusus untuk keluarga (perempuan) dan spesial bagi laki-laki saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berkeliling gerbong 2 kali, untuk memastikan kursi yang kososng di samping jendela. Tapi apa boleh buat, semua kursi dekat kaca jendela terisi oleh penumpang lain yang lebih dahulu masuk gerbong. Akhirnya saya putuskan duduk di samping seorang Arab Sudan. Asiknya, meski saya beli kelas ekonomi, tapi gerbongnya sekelas eksekutif di Indonesia, bahkan lebih bagus; teve LCD setiap empat-lima bangku dan pendingin yang rata. Karena negara Islam, keberangkatannya dimulai dengan doa oleh sebuah program yang diperdengarkan melalui speaker di dalam gerbong. Tentang pengeras suara ini, telinga saya sangat terganggu kalau pengurus KA mengumumkan "kita telah tiba di kota Hufuf, Al-Ahsa" atau "Saat ini telah masuk waktu shalat maghrib". Isi pengumumannya memang penting, tapi cara menyampaikannya dengan speaker yang keras volumenya serta intonasinya yang terdengar "hard" di telinga saya yang asal Indonesia, sangat mengganggu ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhenti sejenak di stasiun kota Baqiq, satu jam dari kota Dammam, seorang petugas KA tiba mendorong gerobak yang di atasnya tersedia minuman dan makanan ringan. Nah, yang satu ini sama dengan di Indonesia, jajanan di atas KA harganya berlipat ganda alias lebih mahal daripada di warung-warung umumnya. Untuk teh plus halib dan roti keju ukuran sedang, ternyata saya dikenai bayar 5 SAR (Saudi Arabia Riyal) atau Rp 11.500,- dengan kurs 1 SAR = Rp 2.300,-. Terus terang, beli teh dan roti di atas gerbong KA tersebut bukan karena saya kehausan atau lapar sekali, tetapi lebih karena ingin mencoba sebagai, lagi-lagi, sebuah pengalaman. Ya, saya yakin experience is the best teacher, believe it! (Riyadh, 15 Rabi'ul Awwal 1431)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-3721891738464704185?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/3721891738464704185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=3721891738464704185' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3721891738464704185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3721891738464704185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/03/untuk-sebuah-pengalaman.html' title='Untuk Sebuah Pengalaman'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-5335541627460215116</id><published>2010-01-13T09:43:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T09:44:43.643-08:00</updated><title type='text'>Ada Apa Dengan Shalat?</title><content type='html'>Di negeri asal Usamah bin Laden, Kerajaan Arab Saudi, banyak bertebaran buku-buku saku, buletin, atau selebaran sejenis dibagikan secara gratis di masjid-masjid. Isinya tulisan petunjuk agama Islam yang sangat dasar, seperti tata cara shalat dan wudhu, dzikir dan doa setelah shalat, hingga tema-tema tulisan yang mengingatkan kita tentang akhirat. Aslinya berbahasa Arab, tapi sebagian telah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, sesuai dengan beragamnya asal negara umat Islam yang bermukim di negeri kaya minyak ini. Berikut ini yang saya terjemahkan tentang shalat dari judul aslinya "at-Tahdzir Man Taraka Shalat" yang diterbitkan oleh "al-Qism al-'Ilmi bi Madar al-Wathan". Semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Bagi yang Meninggalkan Shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;Alhamdulillah wahdahu, wa shalatu wa salam 'ala man la nabiyya ba'dahu, 'ammaa ba'du…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat……. Apa yang kamu ketahui tentang shalat? Shalat adalah amal kesayangan nabi Muhammad saw dan pekerjaan yang paling disenanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat merupakan tanda iman seseorang dan batas pemisah antara iman dan kufur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah saw: "Antara (yang membedakan) seorang hamba (Allah) dan syirik, ataupun kufur, (adalah) meninggalkan shalat." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda: "Perjanjian antara kami (muslim) dan mereka (kafir) adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka telah kafir." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang meniggalkan shalat, apa lagi yang tersisa dari agamanya?! Dia telah melepaskan kepala dari jasad tubuh, apakah masih ada tubuh yang tersisa hidup tanpa kepala??!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya meninggalkan shalat merupakan musibah terbesar yang memungkinkan terjadi pada manusia….. Meninggalkan shalat adalah musibah paling besar dari kehilangan harta atau anak atau kesehatan, meninggalkan shalat berarti sama dengan kehilangan kehidupan. Ini karena jika seseorang mati dalam keadaan meninggalkan shalat maka dia akan tergolong ke dalam "kelompok kiri" yang akan diadzab di neraka jahanam. Allah swt berfirman: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat," (QS. Al-Mudatsir 42-43). Mereka yang demikian ini, telah memilih jalannya dan sampailah kepada tujuan akhir mereka (akibatnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat Allah mengatakan kepada sebagian orang yang mendirikan shalat: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." (QS. Al-Ma'un: 4-5). Semoga kita yang tidak termasuk yang melalaikan shalat, apalagi lalai shalat secara menyeluruh. Dan saat Nabi saw bersabda kepada sebagian orang yang mendirikan shalat: "Amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah amalan shalatnya, jika baik shlaatnya maka dia beruntung dan berhasil. Dan apabila rusak shalatnya maka gagal dan merugilah dia. (HR. Tirmidzi). Bagaimana dengan keadaan orang yang tidak shalat sama sekali? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah ra. Berkata: "Para sahabat Rasulullah saw tidak melihat sesuatu dari segala pekerjaan yang mengakibatkan seseorang menjadi kufur kecuali meninggalkan shalat." Dan berkata Umar bin Khatab ra.: "Adapun sesungguhnya tidak ada kebahagiaan bagi seseorang di dalam Islam jika telah meninggalkan shalat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wahai hamba Allah, Apakah yang kau merindukan untuk munajat kepada Tuhanmu? Apakah kau inginkan hatimu dan jiwamu tenang? Apakah kau mengharapkan turunnya kasih sayang dan ampunan Allah kepadamu? Siapa yang tidak mengingikan hal itu semua? Oleh karenanya, shalatlah, cintailah, perhatikan, dan jagalah shalat, jadikan shalat bagian dari kesibukanmu, perbaikilah doa-doamu, jangan kau akhirkan waktu shalatmu, dirikanlah dengan saudara-saudaramu di rumah-rumah Allah saat adzan memanggilmu. Dan risalah ini memberitakan kabar gembira yang menyenangkan untukmu, agar hatimu tersinari dan dadamu lapang, menjadikanmu termasuk orang yang sukses di dunia dan akhirat.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-5335541627460215116?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/5335541627460215116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=5335541627460215116' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5335541627460215116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5335541627460215116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/01/ada-apa-dengan-shalat.html' title='Ada Apa Dengan Shalat?'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-5915479182896105968</id><published>2010-01-13T09:14:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T09:16:41.621-08:00</updated><title type='text'>Bekal Hidup Setelah di Dunia</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;big&gt;Hari berganti melewati waktu.&lt;/b&gt;&lt;/big&gt; Bak lilin menyala; bertambah pendek, bertambah usia kita; redup cahayanya, kita mati. Kita yakin bahwa ada hidup setelah mati di alam akhirat. Di dunia saat ini, kita hidup hanya puluhan tahun saja, tapi di akhirat tak terhingga waktu. Di alam setelah dunia ini, kita akan memetik buah hasil amal perbuatan kita. Semakin banyak amal shalih, buahnya manis. Tanpa amal shalih, balasannya pun setimpal. Tulisan ini terinspirasi dari buku "&lt;i&gt;Ammin Mustaqbalak&lt;/i&gt;" karya Abdul Lathif Al-Ghamdi. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dimana Sebenarnya Masa Depan Kita?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibn Umar menceritakan bahwa Rasulullah saw memegang bahuku, kemudian beliau saw bersabda: &lt;i&gt;"Jadilah di dunia seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberang jalan." &lt;/i&gt; (HR. Tirmidzi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa depan hakiki yang tidak dapat kita hindari adalah kematian. Namun, kematian bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Dari kematian kemudian dibangkitkan di alam yang berbeda dengan dunia, di mana manusia akan dikelompokkan menjadi dua golongan besar; penduduk surga (&lt;i&gt;ahlu jannah&lt;/i&gt;) dan penduduk neraka (&lt;i&gt;ahlu naar&lt;/i&gt;). Apakah yang kita cita-citakan, menjadi &lt;i&gt;ahlu jannah&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;ahlu naar&lt;/i&gt;? Kita selalu saja mengharapkan surga, tempat di mana disediakan segala kenikmatan, keindahan, dan kebahagiaan sejati. Cita-cita meraih tempat inilah yang disebut kesuksesan sejati dari hidup di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah swt: &lt;i&gt;"Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung." &lt;/i&gt; (QS. Al-Hasyr: 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sahabat Sejati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu sahabat sejati yang akan setia menemani kita hingga ke dalam lubang kubur yang gelap sekalipun. Sahabat ini tidak akan pernah meninggalkan dan mengkhianati kita, selalu setia dan mengiringi kita. Dialah amal shalih yang kita kerjakan selama hidup di dunia. Dan sering kali sahabat sejati ini kita remehkan, kita lebih mementingkan selainnya yang  tidak dapat membantu ketika dalam alam kubur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas ra, bersabda Rasulullah saw: &lt;i&gt;"Ada tiga sahabat akrab, sahabat yang pertama mengatakan 'aku bersamamu hingga kau mendatangi pintu Penguasa alam, kemudian aku kembali dan meninggalkanmu'. Mereka itu adalah keluarga dan kerabatmu. Mereka mengantarkanmu hingga ke kuburanmu, kemudian kembali dan meninggalkanmu. Adapun sahabat yang mengatakan kepadamu 'milikmu apa saja yang kau berikan, dan apa yang kau genggam bukanlah milikmu.' Sahabat ini adalah hartamu. Sedangkan sahabat yang mengatakan 'aku bersamamu ke mana saja kau masuk dan keluar.' Inilah dia amal perbuatanmu. Maka berkata (orang yang meninggal) 'demi Allah, sungguh aku telah meremehkanmu dari yang lainnya." &lt;/i&gt; (HR. al-Hakim)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Amal Shalih yang Tidak Akan Terputus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada  beberapa amal shalih yang terus berkesinambung menambah kebaikan meski kita telah meninggal dunia. Amal ini tetap hidup dan mengalir ke akhirat. Dan yang luar biasa, apa yang kita tanam dari kebaikan selama hidup akan kita petik hasilnya berlipat-lipat di akhirat kelak. Di antara amal shalih yang tidak akan terputus adalah amal sedakah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang berdoa untuk orang tuanya yang meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda: &lt;i&gt;"Jika anak Adam meninggal, terputus semua amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan yang meninggal." &lt;/i&gt; (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumhur ulama membagi amal shalih selama hidup dalam dua kelompok, pertama, amal jasmani di antaranya shalat, puasa, dan membaca al-Qur`an. Dan kedua, amal harta, di antaranya sedekah, membayar denda atas larangan (&lt;i&gt;kafarat&lt;/i&gt;), dan membelanjakan hartanya untuk membela agama. Sedangkan berhaji merupakan amalan yang terkandung dua jenis amal shalih di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita bisa mengerjakan amal shalih sebanyak yang dapat kita kerjakan sebelum ajal menjemput kita, amin ya Rabbal 'alamin.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-5915479182896105968?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/5915479182896105968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=5915479182896105968' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5915479182896105968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5915479182896105968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/01/bekal-hidup-setelah-di-dunia.html' title='Bekal Hidup Setelah di Dunia'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-1761152079867827874</id><published>2010-01-10T05:41:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T05:56:37.585-08:00</updated><title type='text'>"Tahafut" Mahmudi Arif Dahlan Yang Menelaah Kritis Ibnu Taimiyah</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu, teman seangkatan saya di Gontor memposting tulisan yang bernada "tuduhan" terhadap Ibnu Taimiyah. Dalam tulisannya di catatan FB-nya, Mahmudi Arif Dahlan, nama rekan saya tersebut, dengan penuh percaya diri mengkritik ulama yang tersohor tersebut terkait paham akidahnya. Setelah saya respon dan ditanggapinya lagi, saya mempunyai kesan dan kesimpulan sendiri tentangnya. Sebelum tema ini, saya pribadi sempat berdebat tentang tasawuf, wahabi, sejarah Arab, juga tentang almarhum Gus Dur (dapat antum ikuti di wall &amp; notes Mahmudi). Saya 'share' di sini, sebagai kaca perbandingan sekaligus sebagai wujud niat saya membela ulama yang saya jadikan panutan dalam berakidah. Semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TULISAN MAHMUDI BAG. 1&lt;br /&gt;Dimulai tulisan ini dengan permohonan maaf sedalam-dalamnya kepada seluruh pembaca, mungkin tulisan ini terlalu frontal, arogansi bahkan mungkin terlalu emosional bagi penulis yang kapasitasnya “mencari/thalib”. Tapi, kita sebagai seorang Muslim harus mau menerima suatu kebenaran dari man pun datangnya. Karena itu dadalah salah satu tanda kalau kita mendapat petunjuk dari Allah SWT (a human guided). Pengambilan topik ini dengan preteks, fatwa Ibnu Taimiyah telah menjadi landasan dan rujukan sebagian dari kita –termasuk penulis- dalam berkeyakinan kepada Allah. Tanpa pernah menelaah secara mendalam (deep) apa essensi dari fatwa tersebut. Bukan pula penulis bermaksud untuk menggugat kemapanan (status quo/establishment) yang ada, tapi hanya untuk membuka wawasan dan pendangan kita atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biographi Singkat Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Ahmad Taqiuddin Abu Abbas bin Syihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim bin Syekh Majduddin Abil Barakat Abdussalam bin Abu Muhammad Abdillah bin Abi Qasim al-Khadar bin Muhammad bin al-Khadar bin Ali Abdillah dan famili ini dinamai Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;Sepanjang historis bahwa, asal perkataan Taimiyah adalah dari neneknya yang bernama Muhammad bin al-Khadar. Beliau ketika pergi naik haji ke Mekkah melalui jalan Taim. Setelah ia kembali dari haji ia dapati istrinya melahirkan seorang anak wanita yang kemudian diberi namaTaimiyah dan keturunannya dinamai Ibnu Taimiyah, sebagai peringatan bagi jalan yang dilalui oleh neneknya pada ketika mengerjakan haji.&lt;br /&gt;Ahamad Taqiuddin itu lahir di Desa Heran, sebuah desa kecil di Palestina pada tanggal 10 Rabiul Awal tahun 661 H. Daerah Heran ini dikenal sedari dahulu sebagai daerah Kristen Shabi’in dan pula daerah orang-orang pandai, ahli filsafat yang selalu mempermainkan akal. Ia tinggal di Desa Heran sampai usia tujuh tahun. Dan desa itu tidak didiami oleh suku Arab, tetapi suku Kurdi, maka itu Ahmad Taqiuddin bukanlah bangsa Arab tetapi dari suku kurdi. &lt;br /&gt;Kemudian ia pindah ke Damsyik (Syiria) karena daerahnya akan diserang pasukan Tartar.&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah dalam historinya kemudian menjadi orang yang alim besar, banyak pengetahuannya dalam Fiqh Mazhab Hambali dan juga dalam ilmu Usuluddin. Beliau mengajar di Masjid Bani Umayyah di Damsyik dan mempunyai banyak murid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi sanagt disayangkan, bahwa beliau terpengaruh dengan faham-faham kaum Musyabihin dan Mujassimin, yang menyerupakan Tuhan dengan makhlu-Nya dan juga banyak mengeluarkan fatwa-fatwa fiqh yang berbeda jauh dengan fatwa-fatwa dalam Mazhab Hambali sendiri –ia bermazhab Hambali- juga dari mazhab-mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Batutah, seorang pengembara abad VII H dari Tanjah Tunisia, menerangkan dalam bukunya yang terkenal “Rihlah Ibnu Batutah” pada jilid I halaman 57:&lt;br /&gt;“Bahwa di kota Damsyik ada seorang ahli fiqh yang besar dalam mazhab Hambli, namanya Taqiuddin Ibnu Taimiya. Ia banyak membicarakan soal-soal ilmu pengetahuan, tetapi sayang :fi aqlihi syaiun”. Penduduk kota Damsyik menghormati orang itu. Pada suatu kali ia mengajar, berdiri di atas mimbar masjid Damsyik yang besar itu. Ia mengeluarkan fatwa-fatwa yang berlainan dari ahli fiqh yang lain. Sehingga akhirnya dia diadukan orang kepada raja Nashir yang berkedudukan di Kairo (karena Damsyik masuk ke dalam kekuasaan Kairo. Akhirnya ia dipenjara. Tapi atas permohonan ibunya kepada raja Nashir ia dibebaskan. Tetapi -kata Ibnu Batutah- terjadi lagi hal serupa. Saya -Ibnu Batutah, pen- berada di Damsyik, pada hari Jum’at Ibnu Taimiyah berpidato di atas mimbar Masjid Damsyik. Di antara ucapannya bahwa Tuhan Allah turun ke langit tiap-tiap malam, seperti turunya saya dari mimbar ini, lalu ia turun dari mimbar itu. Ketika itu hadir seorang ulama Mazhab lain, Ibnu Zahra – ia ahli Fiqh - ia mendebat Ibnu Taimiya, tetapi ia dipukul oleh beberapa murid Ibnu Taimiyah dan dihukum oleh Qadhi Izuddin bin Muslim yaitu pengikut mazhab Ibnu Taimiyah. Maka pengadilan tinggi memutuskan bahwa Ibnu Taimiya melakukan banyak kesalahan dan ia pun dipenjara, didalam benteng Damsyik beliau berpulang karahmatullah tqnggql 27 Syawwal 728 H. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab Salaf dan Khalaf&lt;br /&gt;Mazhab Salaf artinya yang difatwakan orang-orang yang terdahulu dan mazhab khalaf adalah yang difatwakan oleh orang-orang yang kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada essensinya, mazhab salaf tidak ada. Di balik lembaran historis Islam dari zaman Nabi sampai zaman Sahabatbahkan sampai zaman Tabi’in dan Tabi’in-Tabi’in, tegasnya sampai tahun 300 hijriyah tidak terdapat adanya sutu mazhab bernama mazhab Salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam Qur’an dan Hadits-Hadits yang tertulis dalam kitab-kita Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah, Muatta’, Masu’d, Ibnu Hambal, dan lain-lain tidak ada nama mazhab salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan limit waktu yang tegas –selama ini kita masih bingung batasan antara waktu untuk mazhab salaf dan mazhab khalaf- antara salaf dan khalaf. Apakah zaman salaf itu 100, 200, 3000, 400, atau 500 tahun semenjak wafat rasul.&lt;br /&gt;Yang tertulis dalam historis, bahwa pada zaman terakhir timbul istilah-istilah “Ahlu Salaf” atau “Qaulun Salaf”, “Tariq Salaf” dalam mebicarakan problem-problem usuluddin, tapi tidak jelas siapa yang memunculkannya. Ada kemungkinan istilah-istilah ini muncul pada abad ke IV H. Imam Ghazali (450-505 H) telah mempergunakan istilah-istilah ini dalam kitabnya “Iljamu Awam fi Ilmil Kalam” yaitu kitab paling terakhir ia tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TULISAN MAHMUDI BAG. 2&lt;br /&gt;Mazhab Salaf Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;Berkata Muhammad Abu Zahrah, pengarang terkenal pada abad ini, dalam bukunya “Tarikh al-Mazahibul Islamiayah” jiz I hal 211: “Yang kami maksud dengan orang-orang yang menamakan dirinya penganut faham salaf, mereka lahir pada abad IV H. mereka adalah penganut-penganut mazhab Hambali, dan mereka mengatakan bahwa paham mereka diambil dari paham Ahmad Ibnu Hambal yang dikatakannya Iman yang menghidupkan dan mempertahanakan I’itkad salaf itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian diperbaharui pada abad VII H oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, dengan cara gigih mempropagandakan orang-orang untuk mengikuti mazhab salaf itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas maka mazhab salaf muncul pada abad IV H. Pengarang kitab Tafsir Qurthubi mengungkapkan bahwa Hisyam al-Jawaliqi dan sekumpulan orang-orang yang mujassimah –orang-orang yang menganggap Tuhan mempunyai tubuh- yang memunculkan istilah mazhab salaf.&lt;br /&gt;Kemudian mazhab itu hilang karena, dasarnya tidak kokoh, tidak tahan menghadapi tantang zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pada abad ke VII H atau 300 tahun kemudian, muncul seorang ulama penganut mazhab Hambli bernama Amad Taqiuddiin di Damsyik, Syiria, mengeluarakan sejumlah fatwa tentang akidah ketuhanan yang diklaimnya, bahwa itu adalah mazhab salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok-Pokok Pengkajian Mazhab salafnya Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;Sengaja penulis hanya mengambil pokok-pokok pengkajian mazhabnya, terutama dalam aqidah, karena ini adalah sangat krusial sekali dalam ajaran Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab karangannya, yaitu kitab “ Aqidah al-Wasitiyah, Munazharah fil Aqidah al-Wasitiyah, Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra dan lain-lain, cetakan Muhammad Ali Sabih Kairo 1966 M, IbnuTaimiyah menerangkan dasar-dasar pokok dari pengakajiannya, terutama dalam mengartikan ayat-ayat mutasyabihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di anatara pengkajiannya itu dikatakan:&lt;br /&gt;إجراء ايات واحاديثها علي ظاهرها مع نفي الكيفية والتشبيه عنها (مجمومعة الرسائل الكبري)&lt;br /&gt;Artinya: “Mengartikan atau memperlakukan ayat-ayat dan hadits-hadits yang bertalian dengan sifat-sifat Tuihan menurut lahirnya (sebagaimana yang tertulis) dengan catatan meniadakan bentuk dari keserupahan Tuhan dengan makhluk-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiya berkata:&lt;br /&gt;ومن الإيمان بالله الإيمان بما وصف به نفسه ووصفه به رسوله من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل, ومقصوده أن هذا ينفي التأويل الذي هو صرف اللفظ عن ظاهرها إما وجوبا أو جوازا (مجموع الرسائل الكبري ص 415)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Iman dengan Allah ialah mempercayai sifat-sifat Tuhan sebagaimana yang diternagkannya dan yang diterangkan Rasul-Nya, dengan tidak membelokkan, tidak meniadakan, tidak merupakan dan tidak menyerupakan, maksudnya ini meniadakan ta’wil, yaitu memalingkan lafaz dari lahirnya, baik ta’wil wajib atau ta’wil harus .” (Majmu’u Rasailil Kubra hal 415)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun landasan Ibnu Taimiyah dalam pengkajiannya adalah dari perkataan Imam Malik yang mashur itu:&lt;br /&gt;الإساتواء معلوم والكيفية مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة&lt;br /&gt;Artinya: Istiwa telah dikenal, kaifiyatnya tidak diketahui dan beriman kepadanya wajib dan bertanya tentang itu adalah bid’ah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sesuai dengan dasar-dasar itu, Ibnu Taimiyah mengeluarkan fatwa-fatwa dalam aqidah, menyiarkan dan mempropagandakan dengan gigih serta mempertahankannya mati-matian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGGAPAN SAYA&lt;br /&gt;Tulisan di atas yang konon telah menelaah secara mendalam, ternyata tidak demikian faktanya. Saya masih yakin kedalamannya belum seberapa, dibandingkan ulama Ibnu Taimiyah yang dikritiknya. Berikut saya akan buktikkan bahwa Mahmudi Afir Dahlan (MAD) juga cukup arogan dengan gaya tulisannya, meski sebagai seorang yang mengaku "thalib." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAD, dengan "GAGAH BERANI" mengatakan bahwa akidah yang diajarkan Ibn Taimiyah terpengaruh kaum 'musyabihin' dan 'mujasimin' berdasarkan cerita Ibnu Bathuthah di bukunya yang masyhur "Rihlah Ibnu Bathuthah". Saya tidak tahu, apakah dia membaca buku aslinya atau sekedar "copas" (copy paste) dari terjemahan? Karena yang tertulis di catatan MA; TIDAK UTUH, DIRUBAH, DIKURANGI &amp; DITAMBAH-TAMBAH, demi memenuhi hajatnya. Dan tega-teganya MAD menuduh ulama yang terkenal dengan dakwahnya untuk bertauhid ini mengeluarkan fatwa-fatwa yang berbeda jauh dengan empat imam yang kita kenal. Untuk ini, saya sebenarnya penasaran, bisa tidak MAD memberikan contoh fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah yang bertentangan dengan keempat imam madzhab? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku asli Ibnu Bathuthah yang berbahasa Arab, TIDAK ADA DITULISKAN bahwa Ibnu Taimiyah "MENGATAKAN FATWA-FATWA YANG BERLAINAN DARI AHLI FIQH YG LAIN", sebagaimana yg dikutip MAD. Ibnu Bathuthah hanya menyebut "TAKALLAMA MARRATHAN BI AMRIN ANKARAHU AL-FUQAHA." Bagi kita yang penah belajar bahasa Arab, kata "amrin" adalah bentuk tunggal (mufrad), artinya "PERKARA", bukan "FATWA-FATWA". Jelas, "perkara" dengan "fatwa" sangat jauh berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Syaraf ad-Din az-Zawawi al-Maliki yang menuduh Ibnu Taimiyah mengatakan di atas mimbar "KADZA WA KADZA." Sementara Ibnu Taimiyah sendiri menyangkal tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Hingga akhirnya beliau disumpah di hadapan hakim dan ditanya: "Apa yang kau katakan?" Ibnu Taimiyah menjawab: "LAA ILAAHA ILLA ALLAH". Begitulah Ibnu Taimiyah ditanya berulang kali dan dijawab dengan jawaban yang sama. Tetapi oleh Raja An-Nashir, yang berkuasa saat itu, menvonis Ibnu Taimiyah hukuman penjara selama bertahun-tahun (a'waman). Saat di tahanan itulah, Ibnu Taimiyah berhasil menyusun tafsir al-Bahr al-Muhith.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Ibnu Bathuthah memang disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah kembali dipenjara. Tetapi terjemahan MAD mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah berbicara di atas mimbar bahwa "Tuhan Allah turun ke langit tiap-tiap malam, seperti turunya saya dari mimbar ini." Inipun tidak sesuai dengan isi buku aslinya yang mengatakan "INNALLAHA YANZILU ILA SAMAAI AD-DUNYA KA NUZULI HADZA." Coba perhatikan terjemahan MAD menambahinya dengan "TIAP-TIAP MALAM." Adakah versi lain dari buku buku "Rihlah Ibnu Bathuhtah"? Atau MAD mengartikannya dengan cara yang berbeda? Ini mirip para pendeta Nashrani yang mengotak-atik isi injil demi perutnya…..!!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang lebih penting dari itu semua, bahwa cerita di buku Ibnu Bathuthah di atas adalah "mukhtalaq", "ghairul haqiqi", atau HOAX, TIDAK SESUNGGUHNYA alias CERITA PALSU. Cerita-cerita palsu di buku Ibnu Bathutah tersebut, sebenarnya sudah banyak dikoreksi oleh para ulama, salah satunya cerita tentang kedatangan Ibnu Bathuthah ke kota Damsyik. Hal ini disebut dlm "Fatawa as-Syabakah al-Islamiyyah" no. 41473, yang dikeluarkan pada 22 Syawwal 1424 H. Kepalsuan cerita di atas didasarkan bahwa Ibnu Bathuthah tiba di Damsyik pada bulan ke-9 atau bulan Ramadhan 726 H, padahal Ibnu Taimiyah mulai dipenjara pada awal bulan Sya'ban di tahun yg sama (satu bulan sebelum Ibnu Bathutah tiba di Damsik). Hingga Ibnu Taimiyah meninggal di dalam tahanan pada tanggal 20 Dzulqadah 728 H (dua tahun berikutnya). Bagaimana Ibnu Bathuthah menceritakan khutbah Ibnu Taimiyah di Masjid Jami' Damsyik di waktu yang sama keduanya tidak berada di tempat yang sama? HIL YG MUSTAHAL!!!! Bagaimana pula bisa terjadi di tempat umum yg terkenal, tetapi tidak ada saksi lain yang menguatkan atau riwayat lain kecuali cerita di buku Ibnu Bathuthah???!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang kemudian diingatkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa cerita-cerita yang tertulis dalam "Rihlah Ibn Bathuthah" bukanlah tulisan Ibnu Bathuhtah semua. Tetapi seorang yang bernama Abdullah bin Jaziy Al-Kalibiy yang menulis dan mengumpulkannya. Imam Al-Balqiniy menuduh Al-Kalibiy membuat cerita palsu dan bohong.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan dari buku "Rihlah Ibnu Batutah" yang saya salinkan dari Maktabah Shamelah: &lt;br /&gt;وكان بدمشق من كبار الفقهاء الحنابلة تقي الدين بن تيمية كبير الشام يتكلم في الفنون. إلا أن في عقله شيئاً. وكان أهل دمشق يعظمونه أشد التعظيم، ويعظهم على المنبر. وتكلم مرة بأمر أنكره الفقهاء، ورفعوه إلى الملك الناصر فأمر بإشخاصه إلى القاهرة، وجمع القضاة والفقهاء بمجلس الملك الناصر، وتكلم شرف الدين الزواوي المالكي وقال: إن هذا الرجل قال كذا وكذا، وعدد ما أنكر على ابن تيمية، وأحضر العقود بذلك ووضعها بين يدي قاضي القضاة وقال قاضي القضاة لابن تيمية: ما تقول ؟ قال: لا إله إلا الله فأعاد عليه فأجاب بمثل قوله. فأمر الملك الناصر بسجنه فسجن أعواماً. وصنف في السجن كتاباً في تفسير القرآن سماه البحر المحيط، في نحو أربعين مجلداً. ثم إن أمه تعرضت للملك الناصر، وشكت إليه، فأمر بإطلاقه إلى أن وقع منه مثل ذلك ثانية. &lt;br /&gt;وكنت إذ ذاك بدمشق، فحضرته يوم الجمعة وهو يعظ الناس على منبر الجامع ويذكرهم. فكان من جملة كلامه أن قال: إن الله ينزل إلى سماء الدنيا كنزولي هذا ونزل درجة من درج المنبر فعارضه فقيه مالكي يعرف بابن الزهراء، وأنكر ما تكلم به. فقامت العامة إلى هذا الفقيه وضربوه بالأيدي والنعال ضرباً كثيراً حتى سقطت عمامته، وظهر على رأسه شاشية حرير، فأنكروا عليه لباسها واحتملوه إلى دار عز الدين بن مسلم قاضي الحنابلة، لإامر بسجنه وعزره بعد ذلك. فأنكر فقهاء المالكية والشافعية ما كان من تعزيره، ورفعوا الأمر إلى ملك الأمراء سيف الدين تنكيز، وكان من خيار الأمراء وصلحائهم. فكتب إلى الملك الناصر بذلك، وكتب عقداً شرعياً على ابن تيمية بأمور منكرة، منها أن المطلق بالثلاث في كلمة واحدة لا تلزمة إلا طلقة واحدة ومنها المسافر الذي ينوي بسفره زيارة القبر الشريف زاده الله طيباً لا يقصر الصلاة، وسوى ذلك ما يشبهه، وبعث العقد إلى الملك الناصر فأمر بسجن ابن تيمية بالقلعة، فسجن بها حتى مات في السجن.&lt;br /&gt;Adapun sanggahan terhadap kebenaran cerita di atas di bawah ini:  &lt;br /&gt;فتاوى الشبكة الإسلامية&lt;br /&gt;رقم الفتوى 41473 تفنيد شبهات ودفاع عن ابن تيمية رحمه الله&lt;br /&gt;تاريخ الفتوى : 22 شوال 1424&lt;br /&gt;السؤال: السلام عليكم كان ابن تيمية يخطب الجمعة في الجامع الأموي، وقال أثناء كلامه إنّ الله ينزل إلى سماء الدنيا كنزولي هذا، ونزل من درجة المنبر... 2- ويقول ابن تيمية: (ولو قد شاء الله لاستقرّ على ظهر بعوضة فاستقلّت به بقدرته ولطف ربوبيته، فكيف على عرش عظيم!!)، هل هذا صحيح عن شيخ الإسلام؟&lt;br /&gt;الفتوى&lt;br /&gt;الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:&lt;br /&gt;فما ذكر أولاً عن شيخ الإسلام قصة مختلقة ذكرها ابن بطوطة في رحلته المشهورة، حيث زعم أنه شاهد ابن تيمية على منبر الجامع بدمشق يعظ الناس، ويشبه نزول الله إلى السماء الدنيا بنزوله من درجة المنبر، وقد قرر كثير من أهل العلم أن هذه قصة مختلقة لأن دخول ابن بطوطة إلى دمشق كان في التاسع من شهر رمضان عام ست وعشرين وسبعمائة هجرية، وكان سجن ابن تيمية في قلعة دمشق أوائل شعبان من هذا العام إلى أن توفاه الله ليلة الاثنين لعشرين من ذي القعدة عام ثمان وعشرين وسبعمائة هجرية، فكيف رآه ابن بطوطة يعظ على منبر الجامع وسمع منه، ثم إن حادثة مثل هذه الحادثة تحدث على المنبر في مكان مشهور ومن عالم مشهور ومحسود وله أعداء كثر، ويقول ما لا يسع الناس السكوت عنه، ثم ينفرد بنقل هذه الحادثة- التي تتوافر جميع أسباب نقلها وتواترها- شخص واحد كابن بطوطة أمر يدل على عدم صدق هذا النقل.&lt;br /&gt;وقد نبه الحافظ ابن حجر إلى أن ابن بطوطة -رحمه الله- لم يكتب تفصيل رحلته، وإنما الذي كتبها وجمعها أبو عبد الله بن جزي الكلبي وهو من نمَّقها، وكان الإمام البلقيني يتهمه بالكذب والوضع.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab Salaf dan Khalaf&lt;br /&gt;Definisi MAD tentang mazhab salaf dan mazhab khalaf SANGAT RANCU. Siapa itu ORANG-ORANG YANG TERDAHULU dan ORANG-ORANG YANG KEMUDIAN, tidak dijelaskan. Salah satu fungsi definisi adalah untuk membatasi, menjelaskan, mengartikan. Sementara definisi MAD justru sebaliknya; MEMBINGUNGKAN, RANCU, TIDAK MEMBATASI, TIDAK MENGARTIKAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa, Salaf berhubungan dengan orang-orang yang mendahului kita. Maka, Salif (kata tunggal) berarti pendahulu. Dan pengertian dari Salafa berarti hal-hal yang telah berlalu, jaman yang silam, atau dahulu. Dan secara syar'iy, pengertian SALAF ADALAH SEMUA ORANG YANG MENDAHULUI KITA SETELAH RASULULLAH SAW, DARI KALANGAN SHAHABAT DAN YANG MENGIKUTI MEREKA DALAM HAL AL HAQ DAN KESHALIHAN, YANG MENGIKUTI AL QUR'AN DAN AS SUNNAH YANG SHAHIHAH. MAKA MEREKA DISEBUT SALAFI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah definisi mengartikan, memberikan penjelasan dan batasan serta tidak rancu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika memang disebut "madzhab" atau "manhaj" salaf, adalah madzhab/manhaj yang sesuai dengan apa yang Rasulullah saw dan para shahabatnya berada diatasnya, mulai dari menyembah Allah dengan penuh keikhlasan dan beramal berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah dalam beribadah. Inilah Salafiyyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab/manhaj Salaf ini berlandaskan Islam yang murni dalam menyeru kepada tauhid dan keikhlasan dalam beribadah. Memanggil untuk beriman kepada Allah swt, Iman kepada Malaikat-Nya, Iman kepada kitab-kitab-Nya, Iman kepada Rasul-Nya dan Iman kepada hari Akhir, serta Iman kepada Qadar. Dengan demikian, madzhab salaf ini adalah madzhab seluruh Nabi, mulai dari Nabi Nuh sebagai Rasul pertama sampai dengan Nabi Muhammad yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir yang diutus kepada umat manusia. Maka sejarah dari Madzhab Salaf dimulai sejak dari Nabi pertama. Hal ini bahkan ada yang mengatakan bahwa dimulainya Madzhab Salaf ini dimulai dari Nabi Adam as., sebab mengusung purinitas, Islam yang murni. Dan Madzhab Salaf berupaya memahami Al Qur'an dan As Sunnah, sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan umat ini untuk melakukan hal tersebut. Madzhab ini berjalan atas perintah dari Allah dan Rasul-Nya utk mendapatkan pahala yang akan diberikan oleh Allah dan menjauhkan dari apa-apa yang telah Allah dan Rasul-Nya larang untuk dilakukan, karena takutnya pada siksa dari Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar dari madzhab Salaf adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah serta ijma'. MADZAB INI TIDAKLAH BERDASARKAN PADA IDE-IDE, KONSEP-KONSEP, ATAUPUN PENDAPAT-PENDAPAT. Maka Imam dari madzhab Salaf ini adalah para Nabi sedangkan mereka adalah imamnya para makhluq di dunia. Dan kemudian sepeninggal mereka, yang menjadi Imam adalah para shahabatnya. Kemudian yang memimpin sepeninggal mereka adalah para 'Ulama, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah dalam haditsnya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imam dari Bani Israil adalah para Nabi dan setiap nabi telah mati dibunuh, maka nabi yang lain datang setelahnya, dan tidak ada nabi lagi setelahku" (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Allah memberikan kepimpinan umat ini kepada para 'ulama. Para 'ulama adalah mereka yang telah dijelaskan dan dikenal mempunyai ilmu dan mereka menjelaskan permasalahan dien berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah. Dan mereka menjelaskan dan memecahkan berbagai permasalahan dan kesulitan-kesulitan yang mereka temui dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan MERUJUK PADA SIRAHNYA SALAFUS SHALIH DARI KALANGAN SHAHABAT DAN DARI ULAMA DARI KALANGAN TABI'IN DAN TABI'IT TABI'IN. Dan mereka adalah sebaik-baik generasi dari umat ini, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya" (HR. Bukhari no.2652 dan Muslim no.2533) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, TIDAKLAH BENAR BILA MENGATAKAN BAHWA SALAFIYYAH ADALAH SEBUAH IDE, ATAU SEBUAH PEMIKIRAN ATAU SEBUAH KONSEP YANG DATANG DARI SESEORANG, SEBAB MADZHAB SALAF TIDAKLAH DITEMUKAN ATAU DIDIRIKAN OLEH SESEORANG, TAPI DATANG DARI PARA NABI DAN RASUL, KEMUDIAN DILANJUTKAN OLEH PARA SHAHABATNYA, DAN ORANG-ORANG SETELAH MEREKA YANG BERDA'WAH KEPADA DIENULLAH BERDASARKAN ILMU. (Penjelasa dalam bahasa Inggris bisa buka http://www.troid.org)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum catatan MAD sebenarnya tidak sistematis dan belum menyimpulkan "KRITIK"nya terhadap Ibnu Taimiyah. Tetapi, memang, sebelum MAD, sudah banyak orang-orang yang mencari celah agar Imam Taimiyah bisa "dihabisi", agar ummat Islam dibuat bingung, ragu dan tidak percaya (skeptis terhadap ulama yg diakui otoritasnya). Hingga akhirnya ajaran tauhid yang benar tidak lagi menjadi akidah umat Islam. Yang demikian ini biasanya pekerjaan para orientalis dan antek-anteknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita semua, amiin.[Dammam City, 25 Muharram 1431]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-1761152079867827874?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/1761152079867827874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=1761152079867827874' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/1761152079867827874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/1761152079867827874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2010/01/tahafut-mahmudi-arif-dahlan-yang.html' title='&quot;Tahafut&quot; Mahmudi Arif Dahlan Yang Menelaah Kritis Ibnu Taimiyah'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-1014105182370182347</id><published>2009-12-24T01:18:00.001-08:00</published><updated>2009-12-24T01:18:50.469-08:00</updated><title type='text'>Ada Apa Dengan Bulan Muharram?</title><content type='html'>Bulan Muharram genap seminggu kita lalui pada hari Jum'at ini. Bulan di awal tahun Islam ini menyimpan banyak nilai ibadah dan sejarah. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini dapat membantu kita lebih menghayati ibadah-ibadah sunnah yang selayaknya kita kerjakan selama bulan Muharram yang mulia ini. Semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummat Islam di seluruh dunia memulai tahun baru setiap tanggal 1 Muharram. Tahun baru yang dikenal sebagai tahun hijriyyah ini, sebenarnya belum ditetapkan pada masa Rasulullah saw. Adalah Khalifah Umar bin Khattab ra., pernah menerima surat dari Gubernur Bashra, Abu Musa Al-Asy’ari. Pada awal suratnya berbunyi: “...menjawab surat Tuan yang tidak tertanggal...” Tulisan pendek yang tampaknya tidak begitu penting telah menarik perhatian Khalifah, yaitu perlunya umat Islam mempunyai penanggalan yang pasti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian diadakan rapat khusus untuk menentukan kapan awal tahun baru Islam yang dihadiri oleh para sahabat. Muncul beberapa usulan untuk menentukan kapan dimulainya tahun baru Islam, yaitu: pertama, dihitung dari peristiwa penyerangan Abrahah terhadap Ka’bah yang dikenal orang dengan sebutan “Amul Fiil”. Kedua, dihitung mulai turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW dalam usianya yang ke 40, beliau diangkat oleh Allah SWT sebagai Nabi dan Rasul. Ketiga, Dihitung sejak wafatnya Rasulullah SAW, karena turun wahyu terakhir yang menegaskan bahwa Islam sebagai agama sempurna. Dan kelima, dihitung sejak hijrahnya Rasullah SAW dari Makkah ke Yastrib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dirundingkan, akhirnya disepakati bahwa usul terakhir itu yang diterima. Bukan tanpa alasan mengapa hijrah Rasulullah saw dijadikan awal penanggalan tahun Islam. Hijrah merupakan salah satu puncak perjuangan untuk membebaskan kaum muslimin dari kedzaliman dan tindakan sewenang-wenang yang menimpa mereka. Dengan izin Allah swt, Rasulullah saw beserta para sahabatnya yang setia, meninggalkan tanah kelahirannya yang tercinta Makkah, pindah ke tempat yang baru Yastrib (al-Madinah al-Munawwarah). Umar bin Khattab ra. menganggap penting peristiwa tersebut sebagai pangkal tolak perjalanan sejarah Islam, dengan ucapannya: “Hijrah itu memisahkan antara yang hak dengan yang batil, karena itu jadikanlah catatan sejarah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, meskipun bulan Muharram merupakan permulaan tahun baru Hijriyah, sebenarnya hijrah Nabi SAW sendiri jatuh pada tanggal 2 Rabiul Awwal tahun ke-13 kenabian atau bertepatan dengan 14 September 622, bukan pada awal Muharram yang ketika itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622. Antara permulaan hijrah Nabi SAW dan permulaan kalender Islam terdapat jarak sekitar 62 atau 64 hari (apabila tahun kabisat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan Bulan Muharram &lt;br /&gt;Bulan Muharram merupakan bulan agung dan penuh berkah. Selain sebagai permulaan tahun hijriyyah, Muharram adalah empat bulan haram yang disebut dalam Al-Quran. Hal ini dipertegas dengan sabda nabi Muhammad saw: "Satu tahun ada 12 bulan darinya ada 4 bulan suci: 3 bulan secara berurutan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab Mudhar antara bulan Jumada dan bulan Sya'ban" (HR. Bukhari). Di antara keistimewaan dari bulan Muharram ini juga tampak dari sabda Rasulullah saw: "Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa bulan Allah yaitu bulan Muharram" (HR. Muslim). Meskipun demikian, bukan berarti bahwa selama satu bulan Muharram ini kita harus bepuasa, sebagaimana banyak riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw tidak pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Hadits ini dianggap sebagai pemotivasi untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara puasa sunnah yang dicontohkan Rasulullah saw adalah puasa di hari kesembilan (Tasu'a) dan hari ke sepuluh ('Asyura) di bulan Muharram ini. Sebuah riwayat dari Ibnu Abbas ra. beliau berkata: "Tidak pernah aku melihat Nabi Muhammad saw begitu bersemangat puasa pada suatu hari, ia utamakan dari yang lainnya kecuali hari ini hari Asyura dan bulan ini yakni bulan Ramadhan". (HR. Imam Bukhari). Pahala bagi yang berpuasa pada hari ini sebagaimana yang disabdakan nabi Muhammad saw: "Berpuasa pada hari Asyura aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dosa) tahun yang sebelumnya". (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan puasa Tasu'ah, di hari kesembilan bulan Muharram, merupakan himmah (keinginan) Rasulullah saw yang belum tercapai dilaksanakan hingga beliau wafat. Abdullah bin Abbas meriwayatkan, beliau berkata: Ketika Rasulullah saw berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan (ummatnya) untuk berpuasa pada hari itu, mereka berkata: "Wahai Rasulullah sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nasrani," lalu Rasulullah saw bersabda: "Apabila datang tahun depan, jika Allah menghendaki maka kita akan berpuasa pada hari kesembilan", Abdullah Bin Abbas berkata: "Dan tidaklah datang tahun depan hingga datangnya wafat Rasulullah." (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keistimewaan di atas, pada bulan Muharram ini pula, beberapa peristiwa bersejarah terjadi. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tanggal 10 Muharram, di antaranya Allah swt menyelamatkan Nabi Musa as., dan kaum Bani Israil dari kejaran Fir’aun sekaligus menenggelamkannya. Karena itulah, kaum Yahudi di Madinah pada masa Rasulullah saw berpuasa pada hari ini. Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Kalau begitu aku lebih berhak (mengikuti) Musa daripada kalian", beliaupun berpuasa dan memerintahkan (kaum muslimin ) untuk berpuasa." (HR. Bukhari). Pada tanggal yang sama, kapal Nabi Nuh as berlabuh di atas bukit Judi, di Armenia selatan berbatasan dengan Mesopotamia. Sebagai rasa syukur, Nabi Nuh as., pun berpuasa di hari tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita termasuk orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah saw. Dan semoga Allah swt menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa dan merahmati kepada nabi kita Muhammad saw dan kepada para keluarga serta seluruh shahabat beliau. Amiin ya Rabbal 'alamin. (dikutip dari berbagai sumber)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-1014105182370182347?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/1014105182370182347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=1014105182370182347' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/1014105182370182347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/1014105182370182347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2009/12/ada-apa-dengan-bulan-muharram.html' title='Ada Apa Dengan Bulan Muharram?'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-9206325706334992686</id><published>2009-12-20T10:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T10:55:04.727-08:00</updated><title type='text'>Jangan Jad "Ummiy"....</title><content type='html'>Bayangkan jika manusia tidak mempunyai ilmu, kita bisa seperti binatang. Lihat burung, dari zaman purba hingga era digital saat ini, burung tidak mempunyai inovasi membuat rumahnya lebih aman dan canggih. Dari dulu, rumahnya dari kumpulan jerami di dahan pohon dan tidak pernah dipikirkan membangun sarangnya dari kerangka baja atau membuatnya bertingkat. Syukru lillahi, manusia diberi karunia berupa akal sehingga kita dapat berilmu. Berikut tulisan untuk santri-santri yang pernah hidup bersama saya di pesantren, semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman sekarang, kita lebih akrab dengan artis dan gosipnya daripada mengenal orang-orang yang patut ditiru kepribadian dan keilmuannya. Seperti Imam al-Ghazali, pengarang buku yang terkenal "Ihya Ulumuddin" ini. Dalam satu perjalanannya, kereta kuda beliau diberhentikan perampok. Saat itulah semua barang perbekalannya habis ludes diambil perampok hingga buku-bukunya pun ikut dijarah dan hilanglah berbagai ilmu yang telah dipelajarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa tersebut, Muhammad bin Muhammad, nama asli Al-Ghazali, menyadari pentingnya ilmu itu dihafal di hati bukan hanya di buku. Oleh karenanya, sang "hujjatul Islam" kemudian menghafal setiap ilmu yang diperolehnya. Di akhir hayatnya (14 Jumada Akhir 505 H), beliau meninggal dengan tenang setelah wudhu di shubuh hari dan meminta sebuah kain kafan kepada saudaranya, seraya mengucapkan “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Begitulah yang diceritakan Ahmad, saudara Imam Al-Ghazali, yang termuat dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat karya Abul Faraj Ibnul Jauzi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman dulu, banyak sekali sering kita dengar kesungguhan pencari ilmu bepergian dari satu kota ke kota lain hingga dari satu negara ke negara lain. Padahal, sarana transportasi dan jalan belum secanggih saat ini. Karena pentingnya ilmu pengetahuan, Yusuf Al-Qaradhawi, ulama asal Qatar, mengibaratkan: "ummiy (buta huruf) di zaman Rasulullah saw adalah tidak bisa membaca dan menulis, tetapi ummiy di zaman sekarang adalah tidak bisa menggunakan komputer." Oleh karena itu, menurutnya, menguasai komputer dan internet, wajib hukumnya. Tentunya, tidak tanpa alasan al-Qaradhawi menghukumi demikian. Ini tidak lain karena dengan kecanggihan komputer saat ini, ilmu dengan sangat mudah dipelajari dibandingkan cara ulama dahulu yang menghabiskan banyak waktu di perjalanan dan berbagai kesulitan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, dengan kecanggihan teknologi saat ini, untuk memiliki ribuan buku tidak perlu dengan uang berjuta-juta seperti yang kita bayangkan. Sudah banyak program yang telah diciptakan untuk mengumpulkan berbagai sumber ilmu pengetahuan, baik lewat CD (compact disc) atau halaman di internet. Jika sebelumnya perpustakaan harus menyediakan rak dan tempat yang luas untuk menyimpan koleksi ribuan bukunya, kini semuanya di genggaman tangan karena tersimpan dalam satu CD atau DVD (electronic book). "Maktabah Syamilah" misalnya, mengoleksi ribuan buku sumber dan memudahkan kita untuk mempelajari khazanah ilmu agama Islam. Terlebih lagi, jika kita menginginkan untuk satu persoalan yang sedang kita cari tahu, cukup dengan mengetikkan satu suku kata atau kalimatnya, maka program akan mencarikannya untuk kita. Dan yang lebih menarik lagi, kita bisa mendapatkannya secara gratis dengan mengunduhnya (download) dari internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita diberi kesempatan menimba ilmu sedini mungkin agar tidak menyesal di kemudian hari...... (BERSAMBUNG)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-9206325706334992686?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/9206325706334992686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=9206325706334992686' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/9206325706334992686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/9206325706334992686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2009/12/jangan-jad-ummiy.html' title='Jangan Jad &quot;Ummiy&quot;....'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-6228578387183202282</id><published>2009-11-19T04:24:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T04:29:24.856-08:00</updated><title type='text'>“What Color Was the Dog”</title><content type='html'>Tulisan berjudul “What color was the dog” diilhami oleh Surah al-Kahf ayat 18. Penjelasan yang berbeda oleh dua orang ustadz dimanfaatkan oleh si kafir yang menyamar menjadi ‘muslim’ untuk mengacaukan saf ummat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sekian kelemahan orang-orang Islam (bukan agama Islam, lho!) adalah begitu mudahnya mereka dihasut, dibakar, dikompor-kompori dan akhirnya terjadilah apa yang dirancangkan lawan-lawan mereka, yaitu PERPECAHAN. Ucapan dan pendapat mereka, apalagi yang kedengaran “aneh” berbau “modern” dan “liberal” dimanfaatkan lawan dan dibesar-besarkan. Celakanya, yang bersangkutan tidak menyadari bahwa langsung atau tidak langsung mereka sedang dikerjain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah ustadh, sarjana, cendekiawan, pengusaha dsb., apalagi remaja dan angkatan muda yang semangat Islamnya menggebu-gebu, diincar oleh lawan yang bermacam-macam untuk diperalat demi “hidden agenda” mereka. Soal teknik itu mah tidak perlu disebutin lagi, apalagi yang menyusup itu intel yang memang lihai. Pakai pici, sarung, jenggot, jilbab dsb tak apa-apa. Sudah persis seperti santri atau santriwati!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa yang pernah terjadi dan mungkin saja terjadi karena sikap orang-orang Islam, khususnya tokoh-tokohnya, yang naive dan “simple-minded”, polos, tidak paham liku-liku politik dan setengahnya lagi karena gila harta, kedudukan dan puji serta sanjungan, tersimpul dalam kalimat pada alinea terakhir: The kafr went back out to his people and told them, “Let us go to fight them now. You will now find them most easy to defeat.” Benar, saf orang-orang Islam tidak lagi rapat dan lurus. Yang penting kan berdiri. Peduli amat bagaimana mereka salat dan apa dampaknya bagi pribadi dan cara hidup mereka. ”Untung saja aku salat”, kata setiap orang di antara mereka dalam hati dengan rasa bangga dan lega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang begitu mereka memahami Islam, maka jangan kaget. And that is exactly what they did.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What Color Was The Dog ?” &lt;br /&gt;Once there was a community of Muslims who were small in number yet large in iman and strong in action. So much so that, the kufaar [non-believers] could not defeat them in battle even though they had the Muslims out numbered. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One day a young man from the kufaar pretended to enter into Islam and he went to the big sheik [learned man] in one part of the city and listened to his teaching of the Quran. The subject happened to be on the chapter of the Quran called Al Kahaf (the Cave, #18]. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;When the sheik completed his talk he offered a chance for the brothers present to ask some questions. When it came the turn of the kafar, he asked the sheik the question: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sir, in the story of the ‘sleepers’ in the cave, there is mention of a dog. And I was wondering if I might inquire as to what color the dog might have been? I hope you don’t mind my asking, especially if it is something that maybe you don’t know the answer to.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immediately the sheik says to the young man, “That’s no problem at all, everyone should know that the dog was YELLOW.” The young man said, “Are you sure? I mean, could it have been another color?” “No.” replied the old sheik, “It was definitely YELLOW.” Once again the young man thanked him and when on his way. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The next night the young kafr man went to the other side of town and sat in another gathering of knowledge and they too were discussing different things about verses in the Quran. So when it came time for the teacher to give each person attending, the opportunity to ask a question, the kafr man raised his hand and then asked the question, “In the chapter about the “Cave”, the sleepers are mentioned in different numbers but each time there is a reference to their dog as being counted along with them. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now I was wondering whether or not anyone of knowledge has ever made any reference to what the color the dog might have been?” The sheik immediately said, “Yes! The dog in this story in the Quran was BLACK.” The young kafar man was pleased and continued, “Sir, are you quite certain that the color of the dog mentioned in the story was BLACK?” “Young man,” he quickly replied, “I’ll stake my reputation on that as a fact.” “Thank you, sir.” Said the young man. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The next night the kafar posing as a Muslim went back to the first sheik and then when it came time for the questions and answers he raised his hand and asked, “Sheik, may Allah reward you for all your effort and knowledge and for sharing it with us. Could you maybe remind me about the answer to the question the other night about the color of the dog in the cave in Surah Al-Kahaf?” (Holy Quran: Chapter 18). The sheik said, “There is no doubt whatsoever amongst the great scholars of Islam on this question. The dog was YELLOW. And anyone who says other than this has no knowledge.” With that the young man spoke up again and said, “Sir, what would you say if someone else said that he would stake his reputation of being a scholar in Islam on the fact that the dog is not yellow, but rather that the dog is most certainly BLACK?” The sheik quickly replied, “Then his reputation is not that of a scholar but one of a fool.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now the next time the kafr man went to the sheik that was upholding the idea of the dog being BLACK, he told the sheik that the sheik on the other side of town was calling him names and saying that he had no knowledge of Islam and that for sure that the dog was YELLOW. The old sheik became angry and shouted, “You tell him, that I said he is the one without knowledge. I’m the one who graduated from the greatest of schools of Islam, while he is but a fool.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The plan was working. Before long the community was divided into two groups. Each group was claiming that their sheik was the one with the correct answer. Fighting broke out in the streets and the Muslims began attacking each other all over the city. Everyone became involved to the extent that there was not a single person who was excluded from this terrible situation. Screaming, shouting, hitting and fighting were everywhere. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And then it happened. The kafr went back out to his people and told them, “Let us go to fight them now. You will now find them most easy to defeat.” And that is exactly what they did.• (m. fadhol arovah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-6228578387183202282?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/6228578387183202282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=6228578387183202282' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6228578387183202282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/6228578387183202282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2009/11/what-color-was-dog.html' title='“What Color Was the Dog”'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-2676803843529718792</id><published>2009-11-13T09:48:00.001-08:00</published><updated>2009-11-13T09:48:59.013-08:00</updated><title type='text'>La Tahzan....!!!</title><content type='html'>Di antara kecintaan kita sebagai manusia adalah rasa cinta yang berlebih kepada pasangan hidup (istri/suami) dan anak, selain harta perhiasan. Sifat gulw (berlebihan) ini, menurut agama dilarang, karena salah satu sifat buruk syetan.  Untuk itu, sebesar apapun yang kita cintai dan sayangi di dunia ini harus karena Allah. Jika karena Allah, apapun yang terjadi dengan yang kita cintai, tidak akan ada sikap berlebihan, baik kesenangan ketika memilikinya, maupun kesedihan saat yang kita cintai meninggalkan kita. Dan tidaklah kehidupan di dunia ini kecuali cobaan dan ujian yang hasilnya dipetik di akhirat kelak. Sedalam apa keyakinan (iman) kita akan hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata musibah, kita selalu mendefinisikannya sebagai kejadian buruk dan kesusahan seseorang. Jika kita kembalikan ke akar katanya dari bahasa Arab, musibah berasal dari kata “ashaaba”, “yushiibu”, “mushiibatan“ yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu kaum baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Jadi, mempunyai keluarga bahagia dan harta adalah musibah yang berbentuk kesenangan sekaligus sebuah fitnah (cobaan). Firman Allah swt: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yakin bahwa sesungguhnya semua yang kita peroleh selama hidup ini adalah datang dari Allah, sekaligus Dia adalah pemiliknya. Adapun kita, hakikatnya, hanya dipinjami sementara dan kelak semua akan kembali lagi kepadaNya. Untuk itulah, apapun yang terjadi dengan diri kita selama hidup di dunia ini, telah ada yang menakarnya dengan cermat; semua sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tidak akan seseorang dibebani di luar kemampuannya, sebagaimana janji Allah swt: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Beban yang telah ditentukan ini tidak hanya berupa kesusahan, tetapi juga kesenangan. Karena kasih sayang Allah-lah sehingga kita benar-benar diberikan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, kenyataaanya, kita seringkali kurang atau tidak mempercayai janji Allah di atas. Bentuk dari kekurangan iman kita adalah saat ditimpa musibah kesusahan, kita marah atau berputus asa. Sebaliknya, saat musibah kesenangan, kita lupa diri menjadi sombong, tidak ingat Allah. Dan kita lebih banyak yang gagal saat diberi cobaan berupa musibah kesenangan. Padahal sifat orang yang beriman, sebagaimana yang disifatkan Rasulullah saw: “Sungguh mengagumkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik untuknya, jika dia mendapat kebahagiaan, maka dia bersyukur, maka itu adalah sebuah kebaikan untuknya. Dan jika dia tertimpa kesengsaraan, maka dia bersabar, maka itu menjadi kebaikan untuknya.” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan mempunyai penghasilan yang cukup, dikarunia anak-cucu, tinggal di rumah yang mapan, dan seterusnya. Saat dalam kondisi seperti ini, kita merasa telah bersyukur padahal lalai berjama’ah ke masjid, bersedekah dengan uang receh yang nominalnya paling kecil, koran harian rajin dibaca tetapi al-Qur`an menjadi pajangan, dan seterusnya. Musibah kesenangan ini pula yang sering membuat kita tidak istiqamah, lupa dengan masa-masa sulit. Seperti doa yang biasa dilafadzkan, mendadak menjadi tidak terucap lagi. Akhirnya, kita menjadi takabbur, merasa tidak membutuhkan lagi kepada Dzat yang telah memberi kesenangan tersebut. Padahal, hanya orang yang bersyukur akan ditambah terus kesenangannya dan ancaman siksa yang pedih bagi yang kufur terhadap nikmat. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun musibah berupa kesusahan dan kesedihan, sebagian kita menganggap hal ini merupakan hukuman dan azab, sehingga selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh. Hingga, pada puncaknya, dapat pula membawa orang berputus asa dan melakukan hal yang dilarang agama. Padahal Allah swt berfirman: “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 39). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, musibah kesusahan hidup dalam bentuk apapun, harusnya kita sikapi dengan penuh sabar, ridha, dan syukur. Ketiga istilah ini sekaligus membagi manusia dalam menghadapi musibah menjadi tiga kelompok sesuai dengan kadar keimanannya. Kelompok yang pertama adalah orang yang sabar menghadapi musibah, yaitu orang yang melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya. Akan tetapi dia tidak larut dalam kesedihan sehingga melupakan apa yang seharusnya diperbuat untuk memperbaiki keadaannya. Semua membawanya kepada kesabaran, tidaklah sama baginya antara ada atau tidak ada musibah, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah. Tentang kesabaran ini, penyair mengatakan: “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok yang kedua, adalah orang yang ridha atas musibah yang diterimanya. Ridha atas musibah lebih tinggi derajatnya dari yang bersabar, karena ada atau tidak adanya sebuah musibah adalah sama, karena selalu disandarkan kepada ketentuan (qadha dan qadar) Allah. Walaupun demikian, dia tetap bersedih atas musibah tersebut. Ini karena orang yang ridha meyakini bahwa selama hidup tidak dapat terlepas dari qadha dan qadar Allah, baik itu kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurna ridhanya kepada Allah, dia bergerak sesuai dengan kehendak Allah. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kelompok ketiga adalah bersyukur atas musibah yang menimpanya. Ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Dia melihat bahwa di lain tempat terdapat musibah yang lebih besar darinya dan musibah dunia lebih ringan daripada musibah agama. Orang yang bersyukur atas ditimpa musibah yakin bahwa adzab dunia lebih ringan daripada adzab akhirat. Kelompok orang yang bersyukur ini melihat musibah ini adalah sebagi sarana dihapuskannya dosa-dosanya dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Rasulullah bersabda: “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Di riwayat yang lain, Rasul mengatakan: “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan (kelelahan), sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhari). Karena itulah, kadang-kadang akan bertambah iman seseorang dengan musibah yang dialami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan musibah inilah, Allah menunjukkan rasa sayangNya kepada kita sebagai makhlukNya. Bukankah seorang ibu atau bapak yang marah dan menghukum seorang anak karena kesalahannya, merupakan bukti cinta dan sayang orang tua agar anaknya terhindar dari bahaya yang lebih besar? Adapun Allah, hendaknya kita mengambil hikmah atas segala ketentuanNya. Bagi kelompok orang yang bersyukur di atas, justru bahagia jika ditimpakan kepadanya musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita harus selalu berbaik sangka terhadap apapun ketetapan Allah atas diri kita. Apa yang kita anggap terbaik belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya. Dalam ikhtiar mencari jodoh, mengais rezeki, musibah kesenangan atau kesusahan, serta lika-liku hidup di persinggahan dunia sementara ini, semuanya harus disertai sikap sabar, ridha, dan bersyukur. Semoga kita termasuk hamba Allah yang berhasil lulus dari cobaan dan ujianNya di dunia ini dengan imbalan surga di akhirat kelak, amiin.[] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Tahzan…!  &lt;br /&gt;Abu Fakhri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah punya rencana &lt;br /&gt;Tentang apa yang kita tidak ketahui&lt;br /&gt;Tiada satupun yang menimpa&lt;br /&gt;Kecuali telah tertulis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi kita membenci sesuatu &lt;br /&gt;Padahal ia amat baik &lt;br /&gt;Dan boleh jadi kita menyukai sesuatu &lt;br /&gt;Padahal ia amat buruk &lt;br /&gt;Allah mengetahui &lt;br /&gt;Sedang kita tidak mengetahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan,&lt;br /&gt;Allah tidak akan pernah membebani&lt;br /&gt;Kecuali semampu kita &lt;br /&gt;Yang paling mulia di sisiNya&lt;br /&gt;Hanya yang paling bertakwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian,&lt;br /&gt;Agar kita tidak terlalu berduka cita&lt;br /&gt;Atas apa yang telah dilalui&lt;br /&gt;Dan kita tidak terlalu bergembira&lt;br /&gt;Atas apa yang akan didapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La tahzan wa laa takhaf&lt;br /&gt;Inna Allah ma’a shabirin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedicated to Muhammad Fakhri Al-Ilmi, however you are…….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-2676803843529718792?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/2676803843529718792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=2676803843529718792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/2676803843529718792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/2676803843529718792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2009/11/la-tahzan.html' title='La Tahzan....!!!'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-5572904645207490111</id><published>2009-10-30T13:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T13:20:26.820-07:00</updated><title type='text'>Umrah (2)</title><content type='html'>Ziarah makam Nabi saw secara hukum tidak terkait dengan pelaksanaan ibadah haji ataupun umrah. Hal ini hanya dianjurkan (mustahabbah) jika memungkinkan setelah berhaji atau umrah. Saya beryukur dapat berziarah ke tempat-tempat yang disunnahkan oleh Rasulullah saw untuk dikunjungi, meski sebelum melaksanakan umrah Ramadhan yang lalu. Catatan ini meneruskan tulisan yang lalu tentang perjalanan dari Madinah al-Munawwarah ke Makkah al-Mukarramah untuk berumrah. Untuk tahaduts bi-n-ni’mah dan berharap bermanfaat bagi yang membacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai Bertalbiyah&lt;br /&gt;Karena rombongan bis kami mendatangi Madinah al-Munawwarah terlebih dahulu, maka sebagaimana ketentuan yang dicontohkan Rasulullah saw, miqat kami harus di daerah Dzu-l-Halifah atau yang terkenal dengan nama Abyar ‘Ali (Bir ‘Ali). Miqat adalah tempat di mana mu’tamirin (orang yang pergi umrah) dan yang berhaji, mulai melakukan ihram, yaitu berpakaian sesuai ketentuan sebagai muhrim (orang yang sedang ihram) dan mentaati sunnah dan larangan-larangan yang berlaku. Beberapa sunnah saat memulai ihram adalah membersihkan seluruh anggota badan dengan mandi besar dan menggunakan wewangian di anggota badan. Sementara larangan-larangan muhrim di antaranya memotong kuku, menggunakan minyak wangi ke pakaian ihram, menggunakan pakaian yang berjahit (bagi lak-laki), topi, sepatu, penutup kepala, selendang, berburu, menggunakan perhiasan, dan merusak tanaman. Sunnah dan larangan yang saya sebut di atas, sebenarnya tidak sulit dan menyusahkan kita, selama kita terbiasa taat aturan dan disiplin, semua aturan selama menjadi muhrim sangatlah ringan. Mungkin yang agak repot adalah menggunakan kain ihram yang terdiri dari dua bagian; atas dan bawah. Bagian bawah kita sarungkan menutup aurat dari pusat hingga di atas mata kaki. Kain kedua diselendangkan menutup badan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di miqat tengah malam. Sunnah berihram pun kami mulai lakukan. Di tempat miqat ini, saya terpaksa membeli sandal baru seharga 5 riyal, karena sandal yang saya gunakan semenjak dari Madinah berjahit dan tidak diperbolehkan digunakan selama ihram.Tentang sandal ini, sebenarnya yang saya bawa dari rumah sudah memenuhi syarat ihram, tapi saat shalat Ashar di Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah, “dighasab” orang. Saya jadi teringat sewaktu nyantri di Gontor yang terbiasa terjadi ghasab-menghasab; memakai sandal punya orang lain kemudian disimpan kembali ke tempat asalnya atau di sembarang tempat. Tapi, rasanya di Madinah ini, bukan sekedar dighasab, tapi diambil atau dicuri orang. Alhamdulillah, saya tidak tergoda untuk membalasnya dengan memakai punya orang lain lagi. Belum lagi niat membeli sandal baru terlaksana, Abu Muhammad, kawan dari Mesir, mempersilahkan saya memakai sandalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Makkah al-Mukkaramah&lt;br /&gt;Bis kami sempat singgah di restoran untuk makan sahur di tengah perjalanan menuju Makkah. Tapi sayang tidak sempat shalat Fajar (Shubuh) hingga tiba di Makkah sekira jam 5 pagi. Begitu turun dari bis, saya langsung telepon seorang kenalan yang biasa menyewakan kamar untuk menginap. Tetapi, saya urungkan niat menyewa kamar karena dia menawarkan harga sewa kamar dengan harga di atas harga normal. Alasannya, akhir bulan Ramadhan ini, Makkah ramai dikunjungi mu’tamirin sehingga banyak permintaan kamar. Pun, saya tidak begitu perlu-perlu sekali sewa kamar, hanya untuk menyimpan barang bawaan, karena sudah niat i’tikaf di Masjidi-l-Haram. Bersyukur, ada teman Ust. Anas di Makkah yang mau membantu saya untuk sekedar menitip tas di rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari itu, turun dari taksi yang mengantar dari rumah kawan di daerah Dzahir Al-Beik ke Haram, saya meneruskan berjalan kaki sambil tetap bertalbiyah mulai masuk masjid; “Labaikallahumma labaik labaika laa syariika lak, labaika inna-l-hamda wa-l-ni'mata laka wa-l-mulk, laa syariika lak.” Saya tidak tahu, saat berjalan menyusuri jalan yang menurun menuju pintu Masjidi-l-Haram, hati terasa berdetak lebih cepat. Alhamdulillah, akhirnya saya langkahkan kaki kanan dahulu sambil berdoa “Audzu billahi-l-‘adzim wa biwajhihi-l-karim wa shulthanihi-l-qadim mina-sy-syaithani-r-rajim, allahumma-f-tah lii abwaaba rahamtika” masuk melalui pintu masuk “Bab Fath”. Melalui pintu masuk Bab Fath, setelah beberapa langkah ke dalam Ka’bah tampak cepat terlihat. Pakaian umrah pun saya selendangkan ke punggung sebelah kiri dan membuka pungung yang kanan, ini sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah saw. Subhanallah…. Saat itu, masih serasa mimpi melihat Ka’bah al-Musyarrafah dan sekelilingnya orang-orang berthowaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thawaf dan Bid'ah&lt;br /&gt;Setelah menuruni tangga saya tiba di lokasi mathaf (lantai sekeliing Ka’bah untuk thawaf). Mengikuti sunnah, saya menuju ke Hajaru-l-Aswad untuk mengambil start berthawaf 7 putaran. Karena saat itu sangat padat oleh orang yang berthawaf, saya tidak memaksakan diri untuk menciumnya. Karena memegang dan mencium Hajaru-l-Aswad bukanlah kewajiban, hanya dianjurkan apabila tidak menyulitkan untuk mengerjakannya. Sebaliknya, tidak diperbolehkan memaksakan diri untuk mendekat dan mencium Hajaru-l-Aswad yang mengakibatkan berdesak-desakkan antara laki-laki dan perempuan atau menyakiti mu’tamir yang lain. Sebagaimana sunnahnya, saya cukup memberi isyarat dengan mengangkat tangan kanan ke arah Hajaru-l-Aswad dan mengucap takbir “Allahu Akbar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama putaran thawaf itulah, kutaib (buku catatan kecil) yang saya pegang di tangan kiri dan tertulis titipan doa keluarga dan teman-teman, saya buka untuk membaca doa terus menerus. Doa-doa dan keinginan cita-cita yang selama ini saya ulang-ulang di setiap ba’da shalat juga terus saya mohonkan kepada Allah swt. Ketika tiba di Rukun Yamani, disunnahkan untuk mengusapnya jika memungkinkan. Sebagaimana keadaan ke Hajaru-l-Aswad, jika sulit untuk itu, di Rukun Yamani cukup dilewati saja tanpa memberi isyarat dan doa apapun. Dari Rukun Yamani ke Hajaru-l-Aswad inilah Rasulullah saw mencontohkan doa khusus “Rabbana aatinaa fi-d-dunya hasanah wa fi-l-akhirati hasanah wa qinaa adzaba-n-naar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehati-hatian dalam melaksanakan tata cara dan sunnah-sunnah yang dianjurkan selama umrah bagi saya sangat penting. Mengingat umrah merupakan kesempatan langka dibandingkan dengan ibadah lain. Saat berada di kerumunan jama’ah thawaf, saya melihat tidak sedikit yang melakukan tata cara thawaf tidak sesuai dengan yang saya pelajari selama ini. Jika saya rujukkan ke tata cara umrah yang dikeluarkan Kementerian Urusan Agama Kerajaaan Saudi, banyak mu’tamir melakukan bid’ah dalam praktek umrahnya. Wallahu’alam, apakah perbedaan madzhab atau pendapat dalam ibadah seperti umrah ini ditolelir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kesalahan yang fatal terjadi adalah perbuatan meratap di kain atau tembok Ka’bah dengan mengelus-elusnya, juga ke makam Ibrahim. Ada juga yang memaksakkan diri dengan saling sikut hingga menyakiti satu sama lain demi mencium Hajaru-l-Aswad dan Rukun Yamani. Kerumunan kerap terjadi di sekitar Makam Ibrahim dan berebut masuk ke Hijr Islmail. Termasuk di antaranya yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi saw adalah doa yang dibaca bersama-sama dengan dipimpin salah seorang di antara kelompok tersebut. Selama thawaf, Rasululullah saw tidak pernah mengajarkan doa tertentu kecuali saat di Rukun Yamani hingga Hajaru-l-Aswad saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sedang berpuasa, alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan putaran thawaf hingga ketujuh kali. Saya sempat lupa hitungan putaran ke-3 atau ke-4. Dalam keadaan demikian, saya ambil jumlah putaran yang paling saya yakini ingatnya dan jika masih ragu, disunnahkan mengambil putaran yang sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat di Belakang Makam Ibrahim &amp; Sa'i&lt;br /&gt;Setelah meyelesaikan 7 kali thawaf, sunnah berikutnya adalah mendirikan shalat di belakang makam Ibrahim. Jika tidak memungkinkan, seperti keadaan sekarang yang menjadi lintasan thawaf, tidak mengapa shalat di setiap tempat dalam Masjidi-l-Haram. Pada raka’at pertama disunnahkan membaca surah Al-Kafirun setelah Al-Fatihah, dan rakaat yang kedua membaca surah Al-Ikhlash. Ada keisitmewaan tersendiri shalat di Masjidi-l-Haram ini, yaitu diganjar 100 ribu kali dari shalat di tempat lain, subhanallah. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Shalat di Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah) lebih baik 1000 kali dari tempat lain, kecuali di Masjidi-l-Haram, dan shalat di Masjidi-l-Haram lebih baik 100 kali dari masjidku ini.” (Hadits riwayat Ahmad, Abnu Khazimah dan Ibnu Habban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena puasa, selesai shalat sunnah di atas, saya tidak minum air zam-zam terlebih dahulu, tapi langsung menuju bukit Shafa untuk melakukan sa'i. Sa'i adalah melakukan perjalanan antara Shafwa ke Marwah sebanyak 7 kali. Saat berjalan ke bukit Shafwa ini diperintahkan membaca salah satu ayat Al-Qur`an “inna shafaa wa-l-marwahta min sya’airi-l-llah.” Perjalanan ini mengingatkan sejarah ditemukannya air zam-zam oleh istri Nabi Ibrahim untuk putranya Ismail yang sedang kehausan di tengah gurun pasir. Air zam-zam merupakan mukjizat dari Allah swt, air minum yang menyehatkan yang sumbernya berada di tengah gurun pasir yang tandus. Hingga saat ini sumber mata air zam-zam tersebut tidak pernah kering meski dikonsumsi terus oleh puluhan ribu orang yang setiap hari datang ke Masjidi-l-Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa'i dimulai dari bukit Shafa dengan membaca takbir terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan tahlil yang diteruskan dengan doa apa saja yang kita inginkan menyelingi tahlil hingga diulang sebanyak 3 kali. Doa ini dengan mengangkat tangan menghadap ke Ka’bah. Tidak ada perintah atau contoh dari Rasulullah saw tentang gerakan lain selain mengangkat tangan saat berdoa. Lagi-lagi, saya melihat hal-hal yang tidak saya pelajari tentang tata cara sa’i ini, seperti memberikan isyarat dengan mengangkat tangan ke arah Ka’bah atau juga ada yang melakukan shalat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun dari bukit Shafa menuju Marwah dengan berjalan kaki. Saat tiba di tanda hijau, disunnahkan untuk berlari hingga tanda hijau berikutnya. Saya tidak tahu persis berapa jarak antara Shafa dan Marwa, tapi satu kali perjalanannya cukup membuat kaki pegal, terutama setelah melakukan thawaf dan saya sedang berpuasa. Di tengah perjalanan ini pula, disunnahkan untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah swt. Sebagaimana saat thawaf sebelumnya, kesempatan ini juga saya manfaatkan sebaik-baiknya dengan memanjatkan doa untuk diri sendiri, keluarga, teman-teman, dan seluruh umat Islam. Saat tiba di Marwah, mu’tamir bertahlil dan berdoa seperti yang dilakukan di Shafa kecuali tidak mengulang membaca ayat Qur`an. Demikian hingga selesai hingga ketujuh putaran yang berakhir di Marwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, akhirnya saya dapat menyelesaikan perjalanan sa’i ini sekira 2 jam sebelum shalat Jum’at. Sekitar 30 menit saya habiskan wkatu untuk bersa’i ini. Saya bersyukur masih tahan berpuasa Ramadhan di tengah panasnya cuaca kota Makkah dan kaki terasa pegal-pegal. Setelah sa’i, diakhiri dengan pemotongan rambut sebagai tanda tahallul. Saya mengunduli habis rambut hingga bersih sebagaimana sunnah yang lebih dianjurkan, meski hanya memendekkannya pun diperbolehkan. Sementara untuk perempuan, cukup memotong sebagian ujung rambutnya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, cukup lega juga selesai semua melaksanakan umrah. Lebih bersyukur lagi, saya masih cukup kuat berpuasa Ramadhan di tengah panasnya cuaca Makkah saat itu. Tidak ada harapan yang lebih tinggi dengan umrah ini kecuali saya ingin bertaubat, memohon ampun kepada Allah swt atas dosa-dosa yang saya perbuat selama ini dan beberapa cita-cita yang ingin saya raih di sisa hidup di dunia ini. Selain doa-doa untuk keluarga, teman, dan ummat Islam umumnya, ada beberapa doa yang sering saya ulang-ulang; doa tobat, diberi kesehatan, dibukakan pintu rezeki, diberi kemudahan pergi haji dan umrah lagi, dan diberikan istri shalihah yang melahirkan keturunan shalih-shalihah. Tidak lupa juga, saya memohon kepada Allah semoga Allah swt menjaga buah hati saya, warisan termahal, satu-satunya yang memotivasi saya untuk terus menjadi lebih baik, Muhammad Fakhri Al-Ilmi..... ana musytaq jiddan.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-5572904645207490111?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/5572904645207490111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=5572904645207490111' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5572904645207490111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5572904645207490111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2009/10/umrah-2.html' title='Umrah (2)'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-5624669097287943134</id><published>2009-10-30T13:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T13:18:25.648-07:00</updated><title type='text'>Umrah.... Menggapai ampunanNya....</title><content type='html'>Pergi ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah, adalah impian setiap muslim yang ingin menyempurnakan rukun Islamnya. Selain untuk menunaikan ibadah haji, mengunjungi Ka’bah di Masjidil Haram juga untuk ibadah umrah. Umrah dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun, tetapi haji hanya pada waktu tertentu di bulan Dzulhijjah. Alhamdulillah, akhir Ramadhan yang baru berlalu kemarin, Allah swt memberikan kesempatan kepada saya untuk melaksanakan ibadah umrah. Catatan kecil pengalaman saya ini semoga menjadi tahaduts bi-n-ni’mah dan ada manfaat yang bisa diambil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Memohon) Diampuni Dosa dengan Umrah&lt;br /&gt;Dalam ajaran Islam, umrah dapat dilakukan secara bersamaan dengan haji atau secara terpisah di waktu yang berbeda. Cara yang pertama tergolong dengan apa yang dinamakan haji tamattu’ atau qiran. Sementara umrah terpisah dengan haji, dijanjikan mengapus dosa-dosa orang yang berumrah. Sabda Rasulullah: “Di antara waktu (pergi) umrah ke umrah (yang akan datang) dosa-dosa diampuni.” Hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Umat Islam sedunia pun selalu berusaha agar dapat melaksanakan umrah di bulan Ramadhan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena pahala umrah di bulan Ramadhan sangat luar biasa dan berbeda dengan waktu-waktu lain, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Umrah di bulan Ramadhan setara (pahalanya) dengan haji.” Hadits Riwayat Bukhari &amp; Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pula, semenjak menginjakkan kaki di Kerajaan Saudi beberapa bulan lalu, saya sudah berniat menyisihkan waktu di bulan Ramadhan untuk ibadah umrah. Alhamdulillah, setelah menemukan biro travel (hamlah ) yang tepat dan mendapat kepastian izin cuti dari kantor, akhirnya saya dapat berangkat umrah mulai tanggal 26 Ramadhan hingga 2 Syawwal 1430 yang baru lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana awal berangkat dari kota Dammam langsung menuju ke Makkah al-Mukarramah, ternyata dirubah oleh pihak agen perjalanan dengan ziarah ke Madinah terlebih dahulu. Begitu tiba pagi hari di kota tempat tinggal Nabi Muhammad saw tersebut, bersama seorang teman berkebangsaan Mesir, kami langsung menuju Masjid Nabawi atau yang lebih singkat disebut Haram, untuk melaksanakan shalat tahiyyatu-l-masjid. Berziarah ke Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan Rasulullah saw. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadits: “Tidaklah dipersiapkan bekal untuk berziarah kecuali ke tiga masjid; Masjidi-l-Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjid Aqsha.” Mutafaqun ‘alaihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan yang lain, shalat di Masjid Nabawi tersebut pahalanya 1000 kali lipat shalat di tempat lain. Pahala tersebut pun, tidak terbatas hanya untuk shalat fardhu, tapi juga untuk shalat sunnah apapun dijanjikan diganjar sebanyak 1000 kali lipat. Di sebuah hadits dari Abu Hurairah ra: “Shalat di masjidku ini lebih baik dari 1000 shalat dari tempat lain, kecuali di Masjidi-l-Haram.” Subhanallah, itulah sebabnya, umat Islam seluruh dunia berbondong-bondong berziarah dan memperbanyak ibadah di masjid Haram ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping masjid Nabawi, terdapat makam Rasulullah saw bersama dengan Abu Bakar As-Shidiiq ra dan Umar bin Khattab ra., dua sahabat Nabi sekaligus Khalifah pengganti kepemimpinan Rasulullah, yang pertama dan kedua. Perlu diketahui, bahwa masjid Nabawi yang didirikan Rasulullah ini tidak berdiri di atas makam beliau. Yang benar bahwa makam beliau saat ini merupakan bekas lokasi rumah Rasulullah yang ditempati bersama istrinya ‘Aisyah ra. Beberapa umat Islam keliru memahaminya, sehingga ada yang mendirikan tempat shalat di atas makam seseorang, padahal hal ini keliru dan termasuk yang dilarang oleh Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantapkan Diri Lagi&lt;br /&gt;Saya selalu merasa takut ibadah saya tidak diterima tetapi juga selalu berharap Allah menerimanya. Untuk itu, ibadah ziarah ke tempat-tempat mulia ini, saya tidak mau kehilangan momen. Saya berkonsultasi dengan alumni Gontor sekaligus ustadz saya yang sedang melanjutkan kuliah S3-nya di Jami’ah Islam Madinah (Madinah Islamic University). Maka, selesai mendirikan shalat tahiyyatu-l-masjid Haram, melalui telepon genggam saya mengontak Ust. Anas Burhanuddin, yang dulu pernah mengajar Tamrin Lughah saat saya duduk di kelas 3 Int C di Gontor 11 tahun silam. Meski tidak pernah bertemu dalam waktu yang lama, rasanya, kalau sudah menyebut alumni Gontor, kami serasa akrab dan tidak ada kesenjangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari yang sejuk di Madinah saat itu, dengan 10 riyal Saudi, saya minta sopir taksi mengantar ke Duwar Qiblatain, lokasi apartemen Ust. Anas. Alhamdulillah, pertemuan saya dengannya serasa bukan orang asing lagi. Hanya beberapa perubahan seperti jenggot yang semakin lebat dan pakaian ala Saudi yang membuat saya agak ‘pangling’ kepada ustadz yang saya kenal lulus Gontor dengan nilai mumtaz ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Ust. Anas inilah saya memantapkan lagi apa saja yang mesti dilakukan saat ziarah di Madinah dan umrah ke Makkah. Meskipun, sebelumnya, saya sudah mempelajari secara otodidak dari beberapa buku dan website internet, juga mendapat privat singkat tentang umrah dari ustadz (yang juga alumni Gontor) di Islamic Culture Centre di kota tempat saya bekerja, memperdalam lagi ke Ust. Anas sangat penting dengan silaturrahminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, setelah lebih mantap lagi, waktu shalat dzuhur, saya berangkat kembali ke Haram. Setelah shalat Dzuhur, saya menuju Taman Surga (Raudhatu-l-Jannah), untuk shalat 2 raka’at dan memperbanyak berdoa. Lokasi Raudhatu-l-Jannah ini letaknya di antara mimbar dan rumah Rasulullah (yang sekarang menjadi makam beliau), sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Di antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” Untuk mencapai Raudhatu-l-Jannah tersebut, tidaklah mudah, karena ribuan orang penuh sesak juga berniat shalat dan berdoa di tempat yang mulia tersebut. Secara fisik bangunan, makam Rasul berdiri di bangunan yang terdapat kubah hijau yang tampak berbeda dengan kubah lain di Masjid Nabawi. Melalui Bab Salam (Pintu Salam), penziarah dapat shalat di Raudhatu-l-Jannah dan melihat makam Rasulullah bersama kedua sahabat Abu Bakar dan Umar bin Kbattab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan-kesalahan Penziarah&lt;br /&gt;Apa yang saya baca di buku tentang kesalahan penziarah ke makam Rasulullah saw memang benar ada. Tidak sedikit penziarah yang melakukan hal-hal yang termasuk kategori ‘bid’ah,’ suatu perbuatan yang dilakukan yang tidak pernah diajarkan Rasulullah dan sahabat. Bid’ah ini di antaranya mengusap-usap mimbar dan makam Rasulullah, meminta syafa’at, kesembuhan penyakit, peruntungan bisnis, dsb. Saya juga melihat, beberapa orang mengeluarkan selembar kain kemudian diusapkan ke mihrab atau pagar makam Rasulullah saw, kemudian dimaksukkan ke dalam botol semacam bekas minyak rambut untuk dibawanya pulang. Hal-hal demikian ini terjadi karena kebodohan sebagian umat Islam atas apa yang dicontohkan Rasulullah saw. Padahal, saat tiba di makam Rasulullah, sunnahnya kita cukup mengucap salam “Assalamu’alaika ya Rasulullah wa rahmatullah wa barakaatuh,” kemudian mengucapkan shalawat dan mendoakan beliau, juga memberikan salam serta mendoakan Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang dimakamkan di samping Rasulullah saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum waktu shalat Ashar, saya sempatkan untuk mengunjungi perpustakaan Masjid Nabawi. Perpustakaannya tidak begitu luas, hanya memanjang semacam lorong. Meski badan cukup lemas karena masih puasa, saya masih penasaran dengan fadhilah (keistimewaan) kota Madinah. Untuk itu saya langsung menuju literatur sejarah kota Madinah al-Munawwarah sekaligus Makkah al-Mukarramah. Dari buku-buku koleksi perpustakaan, terbukti bahwa telah banyak perubahan yang terjadi di dua kota bersejarah tersebut, terutama perluasan kedua masjid Haram, di Makkah dan Madinah. Khusus di Madinah, banyak penginggalan sejarah yang patut dikunjungi, sekaligus merupakan anjuran Rasulullah saw kepada kita untuk meniziarahinya. Saya sudah niatkan berziarah ke tempat-tempat bersejarah di Madinah selepas shalat Ashar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziarah Ke Tempat Bersejarah di Kota Madinah&lt;br /&gt;Tepat selesai shalat Ashar, saya langsung menuju tempat mangkal mobil-mobil pribadi orang Arab yang siap mengantar berziarah ke seluruh tempat bersejarah di kota Madinah al-Munawwarah. Dengan 10 riyal Saudi, saya bersama 12 orang penziarah lain diangkut menggunakan kendaaran sejenis AVP di Indonesia. Sementara kawan dari Mesir, Abu Muhammad, semenjak pagi kami berpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Masjid Quba. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun Rasulullah saw bersama para sahabat saat hijrah dari Makkah. Selain mempunyai nilai sejarah yang tinggi, Rasulullah dalam haditsnya memberi pahala seperti orang yang pergi umrah bagi yang shalat di dalamnya, sebagaimana sabda beliau: “Barang siapa yang mensucikan diri di rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka baginya pahala sebesar orang yang pergi umrah.” Subhanallah, kesempatan inilah yang tidak saya sia-siakan dengan shalat tahiyyatu-l-masjid. Bayangkan, ibadah umrah dijanjikan dapat menghapus dosa-dosa selama ini. Allahumma taqabbal ‘ibaadatii… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziarah kemudian dilanjutkan ke tempat bersejarah terjadinya perang Khandak di jaman Rasulullah saw. Perang tersebut dinamai Khandak (parit) karena saat itu Rasulullah saw bersama kaum muslimin dikepung dari segala penjuru oleh pasukan musuh. Atas saran Salman Al-Farisi, salah satu sahabat Rasulullah saw, dibuatlah parit mengelilingi benteng kaum muslimin. Saat ini masih tampak tersisa beberapa bangunan tua di atas bukit termasuk tujuh masjid kuno di sekitarnya. Bangunan masjid baru yang dibangun dinamai dengan al-Masajid as-Sab’ah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas melihat satu persatu masjid kuno di dekat lokasi perang Khandak, mobil rombongan kami melanjutkan ke Masjid Qiblatain. Menurut Ust. Anas, ada dua pendapat tentang masjid ini. Masjid yang pertama yang dimaksud adalah yang lokasinya dekat apartemen beliau —oleh karenanya nama daerahnya Duwar Qiblatain— dan pendapat yang kedua adalah masjid yang saya kunjungi. Dinamakan Qiblatain (Dua Kiblat), karena di masjid inilah tempat terjadinya satu shalat menghadap ke dua kiblat; kiblat pertama menghadap Masjid Al-Quds dan kiblat kedua menghadap Ka’bah di Masjidi-l-Haram Makkah al-Mukkaramah. Hal ini pernah terjadi dalam sejarah perintah shalat, sebagaimana firman Allah SWT di surah al-Baqarah ayat 114. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi ziarah terakhir bersama rombongan adalah Jabal (Gunung) Uhud, tempat bersejarah terjadinya perang Uhud yang menewaskan para syuhada kaum muslimin, di antaranya Hamzah ra, paman Nabi Muhammad saw. Ketika melihat lokasi Jabal Uhud ini, saya mencoba membayangkan dengan penjelasan di buku Nuru-l-Yaqin. Dalam kisah Perang Uhud ini, kaum muslimin mengalami kekalahan karena ketidakdisiplinan para pemanah yang ditugaskan menetap di gunung Uhud. Para pemanah tergiur dengan barang rampasan perang kaum musyrikin yang saat itu mulai terdesak mundur dari medan peperangan, tetapi perang belum usai. Tiba-tiba pasukan berkuda Khalid bin Walid yang saat itu masih membela kaum musyrikin, berputar mengelilingi gunung dan terjepitlah pasukan muslimin diserang dari dua arah. Di perang inilah, Rasulullah saw terluka cukup serius. Perang Uhud merupakan peringatan dan bukti Allah SWT kepada siapapun kita, jika tidak berdisiplin semua rencana dapat hancur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat gunung Uhud, dimakamkan para syuhada yang jumlahnya lebih dari 70 orang. Terdapat tiga makam terpisah, salah satunya makam Hamzah ra. Sementara yang lain dimakamkan secara massal. Lokasi makam ini dipagari besi dan di bagian depan lokasi makam, berdiri papan besar berisi tulisan peringatan serta tata cara ziarah kubur yang benar dengan berbagai bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia. Hal ini penting, mengingat kekhawatiran terjerumus kepada kemusyirikan berkaitan dengan peninggalan-peninggalan bersejarah. Rasulullah saw menganjurkan mendatangi kubur syuhada Uhud untuk mengingatkan kita kepada kematian. Salah satu sunnah saat berziarah ke makam adalah mengucapkan salam: “Assalamu’alaikum ahlu-d-diyaar mina-l-mu`miniin wa-l-muslimiin, inna in syaa Allah bikum laa hiquun, nas`alulloh lanaa wa lakum al-‘afiyah.” Untuk diingat, dekat dengan makam para syuhada ini terdapat gunung kecil yang banyak disangka pengunjung sebagai Jabal Uhud, padahal menurut sopir kendaraan kami, Jabal Uhud yang tepat adalah yang lebih tinggi seberang jalan dari lokasi makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi terakhir ziarah di Madinah adalah justru yang berdekatan dengan Masjid Nabawi, yaitu pemakaman al-Baqii. Lokasi pemakaman al-Baqii ini berada di sebelah timur Masjid Nabawi. Di tempat inilah dimakamkan para sahabat Nabi, termasuk di antaranya Ummu Mukminin, istri Rasulullah saw, Aisyah ra. Sayangnya, selesai berkeliling ke beberapa lokasi ziarah di atas, tiba di Masjid Nabawi waktu menjelang adzan maghrib yang berarti waktu untuk berbuka puasa. Akhirnya, saya tidak sempat untuk mengunjungi lokasi makam tersebut, karena telah ditutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlomba-lomba Memberi Buka Puasa&lt;br /&gt;Suasana berbuka puasa di Masjid Nabawi belum pernah saya rasakan dan saksikan di tempat lain. Mungkin juga tidak ada yang menyamai dengan di Madinah ini. Tidak sedikit orang kaya di Madinah berlomba-lomba membagikan segala jenis makanan dan minuman kepada setiap orang yang djumpainya untuk berbuka puasa. Merekapun terjun langsung dengan kendaraannya, beberapa hotel pun menugaskan karyawannya membagikan bungkusan untuk berbuka. Subhanallah, betapa mereka ingin mendapatkan pahala yang dijanjikan Allah sebagaimana hadits Rasulullah saw: “Barang siapa yang memberikan makan untuk orang puasa yang berbuka, maka pahalanya seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa menguranginya sedikitpun.” Hadits riwayat Tirmidzi &amp; Ibnu Majah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilah masjid Nabawi tidak bisa saya nikmati lebih lama lagi. Karena malam setelah buka puasa 27 Ramadhan, saya harus melanjutkan untuk ibadah umrah ke Makkah al-Mukkaramah. Selain kelebihan pahala yang dijanjikan, pemerintah Kerajaan Saudi benar-benar memberikan pelayanan maksimal untuk jama’ah yang mengunjungi Masjid Nabawi. Ini terasa dari fasilitas yang lengkap dengan pemanfaatan teknologi canggih dan semua alat prasarana kualitas nomor satu dunia. Seperti yang saya baca di literatur di perpustakaan, bahan untuk kubah masjid didatangkan dari Jerman dan kubah tersebut dapat digeser dengan mesin untuk membuka ruang shalat di dalamnya. Payung-payung raksasa dengan penyangga yang kokoh di semua bagian halaman masjid pun, terlihat menggunakan bahan berkualitas tinggi dan berteknologi mukhtahir. Untuk urusan toilet, ini pun tak luput dari perhatian demi memanjakan jama’ah. Di setiap sudut, petugas kebersihan dan keamanan juga selalu dikerahkan melaksanakan tugasnya demi kenyamanan pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung &gt;&gt;&gt;&gt; Miqat di Bir Ali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-5624669097287943134?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/5624669097287943134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=5624669097287943134' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5624669097287943134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5624669097287943134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2009/10/umrah-menggapai-ampunannya.html' title='Umrah.... Menggapai ampunanNya....'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-5858364370679551867</id><published>2009-01-20T06:16:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T06:18:05.693-08:00</updated><title type='text'>32 RAHASIA ISRAEL YANG TIDAK DIPUBLIKASIKAN 32 RAHASIA ISRAEL YANG TIDAK DIPUBLIKASIKAN</title><content type='html'>(dikutip dari milis ITC/AIPI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahukah anda bahwa selain ras yahudi, dilarang membeli atau menyewa&lt;br /&gt;tanah di Israel?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Tahukah anda bahwa setiap ras yahudi yang ada di setiap Negara di&lt;br /&gt;seluruh dunia menjadi warga Negara Israel secara otomatis? Sementara&lt;br /&gt;warga Palestina yang terlahir di tanah negerinya sendiri sejak puluhan&lt;br /&gt;abad yang lalu terus diusir ke luar Palestina?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Tahukah anda bahwa penduduk Palestina yang menetap di kawasan Israel&lt;br /&gt;harus menggunakan kendaraan dengan cat dan warna khusus untuk membedakan&lt;br /&gt;antara ras yahudi dan non yahudi?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Tahukah anda bahwa Yerusalem bagian timur, Tepi Barat, Gaza dan&lt;br /&gt;dataran tinggi Golan dianggap oleh masyarakat internasional khususnya&lt;br /&gt;barat dan Amerika sebagai kawasan yang dijajah Israel dan bukan merupakan&lt;br /&gt;bagian dari Israel?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Tahukah anda bahwa Israel mengalokasikan 85% air bersih hanya untuk&lt;br /&gt;ras yahudi dan membagikan 15% sisanya untuk seluruh penduduk Palestina&lt;br /&gt;yang menetap di kawasan Israel? Secara realitas, Israel mengalokasikan&lt;br /&gt;85% air bersih hanya untuk 400 penduduk yahudi di Hebron, sementara 15%&lt;br /&gt;sisanya alokasikan kepada 120 ribu penduduk Palestina di daerah itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Tahukah anda bahwa Amerika mengalolasikan 5 milyad US$ dari&lt;br /&gt;penghasilan pajaknya setiap tahunnya untuk menyumbang Israel?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Tahukah anda bahwa Amerika terus memberikan bantuan militer kepada&lt;br /&gt;Israel sebesar 1,8 milyard US$ setiap tahunnnya? Dan tahukah anda bahwa&lt;br /&gt;jumlah sebesar itu sama dengan sumbangan Amerika kepada seluruh Negara di&lt;br /&gt;benua benua Afrika?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. Tahukah anda bahwa Israel juga menunggu bantuan perang tambahan&lt;br /&gt;sebesar 4 milyard US$ dari Amerika yang terdiri dari pesawat tempur F 16,&lt;br /&gt;Apache dan Blackhawk? Dan karena Amerika merupakan Negara koalisi utama&lt;br /&gt;bagi Israel, maka ia wajib memberikan semua fasilitas yang diminta Israel&lt;br /&gt;untuk menjamin eksistensinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9. Tahukah anda bahwa pemerintah Amerika telah menekan Konggres tentang&lt;br /&gt;pelanggaran Israel dalam penggunaan senjata yang mereka&lt;br /&gt;sumbangkan?Khususny a pada tahun 1978, 1979 dan tahun 1982 pada perang di&lt;br /&gt;Lebanon &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10. Tahukah anda bahwa Israel adalah satu-satunya Negara di Timur Tengah&lt;br /&gt;yang menolak menandatangani larangan pengembangan senjata nuklir? Dan&lt;br /&gt;menolak Tim Investigasi PBB untuk memeriksa tempat persembunyian&lt;br /&gt;nuklirnya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;11. Tahukah anda bahwa sebelum berdirinya Israel pada tahun 1948, sudah&lt;br /&gt;memiliki pabrik pengembangan senjata nuklir?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;12. Tahukah anda bahwa Perwira Tinggi Israel di Departemen Perang&lt;br /&gt;mengakui secara terang-terangan bahwa militer Israel membunuh semua&lt;br /&gt;tahanan perang Palestina tanpa proses pengadilan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;13. Tahukah anda bahwa Israel meledakan tempat kediaman Diplomat Amerika&lt;br /&gt;dan menyerang kapal perang Amerika Liberty di perairan internasional pada&lt;br /&gt;tahun 1967? Walaupun serangan itu menewaskan 33 tentara Amerika dan&lt;br /&gt;melukai 177 lainnya, tetapi Amerika sama sekali tidak melakukan tindakan&lt;br /&gt;apapun terhadap Israel? Hanya dengan alasan bahwa tentara Israel salah&lt;br /&gt;sasaran? Bayangkan kalau serangan itu dilakukan oleh Negara Islam?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14. Tahukah anda bahwa Israel merupakan Negara yang paling banyak&lt;br /&gt;mengabaikan resolusi DK PBB? Jumlah resolusi yang diabaikan oleh Israel&lt;br /&gt;mencapai 69 buah. Bayangkan seandainya satu Negara Islam mengabaikan 1&lt;br /&gt;resolusi PBB, apa yang akan dilakukan oleh Amerika?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;15. Tahukah anda bahwa pemerintah Israel menggunakan system politik&lt;br /&gt;konservasi terhadap identitas ras yahudi agar tetap menjadi warga Negara&lt;br /&gt;itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;16. Tahukah anda bahwa Mahkamah Agung Israel telah menetapkan Perdana&lt;br /&gt;Menteri Ariel Sharon sebagai tersangka dalam kasus pembantaian Shabra dan&lt;br /&gt;Syatilla pada 16 September 1982 di Lebanon yang menewaskan lebih dari&lt;br /&gt;1000 orang Palestina terdiri dari anak-anak, wanita dan orang tua?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;17. Tahukah anda bahwa pada tanggal 20 Mei 1990, seorang tentara Israel&lt;br /&gt;menyuruh para buruh Palestina yang sedang menunggu bus di sebuah halte&lt;br /&gt;untuk duduk berbaris di atas tanah, setelah itu ia menembaki mereka dari&lt;br /&gt;jarah setengah meter? Tahu pulakah anda bahwa pemerintah Israel&lt;br /&gt;menyatakan tentara itu tidak bersalah dan bahkan mendapat penghargaan&lt;br /&gt;khusus dari pemerintah Israel?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;18. Tahukah anda bahwa sampai tahun 1988, semua pabrik dan kantor di&lt;br /&gt;Israel hanya boleh menempelkan keterangan lowongan kerja dengan&lt;br /&gt;perkataan: â€œlowongan kerja hanya untuk ras yahudiâ€ ,&lt;br /&gt;â€œdicari seorang karyawan dengan syarat ras yahudiâ€ ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;19. Tahukah anda bahwa Departmen Luar Negeri Israel membayar 6 peruhaan&lt;br /&gt;media Amerika untuk memunculkan image positif Israel kepada masyarakat&lt;br /&gt;Amerika dan Eropa?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;20. Tahukah anda bahwa Sharon mengajak Partai radikal Molodeit untuk&lt;br /&gt;menjadi koalisi utama dalam kabinetnya? Padahal partai itu beridiologi&lt;br /&gt;radikal dengan persepsi pokok membesihkan Israel dari non ras yahudi dan&lt;br /&gt;pengusiran secara paksa seluruh warga Palestina dari Israel?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;21. Tahukah anda bahwa Perdana Menteri Israel pertama David ben Gorion&lt;br /&gt;sepakat dengan langkah pengusiran secara paksa seluruh ras arab dari&lt;br /&gt;Israel?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;22. Tahukah anda bahwa Rahib besar di Israel Ofadya Yosef yang juga&lt;br /&gt;pendiri Partai Syas (partai terbesar ketiga di Israel) mendukung aksi&lt;br /&gt;militer Israel untuk menghabisi warga Palestina? bahkan ia mengeluarkan&lt;br /&gt;fatwa radikal pada hari raya paskah yang lalu dalam wawancaranya di&lt;br /&gt;sebuah jaringan radio terbesar di Israel: â€œTuhan akan membalas&lt;br /&gt;semua kejahatan warga arab, Tuhan akan menghancurkan keturunannya,&lt;br /&gt;menghabisinya dan menghancurkan tanahnya dan Tuhan akan membalas mereka&lt;br /&gt;dengan siksaan yang pedih. Karenanya dilarang semua ras yahudi untuk&lt;br /&gt;memberikan rasa kasih saying kepada warga arab, dan wajib bagi setiap&lt;br /&gt;yahudi untuk menembakan rudal dan senjatanya ke arah dada dan kepala&lt;br /&gt;setiap warga arab untuk menghabisinya, karena mereka itu makhluq yang&lt;br /&gt;jahat dan terkutukâ€ â€¦â€¦&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;23. Tahukah anda bahwa pengungsi Palestina terbesar di dunia?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;24. Tahukah anda bahwa penduduk Kristen Palestina bersatu dengan penduduk&lt;br /&gt;Palestina muslim untuk melawan penjajah yahudi?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;25. Tahukah anda, walaupun Mahkamah Agung Israel sudah mengeluarkan&lt;br /&gt;keputusan pelarangan penyiksaan dalam proses pemeriksaan, tetapi Shinbet&lt;br /&gt;(Badan Intelejen Israel) tetap terus menyiksa setiap pejuang Palestina&lt;br /&gt;dalam proses pemeriksaannya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;26. Tahukah anda bahwa walaupun Israel terus mengganggu proses belajar&lt;br /&gt;mengajar dan merusak seluruh sarana dan prasara pendidikan penduduk&lt;br /&gt;Palestina, tetapi penduduk Palestina tetap menjadi Negara terbesar di&lt;br /&gt;dunia yang penduduknya bergelar doctor (S3)? Hal ini apabila dilihat dari&lt;br /&gt;jumlah prosentase penduduknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;27. Tahukah anda bahwa setiap manusia mempunyai hak yang sama yang&lt;br /&gt;dijamin oleh undang-undang HAM internasional yang diterbitkan pada&lt;br /&gt;tanggal 10 Desember 1948? Tetapi tahukah anda bahwa undang-undang itu&lt;br /&gt;sama sekali tidak berlaku bagi penduduk Palestina? karena dihalangi&lt;br /&gt;dengan ditandatanganinya kesepatakan OSLO?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;28. Tahukah anda bahwa mayoritas buku sejarah di dunia mengatakan&lt;br /&gt;Negara-negara arab yang menyerang Israel terlebih dahulu pada perang&lt;br /&gt;tahun 1967? Padahal faktanya, justru Israel yang menyerang Negara-negara&lt;br /&gt;arab terlebih dahulu kemudian mereka merebut kota Al Quds dan Tepi Barat?&lt;br /&gt;Tetapi mereka mengatakan bahwa serangannya itu adalah serangan untuk&lt;br /&gt;menjaga diri dan antisipasi?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;29. Tahukah anda bahwa Israel sebagai Negara penjajah sama sekali tidak&lt;br /&gt;terikat dengan konsvensi Jenewa untuk menjaga hak-hak dan keselamatan&lt;br /&gt;warga sipil Palestina?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;30. Tahukah anda bahwa perintah Perdana Menteri Israel Ariel Sharon sudah&lt;br /&gt;tidak dituruti lagi oleh militer Israel? Salah satu contohnya adalah&lt;br /&gt;ketika ia melarang militer Israel untuk melakukan genjatan senjata dan&lt;br /&gt;dilarang menembak, tetapi militer Israel terus menyerang, menembaki&lt;br /&gt;rakyat sipil Palestina dan menghancurkan tempat tinggal mereka. Insiden&lt;br /&gt;paling memilukan andalah pembantaian tiga wanita Palestina, padahal&lt;br /&gt;mereka sedang berada dalam tenda pengungsiannya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;31. Tahukah anda bahwa Israel terus melakukan berbagai usaha untuk&lt;br /&gt;menghancurkan Masjid Al Aqsha dan Qubah Shakhrah sejak 50 tahun yang lalu&lt;br /&gt;dengan menggali bawah tanah masjid tersebut agar runtuh dengan&lt;br /&gt;sendirinya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;32. Tahukah anda bahwa Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela mengatakan&lt;br /&gt;bahwa Israel adalah Negara rasisme dan apartheid seperti kondisi Afrika&lt;br /&gt;Selatan sebelum ia pimpin?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-5858364370679551867?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/5858364370679551867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=5858364370679551867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5858364370679551867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/5858364370679551867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2009/01/32-rahasia-israel-yang-tidak.html' title='32 RAHASIA ISRAEL YANG TIDAK DIPUBLIKASIKAN 32 RAHASIA ISRAEL YANG TIDAK DIPUBLIKASIKAN'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-3995667673836991627</id><published>2009-01-15T06:59:00.001-08:00</published><updated>2009-01-15T06:59:55.871-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Yahudi Mengincar Bocah-Bocah Palestina?</title><content type='html'>Oleh Prince of Jihad &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang diketahui, setelah lewat dua minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 900 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak. Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Khaled Misyal, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz Alquran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan Alquran. Tak ada main video-game atau mainan-mainan bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.(Prince Muhammad/eramuslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8738417815475296584-3995667673836991627?l=www.abufakhri.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abufakhri.com/feeds/3995667673836991627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8738417815475296584&amp;postID=3995667673836991627' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3995667673836991627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8738417815475296584/posts/default/3995667673836991627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abufakhri.com/2009/01/mengapa-yahudi-mengincar-bocah-bocah.html' title='Mengapa Yahudi Mengincar Bocah-Bocah Palestina?'/><author><name>Tentang Pendidikan Ummat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/--5Q9p-6c-XU/ToPqe8nL6-I/AAAAAAAAAUM/ddDjMN4GLWs/s220/Photo0566.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8738417815475296584.post-3922104254647502230</id><published>2009-01-08T05:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T05:33:41.858-08:00</updated><title type='text'>"Ngapain Kita Mikirin Palestina?"</title><content type='html'>Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1945&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa&lt;br /&gt;dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu&lt;br /&gt;masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan&lt;br /&gt;Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:&lt;br /&gt;"menyerah, atau hancur".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah&lt;br /&gt;para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari&lt;br /&gt;bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak&lt;br /&gt;rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan,&lt;br /&gt;bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban".&lt;br /&gt;Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan&lt;br /&gt;tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat&lt;br /&gt;perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak&lt;br /&gt;yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah,&lt;br /&gt;Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saudara-saudara rakyat Surabaya.&lt;br /&gt;Bersiaplah! Keadaan genting.&lt;br /&gt;Tetapi saya peringatkan sekali lagi.&lt;br /&gt;Jangan mulai menembak.&lt;br /&gt;Baru kalau kita ditembak.&lt;br /&gt;Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.&lt;br /&gt;Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.&lt;br /&gt;Dan untuk kita saudara-saudara.&lt;br /&gt;Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.&lt;br /&gt;Semboyan kita tetap.&lt;br /&gt;Merdeka atau mati.&lt;br /&gt;Dan kita yakin, Saudara-saudara.&lt;br /&gt;Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.&lt;br /&gt;Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.&lt;br /&gt;Percayalah Saudara-saudara!&lt;br /&gt;Tuhan akan melindungi kita sekalian.&lt;br /&gt;Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai&lt;br /&gt;tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini&lt;br /&gt;tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza, peralihan tahun 2008-2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi&lt;br /&gt;akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi&lt;br /&gt;ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang&lt;br /&gt;dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,&lt;br /&gt;pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman&lt;br /&gt;Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan&lt;br /&gt;Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan memakan&lt;br /&gt;waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan&lt;br /&gt;ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis&lt;br /&gt;pun kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga&lt;br /&gt;Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat&lt;br /&gt;kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya sakit saat ada yang berkata: "Ngapain kita ngurusin&lt;br /&gt;Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,&lt;br /&gt;Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan&lt;br /&gt;Indonesia di radio internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan&lt;br /&gt;kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang&lt;br /&gt;Dasar 1945 mendekl
